Dasar argumentasi berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara Syirik part 3

Duniaekspress.com. (16/10/2018).

Baca sebelumnya, Dasar argumentasi berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara Syirik part 2

Jenis Ketiga: Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwasanya hujah Allah atas hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan taklif hanya tegak dengan diutusnya para rasul, dan bahwasanya hujah hamba tidak terputus kecuali jika mereka telah mengetahui ajaran yang dibawa oleh para rasul.
Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah :
[1]- Firman Allah SWT: (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ (4): 165)
Konteks dan zhahir ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukallaf tidak dituntut untuk melaksanakan suatu perintah syariat kecuali setelah ia mengetahui perintah syariat tersebut. Jika ia tidak mengetahui perintah syariat tersebut, maka ia mendapat udzur jika tidak mengerjakannya.
Hal itu karena ayat tersebut menjelaskan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah memutus udzur manusia dengan kebodohan mereka saat mereka dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas perbuatan mereka selama di dunia. Seandainya tidak diutus para rasul, niscaya manusia bisa membela diri mereka di hadapan Allah dengan kebodohan mereka, dan argumentasi mereka tersebut akan tepat.

Imam Al-Khazin menafsirkan ayat di atas dengan menulis, “Maknanya adalah, agar manusia tidak beragumentasi terhadap Allah dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan alasan tidak adanya para rasul. Mereka mengatakan ‘Engkau tidak pernah mengutus seorang rasul pun dan Engkau menurunkan sebuah kitab suci pun. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya jika Allah tidak mengutus para rasul, niscaya manusia memiliki argumentasi terhadap Allah dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan.”37 Imam Ibnul Jauzi menulis, “Agar mereka tidak berargumentasi dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan ketiadaan para rasul. Sebab, hal-hal ini (tauhid dan ketaatan) hanya wajib dengan adanya (dakwah) para rasul.”38 Imam Ibnu Rizqullah Al-Hambali berkata, “Firman Allah ini merupakan dalil bahwasanya kewajiban untuk beriman dan melakukan ketaatan itu tergantung dengan diutusnya para rasul.”39 Menjelaskan pelajaran-pelajaran dari ayat ini, Syaikh Muhammad Shalih AlUtsaimin berkata, “Pelajaran yang sangat agung, yaitu berlakunya udzur dengan kebodohan sampai dalam perkara ushuluddien. Sebab, para rasul datang dengan membawa perkara-perkara ushul dan perkara-perkara furu’. Jika seorang manusia dalam keadaan bodoh dan tidak datang kepadanya seorang rasul, niscaya ia memiliki argumentasi terhadap Allah.”40 Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa seseorang yang belum sampai kepadanya ilmu tentang perintah dan larangan syariat, maka orang tersebut tidak terkena taklif syar’i, baik dalam perkara ushuluddien maupun furu’ud dien. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat yang seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an, dimana Allah menjelaskan bahwasanya Allah tidak menghukum seorang pun sampai datang kepadanya ajaran Rasul. Barangsiapa mengetahui bahwa Muhammad adalah rasul Allah, lalu ia mengimaninya, namun ia tidak mengetahui banyak ajaran yang beliau bawa, niscaya Allah tidak akan mengazabnya atas ketidak tahuannya terhadap ajaran beliau yang belum sampai kepadanya. Jika Allah tidak mengazabnya karena ia tidak mengimani beliau kecuali setelah berita tentang beliau sampai kepadanya, maka tentu Allah lebih layak dan lebih utama tidak akan mengazabnya karena sebagian syariat beliau kecuali setelah sebagian syariat tersebut sampai kepadanya. Ini merupakan sunnah Rasulullah SAW yang sangat terkenal tentang orang-orang yang semisal itu.”41

[2]- Firman Allah SWT: “Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.
(Kami menurunkan Al-Qur’an itu) agar kalian tidak mengatakan, «Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan [yaitu Yahudi dan Nasrani] saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. Atau agar kalian tidak mengatakan, «Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.» Sesungguhnya telah datang kepada kalian keterangan yang nyata dari Rabb kalian, petunjuk,, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orangorang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling. (QS. Al-An’am [6]: 155-157)
Seperti ayat sebelumnya, konteks dan zhahir ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak terkena taklif syar’i (perintah dan larangan syariat) sampai ia mengetahui taklif tersebut. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa diantara hikmah diutusnya Rasulullah SAW dan diturunkannya Al-Qur’an adalah memutus argumentasi orang-orang kafir Arab bahwa belum datang kepada mereka seorang rasul yang menyampaikan syariat Allah, dan bahwasanya mereka tidak mengetahui terhadap perkara-perkara yang Allah cintai (tauhid dan ketaatan) maupun perkara-perkara yang Allah benci (kesyirikan dan kemaksiatan). Untuk memutus argumentasi mereka tersebut, Allah mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al-Qur’an.

