Duniaekspress.com (22/10/2018)- Dunia Jihad dibuat bingung oleh oleh jamaah Daulah Islam Iraq dan Syam (ISIS) yang kemudian hari mendaku-diri sebagai khilafah islamiyah yang dijanjikan. Padahal mereka adalah sekumpulan orang-orang yang tidak mautsuq (tidak terpercaya), yang tidak bersih aqidahnya, tidak lurus manhajnya, dan nyata penyimpangannya; hingga mereka bermetamorfosis menjadi sekte khawarij modren.

Para ulama senior di kalangan mujahidin maupun ulama panutan dunia internasional telah mengecam ISIS dan berlepas diri dari kebodohan, kekejaman, kemunafikan, dan kekhawarijan yang ada pada mereka. Di antara para ulama tersebut adalah Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah Al Fillisthini, Syaikh Sulaiman bin Nashir Al ’Ulwan, Syaikh Abu Bashir Ath Thurtusi, dan Syaikh Abdul Aziz Ath Thuraifi. Demikian juga menyusul penolakan dari Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan Syaikh Abdul Muhsin Al Badr, ketika ISIS menyatakan diri sebagai Khilafah Islamiyah.

Baca Juga:

PERSETERUAN DI TUBUH DAULAH ISIS, ANTARA PENGIKUT AL HAZIMI VS PENGIKUT TURKI AL BIN’ALI

Untuk mengetahui hari demi hari, detik demi detik, pengkhianatan, penyimpangan ISIS hingga mereka menjadi jamaah khawarij, maka tulisan ini menghadirkan penkhiatan dan penyimpangan itu secara kronologis.

Mei 2007

Ulama mujahid tokoh Al-Qaidah dan Daulah Islam Irak di masa awal-awal, yaitu Syaikh Abu Sulaiman Al-’Utaibi menuliskan surat yang ditujukan kepada komando pusat mujahidin Al-Qaidah di khurasan, sebelum beliau sendiri berangkat menuju Khurasan (Afghanistan). Setelah itu, beliau gugur sebagai syahid di Khurasan, semoga Allah meninggikan derajatnya. Dalam Suratnya beliau menceritakan sejarah lahirnya Daulah Islam Irak pada tahun 2006 M dan sebab-sebab keterpurukan daulah.

Tak luput beliau menceritakan pula kesalahan-kesalahan Daulah dari sisi manhaj, sistem yang dibangun dan tindakan mereka. Semoga risalah beliau ini bisa lebih memahamkan kita tentang bagaimana perjalanan Daulah Islam Irak yang sesungguhnya di masa awal-awal hingga hari ini yang semakin terpuruk dan menjadi bahasan serius dikalangan mujahidin disebabkan manhaj dan tindakan-tindakannya di Syam.

17 Februari 2013

Jama’ah Ansharul Islam (JAI) memberikan kesaksian kepada Aiman Adz-Dzawahiri tentang Jama’ah Daulah yang dinggap sebagai cabang dari Al-Qaeda. Diantara kesaksian tersebut adalah sikap permusuhan terus menerus anggota Daulah yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi terhadap para mujahid JAI dengan alasan yang bermacam-macam. Di antara alasannya adalah karena JAI berada di wilayah Daulah sehingga JAI wajib taat dan tidak boleh beraktifitas kecuali setelah mendapatkan ijin dari Daulah.

JAI adalah sebuah jamaah salafi jihadis yang berkedudukan di Kurdistan, Irak. Ia adalah jamaah yang jauh telah ada sebelum lahirnya ISIS, bahkan telah ada sejak era rezim Saddam Husein. Saat dibentuknya Daulah Islam Irak (cikal bakal ISIS), JAI tidak bergabung dengan dengan Daulah Islam Irak.
8 April 2013

Daulah Islamiyah Iraq merilis rekaman audio dari pimpinan mereka, Abu Bakar Al-Baghdadi, pada rekaman tersebut beliau mengumumkan bahwa kelompok jihad yang beroperasi di Suriah, Jabhah Nusrah (JN) adalah perpanjang dari Daulah Islamiyah Iraq. Dalam pernyataan ini, beliau mengumumkan bahwa nama Daulah Islamiyah Iraq dan JN tidak digunakan lagi, melainkan beliau mengumumkan secara resmi penggabungan dua kelompok tersebut dibawah Daulah Islamiyah Iraq dan Syam atau Islamic State of Iraq and Syam (ISIS). [Sumber: Media Al-Furqan]

Baca Juga:

HAQOIQ MIN DAKHIL AWAL PENYIMPANGAN ISIS (DAESH)

Perlu diketahui bahwa masyarakat Suriah secara umum tidak menyukai dan alergi terhadap nama Al-Qaeda. Akan tetapi mereka semua terlanjur jatuh cinta dan mendukung penuh mujahidin Jabhah Nusrah, hingga ramai masyarakat Suriah mengatakan “We Are All, Jabhah Nusrah!”. JN sudah kadung menjadi ikon penting dari perjuangan revolusi Suriah.

9 April 2013

Abu Basheer Al-Tartosi, seorang ulama yang sempat berjihad ke Suriah mengeluarkan kritik terhadap Deklarasi ISIS, yang menurutnya akan menyulitkan rakyat Suriah dan menguntungkan Bashar Assad. Melalui situs pribadi miliknya, Al-Tartosi menegaskan, “bahwa deklarasi yang dikeluarkan dari Daulah Islam Iraq, adalah sebuah kesalahan dan berbahaya dari semua aspek. Dan deklarasi tersebut tertolak dari segi dalil Naqli dan A’qli.”

Abu Basheer Al-Tartosi adalah seorang ulama yang tinggal di London. Beliau sangat produktif dan disegani. Karya-karya beliau menjadi rujukan banyak aktif jihad dan mujahidin diseluruh dunia. Di Indonesia karya beliau yang paling fenomenal adalah buku yang berjudul, “Tiada Khilafah Tanpa Tauhid dan Jihad.”.

10 April 2013

Mas’ul Aam Jabhah Nusrah (JN), Abu Muhammad Al-Jaulani menolak instruksi dari Amir Daulah Islam Iraq tersebut, dengan alasan datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan diskusi terlebih dahulu. Al-Jaulani menyatakan kepada public, “kami sampaikan kepada masyarakat bahwa pimpinan Jabhah Nushrah, majlis syuranya dan hamba yang faqir ini selaku pimpinan umum Jabhah Nushrah, tidak mengetahui pengumuman (pendirian Daulah Islam Irak dan Syam) tersebut selain apa yang mereka dengar dari media massa. Jika memang pesan yang dinyatakan dari Syaikh al-Baghdadi itu benar, maka sesungguhnya kami tidak diajak bermusyawarah dan tidak diberi perintah terlebih dahulu.” Papar Al-Jaulani dalam audio berjudul “Haula Saahat asy-Syam” (Seputar Kondisi Medan Syam). [Sumber: Al-Manarah Al-Baidha’]

Bersambung….