Duniaekspress.com (24/10/2018)- Politik Islam dalam bentuk gerakan berarti melakukan upaya keras bersama untuk menyebarluaskan ajaran Islam dalam dimensi sosialnya agar dipraktekkan dalam kehidupan bernegara untuk kebaikan nasib bangsa dan negara itu sendiri.

Politik Islam yang pada hakikatnya adalah perjuangan penegakan syari’at Islam dalam lingkup bangsa/negara jelas untuk menyelamatkan bangsa-negara itu dari krisis-krisis sosialnya agar bisa menjadi bangsa yang maju terdepan, beradab, aman dan sejahtera, mendatangkan kemaslahatan pada bangsa lain, bukan mengeksploitasi atau menjajah bangsa lain.

Individu muslim yang beriman dan bertaqwa secara benar tentu akan mengerjakan semua tuntunan dalam Islam secara keseluruhan yang meliputi; mengerjakan ibadah, berakhlak mulia, menjalankan syari’at Islam dan selalu berusaha keras menyebarluaskan ajaran Islam.

Perjuangan sosial – politik ini menuntut adanya kelompok muslim solid dan teguh bercita-cita bersama untuk mempraktekkan tuntunan sosial Islam dalam proses pengelolaan tatanan sosial di mana mereka berada dengan kesiapan menghadapi persaingan atau tantangan sosial -politik dari pengikut ideologi lain.

Baca juga:

BUKAN SEKEDAR BENDERA, TETAPI IZZAH KAUM MUSLIMIN

SEBAGAI AKTIVIS JANGAN PERNAH ALERGI BICARA TENTANG POLITIK

Seorang muslim yang memiliki tauhid atau muslim yang sadar tentang pentingnya ajaran sosial – politik Islam dalam kehidupan bermasyarakat tentu akan bekerjasama untuk saling mendukung sesamanya dalam menegakkan dan memberlakukan syari’at Islam agar dipraktekkan dalam pengelolaan tatanan sosialnya agar tatanan sosial tersebut menjadi tatanan sosial yang aman dan sejahtera. Perhatikan ayat-ayat berikut :

﴿ﻓَﺎﺣْﻜُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﻋَﻤَّﺎ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ﴾
“Maka putuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan
jangan menuruti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah diturunkan padamu…” ( Q.S. Al-Maidah/5 : 48 ).

﴿ﻭَﺃَﻥِ ﺍﺣْﻜُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﻭَﺍﺣْﺬَﺭْﻫُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﻔْﺘِﻨُﻮْﻙَ ﻋَﻦْ ﺑَﻌْﺾِ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ﴾

*“Dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah* (Al-Quran) dan jangan menuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Alloh kepadamu” (Q.S. Al-Maidah/5 : 49).

﴿ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ ﴾

*“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang kafir.”*.(Q.S. Al-Maidah/5 : 44).

﴿ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤُﻮْﻥَ ﴾

*”Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang zalim.”* (Q.S. Al-Maidah/5 : 45).

﴿ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮْﻥَ﴾

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang fasik.”(Q.S. Al-Maidah/5 : 47).

﴿ﻓَﻼَ ﻭَﺭَﺑِّﻚَ ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤَﻜِّﻤُﻮْﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺷَﺠَﺮَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳَﺠِﺪُﻭْﺍ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺣَﺮَﺟًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻴْﺖَ ﻭَﻳُﺴَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ﴾

*”Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka bertahkim kepadamu dalam segala perselisihan di antara mereka.*
Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatinya menerima hukummu (putusanmu) dan mereka sepenuhnya menyerah kepadamu.” (Q.S. An-Nisa/4 : 65).

﴿ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍْﻷَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ﴾

*”Wahai orang-orang beriman, patuhlah kepada Allah, patuhlah kepada Rasul dan orang-orang yang memerintah (Ulil Amri) di antara kamu (Kaum muslimin).*” (Q.S. An-Nisa/4: 59).

﴿ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻤْﺘُﻢْ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥْ ﺗَﺤْﻜُﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ﴾

“Jika kamu menghukumi di antara manusia, maka hukumilah kamu dengan (hukuman) yang adil.” (Q.S. An-Nisa/4 : 58).

Sayid Qutb berkata, “Umat dalam tatanan Islam yaitu mereka yang memilih Hakim yang melaksanakan Syari’at islam. Akan tetapi Hakim bukan sebagai sumber hukum . Dan hakim mengambil sumber hukum dari Allah Swt. Semua manusia di muka bumi ini yang sering dinamakan bangsa tidak memiliki hukum. Dan yang memiliki hukum adalah Allah Swt. Manusia hanya diberi tugas wajib melaksanakan hukum-Nya (Syari’at islam). Jika tidak melaksanakan Syari’at Islam itu , maka tidak ada kekuasaan dan tidak ada hukum.” [ayah_shalih]