Duniaekspress.com (19/10/2018)- Pimpinan keamanan tingkat tinggi di Kandahar Afghanistan tewas dalam serangan oleh pejuang Thaliban, tewasnya Abdul Raziq menyebabkan kekosongan kekuasaan di provinsi penting menjelang pemilihan hari Sabtu mendatang.

Al-Jazeera mengabarkan pada hari Kamis (18/10/2018), Jenderal Abdul Raziq, salah satu pejabat keamanan paling berpengaruh di Afghanistan, tewas bersama dengan kepala intelijen Kandahar, Abdul Mohmin, ketika seorang pengawalnya melepaskan tembakan setelah pertemuan di provinsi selatan.

Wakil gubernur provinsi Agha Lala Dastageri mengatakan, Gubernur Kandahar Zalmai Wesa juga tewas karena luka-lukanya setelah dibawa ke rumah sakit setempat. tetapi para pejabat keamanan di ibu kota mempertahankan pendapatnya Wesa terluka dan selamat.

Baca Juga:

SERANGAN THALIBAN DI HELMAND TEWASKAN SEORANG CALEG

RINGKASAN HASIL YANG DIPEROLEH MUJAHIDIN TALIBAN SELAMA SEPTEMBER DALAM MENGUSIR PENJAJAHAN

Menurut saksi mata dilapangan, penyerangan dimulai ketika para delegasi baru saja berkumpul untuk foto bersama dan seketika terdengar suara rentetan tembakan di dalam kompleks gubernur provinsi di Kota Kandahar.

“Semua orang tersebar, dan para peserta AS bergegas menuju helikopter terdekat mereka. Namun terjadi baku tembak antara anggota servis AS dan polisi Afghanistan ketika mereka mencoba menghentikan delegasi AS dari mencapai helikopter mereka,” katanya juru kamera televisi AP.

Sementara itu juru bicara NATO mengatakan, tiga orang Amerika, seorang anggota layanan AS, kontraktor koalisi dan seorang warga sipil Amerika terluka dan dalam kondisi stabil.

Jenderal Scott Miller, komandan tertinggi AS di Afghanistan yang telah berada di pertemuan dengan Abdul Raziq beberapa saat sebelumnya tidak terluka dalam serangan itu.

Dalam klaim tanggung jawab mereka, Thaliban mengatakan mereka telah menargetkan Miller dan Raziq, yang memiliki reputasi yang buruk sebagai lawan yang kejam dari kelompok bersenjata itu.

Pembunuhan Abdul Raziq merupakan pukulan besar bagi pemerintah Afghanistan menjelang pemilihan parlemen pada 20 Oktober, yang telah berikrar Taliban untuk mengganggu.