[3]- Firman Allah SWT: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan (syari›at Kami) kepada kalian ketika terputus pengiriman rasul-rasul, agar kalian tidak mengatakan, «Tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.» Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah [5]: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa taklif syariat, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien, adalah dengan wahyu. Konteks ayat ini berbicara tentang penegakan hujah kepada Ahlul Kitab dan memutus argumentasi mereka di zaman Nabi SAW. Kitab suci Ahlul Kitab pada zaman itu telah mengalami penambahan, pengurangan, dan penyelewengan di tangan para pendeta dan rahib yang jahat. Mereka meyakini keyakinan-keyakinan batil (seperti trinitas) yang menyelisihi tauhid. Namun mereka meyakini berada di atas kebenaran. Pada saat itu para rasul sudah tidak diutus lagi, sehingga mereka berada dalam masa keterputusan (kekosongan rasul) dan kebodohan.
Agar mereka tidak beargumentasi dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan argument keterputusan para rasul, Allah memutus peluang argumentasi tersebut dengan mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al-Qur’an, yang menjelaskan dien yang haq kepada Ahlul Kitab.
[4]- Hadits Aswad bin Sari’ RA: Dari Aswad bin Sari’ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ada empat golongan yang akan berargumentasi (membela diri) pada hari kiamat; orang yang tuli tak bisa mendengar apa-apa, orang yang dungu, orang tua yang pikun dan orang yang mati pada zaman fatrah.
Adapun orang yang tuli akan berkata: “Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun aku tidak bisa mendengar apa-apa.” Orang yang dungu berkata: Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun anak-anak kecil melempariku dengan kotoran unta (karena kebodohanku).” Orang tua yang pikun berkata: “Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun aku tidak bisa memahami apa-apa.” Sedangkan orang yang mati pada zaman fatrah berkata; “Wahai Rabbku, tidak ada seorang pun rasul-Mu yang datang kepadaku.”
Maka Allah mengambil perjanjian dari mereka bahwa mereka akan menaati rasul-Nya. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang rasul yang memerintahkan kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam neraka!”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kemudian bersabda, “Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya mereka mau masuk ke dalam neraka tersebut, niscaya api neraka akan menjadi dingin dan membawa selamat bagi mereka.” (HR. Ahmad no. 16301, Abu Ya’la no. 9597, Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 41, Ibnu Hibban no. 7357, Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifatu Shahabah no. 900, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir no. 841, dan Ad-Dhiya’ al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 1456)
Hadits Aswad bin Sari’ dinyatakan shahih oleh imam Abdul Haq al-Isybili, AlBaihaqi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dan lain-lain.
Hadits ini diriwayatkan dengan sanad lain dari Qatadah dari Al-Hasan alBashri dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu seperti hadits di atas, hanya saja di akhir hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa memasuki neraka tersebut niscaya neraka tersebut terasa dingin dan membawa keselamatan bagi dirinya. Adapun barangsiapa tidak mau memasuki neraka tersebut, niscaya ia akan diseret ke dalam neraka.” (HR. Ahmad no. 16302, Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 42, Al-Bazzar dalam Al-Musnad no. 2175, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 404, Abu Nu’aim alAsbahani dalam Akhbar Ashbahan 2/255, Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqad dan AdDhiya’ al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 1455. Imam Al-Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan seluruh perawinya adalah perawi kitab ashshahih. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Sanadnya hasan).
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ishaq bin Rahawaih dari Mu’adz bin Hisyam, dan ia diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dalam kitab Al-I’tiqad dari hadits Hambal bin Ishaq dari Ali bin Abdullah al-Madini dari jalur tersebut. Imam Al-Baihaqi berkata: Ini adalah sanad yang shahih.
