Duniaekspress.com (16/10/2018)- Kata aqidah sejatinya berasal dari kata Aqdun yang terdiri dari huruf dasar (Tsulȃtsi Mujarrad) Al ‘Ain – Al Qȃf – Ad Dȃl; yang berarti ikatan. Dari kata inilah lahir kata akad nikah dan akad jual-beli; yang bermakna kesepakatan yang mengingkat pihak-pihak terkait. Dalam akad nikah misalnya, maka akad tersebut adalah kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak dalam peralihan hak perwalian. Atau dalam akad jual-beli, maka akad ini adalah kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak dalam peralihan kepemilikan barang dari penjual ke pembeli.

Jika ada yang mengatakan, “Saya berakidah dengan aqidah ini” maka secara bahasa maksudnya adalah saya mengikat hati saya dengan hal tersebut.

Kalau dikaitkan kata aqidah dengan makna istilah, maka kata aqidah berarti keyakinan yang mengikat hati seseorang. Dan jika dikatakan, “Tokoh itu berakidahkan dengan akidah kelompok A”, maka yang dimaksud adalah tokoh tersebut berkeyakinan dengan ushul atau pokok-pokok keyakinan kelompok A tadi.

Jika kajian aqidah kita perluas maka yang dimaksud dengan aqidah islamiyah adalah keyakinan yang terikat dengan informasi wahyu baik wahyu tersebut dalam bentuk firman Allah maupun sabda Nabi; karena keduanya adalah wahyu dan setara dalam posisi kewahyuannya bahwa keduanya adalah wahyu.

Dan jika diperluas lagi, maka aqidah islamiyah tidak hanya mencakupi masalah Ilahiyah dan permasalahan-permasalahan yang terkait dengannya saja, namun aqidah islamiyah itu lebih luas lagi, yaitu mencakup keyakinan seorang muslim terkait manusia, alam semesta, baik yang tampak/fisik maupun yang tidak tampak/metafisik, segala benda yang ada di jagad raya dan segala fenomena benda-benda itu, dan apa saja yang terfikir oleh manusia; jika semua itu dimaknai dan diikat dengan informasi wahyu maka itulah akidah islamiyah secara luas.

Baca Juga:

APA YANG ENGKAU CARI WAHAI HARAKI ?

Misalnya dalam kasus gempa, seseorang muslim yang bertaqwa pasti tidak hanya berkeyakinan bahwa gempa adalah aktivitas alam semata, namun lebih dari itu. Bahkan akan menafsirkannya dengan teguran Allah atau justru salah satu proses dari proses-proses akhir zaman, sebab ada informasi wahyu yang menyatakan demikian.

Kalaulah gempa hanya peristiwa alam yang biasa dibahasakan para saintis dengan bergesernya lempengan bumi maka pertanyaannya adalah siapa yang menggerakkan lempengan bumi itu hingga berhimpitan? Orang arab quraisy yang lurus fitrahnya saja menyakini bahwa alam semesta ini diatur oleh Allah seperti yang Allah informasikan dalam surat Yunus ayat 31. Artinya, tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas ijin Allah, termasuk berhimpitannya lempengen bumi pada fenomena gempa, sebagaimana firmanNya :

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Ath Thaghȃbûn/64: 11).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala memberikan informasi penting :

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S. Al Hadîd/57: 22).
****

Aqidah adalah keyakinan yang mengikat hati, karenanya ia bukan masalah yang terkait langsung dengan amal. Namun, karena akidah adalah urusan keyakinan, maka perlu digarsi bawahi : seseorang akan berbuat sesuai dengan apa yang diyakini. Maka amal seseorang akan bergantung langsung dengan apa yang diyakini atau akidah tadi, maka rusaknya amal/perbuatan dikarenakan rusaknya akidah/keyakinan. Berdasarkan hal keterangan tadi, maka yang pertama sekali yang ahrus diperbaiki adalah keyakinan agar keyakinan tersebut lurus sesuai dengan fitrahnya. [ayah_shalih]