Sebagai aktivis jangan pernah alergi bicara tentang politik

Duniaekspress.com. (20/10/2018). Syaikh Abu Mush’ab As Suri dalam tulisannya menjelaskan ada 5 medan perlawanan (Muqawwamah) yang harus dilakukan oleh aktivis untuk memenangkan agama ini melawan orang” kuffar wal munafikin, yaitu :

1. Perlawanan Militer.
2. Perlawanan Media.
3. Perlawanan Dakwah.
4. Perlawanan Politik.
5. Perlawanan Peradaban.

Tak dipungkiri khusus untuk perlawanan politik para aktivis berbeda pendapat tentang teknis untuk jenis perlawanan ini :

Intra Parlementer yaitu ber-ijtihad untuk melakukan perlawanan politik dengan cara masuk ke dalam sistem itu sendiri dengan cara mengikuti seluruh mekanisme sistem yang ada agar dapat menguasai mayoritas parlemen sehingga mampu menghasilkan produk kebijakan politik yang berpihak pada umat Islam.

Ekstra Parlementer yaitu aktivis yang ber-ijtihad untuk melakukan perlawanan di luar sistem karena untuk lebih memurnikan perlawanan itu sendiri agar tidak terkena syubhat dari sistem itu sendiri.

Masing-masing ijtihad ini punya hujjah(dalil-dalil) yang bisa mereka berikan, tapi ada satu kesamaan dalam memandang sistem DEMOKRASI itu sendiri yaitu mereka sama-sama meyakini bahwa demokrasi ini bukan sistem dari Islam dan merupakan sistem bathil yang tidak selaras dengan Islam.

Lantas apa sebaiknya yang harus dilakukan aktivis untuk melakukan perlawanan politik ini…??

Harus ada komunikasi politik antara aktivis intra & ekstra parlementer secara kontinyu untuk menyatukan misi bersama dalam melakukan perlawanan.

Harmonisasi dalam misi bersama ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan perlawanan. Jangan sampai terjadi kesalah fahaman yang nantinya akan timbul dzon(prasangka) serta saling serang antar keduanya yang berujung pada perpecahan dan berakibat kekuatan perlawanan akan mudah dihancurkan oleh orang-orang kafir.

Sebagai aktivis jangan pernah alergi bicara tentang politik.

Ada 3 pilihan yang patut direnungkan oleh para aktivis dalam lingkaran politik, yaitu :

Menjadi pemain politik.
Menjadi komoditas politik.
Menjadi korban politik.

Pilihan menjadi pemain politik pun perlu untuk dipertimbangkan karena hal ini untuk melengkapi bagian perlawanan itu sendiri. Jadi seorang aktivis tidak hanya pandai dalam mengatur strategi dakwah dan jihad tapi juga pandai dalam berdiplomasi dan bersiyasah.

Baca juga, SIKAP TERHADAP DEMOKRASI, ANTARA MEMUDAHKAN DAN YANG BERLEBIHAN


Memberikan edukasi kepada Umat Islam tentang politik.

Agar umat faham bahwasanya Islam adalah ajaran yang lengkap dan didalamnya juga mengatur tentang politik, karena apabila umat awam akan politik maka mereka hanya akan menjadi komoditas politik yang pada akhirnya nanti menjadi korban kebijakan politik.

Renungkan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ؕ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْاَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ ؕ

“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di Bumi dan kerusakan yang besar.”
[QS. Al-Anfal: 73]

Mereka orang-orang kafir telah berusaha menyempurnakan perlawanannya terhadap Al Haq dengan kerjasama yang solid di setiap lini mulai dari militer sampai dengan kebijakan politiknya, maka seyogyanya kita sebagai Ahlul Haq juga harus menyempurnakan perlawanan kita seperti mereka bahkan harus lebih baik karena kita mempunyai tuntunan yang sangat sempurna dari Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing dan melindungi para aktivis serta menguatkan perlawanan yang sedang mereka lakukan guna tegaknya syariah Allah di muka bumi ini…Aamiin.

Wallahu’alam…

sumber : dakwahmuqawamah

 

Baca juga, MENCARI TITIK TEMU ANTARA KAUM JIHADIS DENGAN AKTIFIS DEMOKRASI