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah berkata: Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Empat golongan yang masing-masing mereka akan menyampaikan alasan dan udzur kepada Allah pada hari kiamat; orang yang meninggal pada zaman fatrah, orang yang mendapati Islam saat ia telah pikun, orang yang tuli lagi bisu, dan orang yang idiot. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang malaikat sebagai rasul dan Allah berfirman: “Ikutilah rasul ini!” Maka rasul itu datang kepada mereka, maka Allah menyalakan api neraka untuk mereka, lalu rasul itu berkata kepada mereka: “Masuklah kalian ke dalam neraka ini!” Maka barangsiapa memasuki neraka tersebut niscaya neraka tersebut terasa dingin dan membawa keselamatan bagi dirinya. Adapun barangsiapa tidak mau memasuki neraka tersebut, niscaya telah pastilah adzah Allah terhadap dirinya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah no. 404 dan Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah. Syaikh AlAlbani dalam Zhilal al-Jannah Takhrij As-Sunnah menshahihkannya)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkannya dari hadits Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah secara mauquf. Abu Hurairah kemudian berkata: “Jika kalian mau, bacalah firman Allah Dan tidaklah Kami mengazab seorang pun sampai kami mengutus seorang rasul.”
Demikian juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ma’mar dari Abdullah bin Thawus dari Thawus dari Abu Hurairah secara marfu’.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Telah disebutkan dalam beberapa hadits bahwa mereka pada hari kiamat di pelataran kiamat akan diperintah dan dilarang; barangsiapa taat niscaya akan masuk surga dan barangsiapa membangkang niscaya akan masuk neraka. Inilah pendapat yang disebutkan oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari dari ahlus sunnah wal jama’ah.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 24/372-373)
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Hadits-hadits ini, sebagiannya menguatkan sebagian lainnya, dan ia dikuatkan oleh pokok-pokok syariat dan kaedah-kaedah syariat. Berpendapat dengan kandungan maknanya merupakan madzhab generasi salaf dan ahlus sunnah, sebagaimana dikutip dari mereka oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam kitabnya, Maqalat Al-Islamiyyin, dan lainnya. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain, hlm. 436, Beirut: Darul Khair, cet. 1, 1419 H, tahqiq: Wahbah az-Zuhaili)
Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi berkata, “Sesungguhnya hadits-hadits bab ini, di antaranya ada yang shahih sebagaimana telah ditegaskan oleh lebih dari seorang ulama, dan di antaranya ada yang hasan, serta di antaranya ada yang dha’if namun menjadi kuat karena adanya hadits yang shahih dan hasan tersebut. Jika hadits-hadits sebuah bab saling menguatkan seperti ini, niscaya ia member faedah sebagai hujjah menurut ulama yang mengkajinya.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, 5/35, Kairo: Dar at-Taufiqiyah, cet. 1, 2009 M)
Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang belum sampai kepadanya hujah risalah karena sebab kebodohan, yang dilator belakangi oleh tiadanya ilmu tentang ajaran Rasul, atau karena ilmu tentang ajaran rasul tersebut samar (tersembunyi), niscaya orang tersebut tidak akan diazab. Ia akan mendapat udzur di akhirat, bersama orang-orang yang mendapat udzur karena sebab-sebab lainnya.
Hadits ini menyejajarkan orang yang bodoh dengan orang yang bisu, orang yang idiot, dan orang gila. Keempatnya memiliki sisi persamaan, yaitu tidak memiliki sarana (kemampuan untuk) memahami. Ketiadaan sarana memahami inilah yang menghalangi taklif syar’i atas diri mereka, meskipun tingkat tidak berlakunya taklif syar’i tersebut berbeda-beda di antara mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, status orang yang bodoh adalah sama dengan status mereka.

 

Bersambung … 

Catatan :

37 . Lubabut Ta’wil, I/624, karya Al-Khazin.

38 . Zadul Masir, II/256.

39 . Rumuzul Kunuz, I/668.

40 . Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (surat An-Nisa’), II/485, karya Syaikh Utsaimin.

41 . Majmu’ Fatawa, XXII/41.

 

Baca juga, DASAR ARGUMENTASI BERLAKUNYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN DALAM PERKARA SYIRIK