Dasar argumentasi berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara Syirik part 4

Duniaekspress.com. (25/10/2018).

Baca sebelumnya, DASAR ARGUMENTASI BERLAKUNYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN DALAM PERKARA SYIRIK Part 3

Kesimpulan Semua dalil Al-Qur’an dan as-sunnah di atas meneggaskan satu kaedah menyeluruh (qa’idah kulliyah) dalam syariat Islam, yaitu bahwasanya:
a. Hujah Allah atas hamba-hamba-Nya yang berkonskuensi berlakunya hukum-hukum syar’i di dunia atas diri mereka dan adanya pertanggung jawaban (pahala dan dosa) di akhirat kelak hanyalah tegak setelah diutusnya para rasul dan sampainya ilmu tentang ajaran rasul tersebut kepada hamba-hamba-Nya.
b. Seorang mukallaf tidak dituntut untuk melaksanakan hukum-hukum syariat Islam, dalam perkara ushulud dien maupun furu’ dien, kecuali setelah ia mengetahui hukum-hukum syariat tersebut.
c. Makna tersirat (mafhum)nya, jika seseorang belum sampai kepadanya ilmu tentang hukum-hukum syariat, maka hujah belumlah tegak atas dirinya dan secara hukum di dunia, ia bukanlah orang yang terkena kewajiban melaksanakan hukum-hukum syariat tersebut.
d. Karena ia tidak terkena kewajiban melaksanakan hukum-hukum syariat tersebut, maka ia memiliki hujah jika beragumentasi dengan belum sampainya ilmu kepada dirinya. Secara hukum di akhirat, ia tidak terkena hukuman karena ia memiliki argumentasi di hadapan Allah.
e. Hal ini berlaku untuk semua persoalan agama Islam, baik persoalan ushul dien maupun furu’ dien. Ini adalah kaedah umum yang baku, dan tidak boleh beralih dari kaedah umum ini kecuali dengan adanya dalil shahih yang mengharuskannya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

 

Baca juga, DASAR ARGUMENTASI BERLAKUNYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN DALAM PERKARA SYIRIK. part 2