Pandangan Imam Ibnu Taimiyah Dalam Masalah Udzur Jahl (Kebodohan).

Duniaekspress.com. (25/10/2018). Dalam perkara ini berbagai pihak saling memperebutkan Ibnu Taimiyah. Di mana masing-masing kelompok mengklaim bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat sebagaimana pendapat yang dianutnya. Satu kelompok mengklaim bahwa Ibnu Taimiyah itu tidak memberi udzur bagi orang yang tidak tahu. Sementara kelompok lain mengklaim bahwa Ibnu Taimiyah termasuk yang memberikan udzur orang yang tidak tahu dalam persoalan syirik. Dia ini termasuk ulama yang paling banyak diperselisihkan dalam masalah ini.
Oleh karena itu pemaparan perkataannya mengenai persoalan yang rumit ini termasuk perkara yang paling penting dan paling wajib dikaji. Karena Ibnu Taimiyah memiliki kedudukan yang tinggi di bidang ilmu-ilmu Islam. Dan juga karena ia memiliki perhatian yang sangat besar dalam masalah ini. Di mana dia termasuk orang yang paling kuat dalam mengupas dalil-dalil yang menjadi landasan dalam perkara ini, karena ia punya perhatian yang sangat besar dalam masalah ini. Ia bersungguh-sungguh dalam menjelaskan bagaimana yang benar di setiap tempat yang ia bahas mengenai persoalan ini, baik dari sisi pemaparan dalil maupun penetapan kaidah.
Bagi orang yang meneliti perkataan dan kesimpulan Ibnu Taimiyah, memahami prinsip-prinsipnya dalam membangun pendapat-pendapatnya, dan menggali cara-caranya dalam berinteraksi dengan orang-orang yang tidak sependapat dengannya dalam perkara prinsip-prinsip ajaran Islam maupun cabang-cabangnya, niscaya orang tersebut tidak akan ragu-ragu lagi bahwa Ibnu Taimiyah memberikan udzur dalam perkara syirik ketika orang tersebut tidak tahu, dan bahwa seorang muslim itu jika terjerumus dalam perkara syirik tidaklah hilang status keislamannya dan juga tidak berlaku baginya hukumhukum kekafiran sampai tegak hujjah risaliyah kepadanya. Dan tidak ada bedanya baginya antara orang yang tumbuh sejak kecil di pedalaman yang sangat jauh maupun tinggal di negeri kaum muslimin yang di sana merebak kebodohan atau ulama-ulama su’.
Karena yang dijadikan patokan oleh beliau dalam memberikan udzur karena ketidaktahuan itu adalah terwujudnya secara benar kondisi ketidaktahuannya pada orang tertentu yang menjadi obyek hukum. Maka setiap orang yang benarbenar tidak mengetahui yang ketidaktahuannya itu muncul bukan karena ia meremehkan atau mengikuti hawa nafsu, lalu dengan ketidaktahuannya itu ia terjerumus dalam perbuatan yang mestinya menjadikan dirinya kafir, baik itu kemusyrikan ataupun kekafiran apapun bentuknya ataupun yang lainnya, maka orang yang semacam ini tidaklah dianggap kafir, tidak keluar dari lingkaran Islam, dan tidak difonis kafir sampai ditegakkan hujjah kepadanya baik secara hakiki maupun secara hukum, sebagaimana yang akan kami jelaskan rinciannya nanti.
Kesimpulan semacam ini banyak sekali disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimyah dengan metode yang bermacam-macam. Metode itu di antaranya adalah:
Pertama: ia menyebutkan bahwa ketidaktahuan itu adalah udzur dalam semua perkara agama, baik masalah keyakinan maupun masalah amalan, baik masalah pokok-pokok ajaran Islam maupun cabang-cabangnya.
Di antara perkataannya yang menunjukkan semacam ini adalah: “Demikianlah, meskipun saya ini selamanya, dan orang-orang yang pernah duduk-duduk bersamaku tahu tentang saya: bahwa saya adalah orang yang paling keras melarang memfonis kafir atau fasiq atau maksiat kepada orang tertentu, kecuali telah diketahui bahwasanya telah tegak hujjah risaliyah kepadanya yang mana orang yang menyelisihi hujjah tersebut terkadang bisa kafir, terkadang bisa fasiq dan terkadang bisa maksiat. Dan bahwasanya saya menetapkan bahwa Alloh SWT itu telah mengampuni kesalahan umat ini yang tidak disengaja. Dan ini mencakup semua kesalahan yang tidak disengaja dalam perkara-perkara khobariyah qouliyah (keyakinan) juga dalam perkara-perkara amaliyah (fikih) …” (Majmu’ Fatawa 3/229)
Dan ketika menetapkan kaidah udzur karena ketidaktahuan, ia mengatakan: “Dan demikian pula ucapan-ucapan yang sebenarnya dapat menjadikan kafir orang yang mengucapkannya. Terkadang orang yang bersangkutan belum sampai kepadanya nash-nash yang dapat menjadikannya memahami kebenaran. Mungkin juga sudah sampai kepadanya tapi menurutnya belum bisa diterima periwayatannya atau ia belum mampu memahaminya. Atau mungkin masih ada syubhat-syubhat yang ada padanya sehingga Alloh memberi udzur kepadanya. Oleh karena itu orang beriman manapun yang telah bersungguh-sungguh mencari kebenaran lalu meleset nicaya Alloh akan ampuni kesalahannya tersebut apapun bentuknya, baik dalam perkara nadhoriyah (keyakinan) maupun amaliyah (fikih).” Dan ia menyebutkan bahwa kaidah ini merupakan kaidah: “… yang dianut oleh para sahabat Nabi SAW dan para ulama Islam secara umum.” (Majmu’ Fatawa 23/346)
Dalam ucapan-ucapannya tersebut Ibnu Taimiyah menetapkan bahwa ketidaktahuan itu merupakan udzur dalam semua perkara, baik dalam perkara amaliyah maupun i›tiqodiyah. Seandainya ia berpendapat bahwa perkara syirik dan perkara yang jelas itu tidak termasuk perkara yang mendapatkan udzur jika tidak tahu tentu ia menjelaskannya, apalagi kontek pembicaraannya menuntut seperti itu. Karena ia menyebutkan kata-kata tersebut dalam rangka menjelaskan sikap dia yang sebenarnya terhadap orang-orang yang berseberangan dengannya, dan dalam kontek menjelaskan prinsip-prinsip yang menjadi pijakannya dalam memfonis mereka. Kata-katanya tersebut menegaskan atas keumumannya, padahal tema pembahasannya menuntut perincian dan penjelasan semua hal yang berkaitan dengan pembahasan. Tapi hal itu tidak dilakukan sedikitpun oleh Ibnu Taimiyah di sini. Hal ini menunjukkan bahwa ia berpendapat bahwa perkara-perkara yang jelas dan perkara-perkara syirik itu tidak dikecualikan dari kaidah hukum yang ia tetapkan tersebut.
Kedua: Ia menyamakan antara kaidah takfir (mefonis kafir) dengan kaidah wa›id (menjatuhkan hukuman), dan ia menjelaskan bahwa keduanya itu satu jenis dan syarat-syaratnya sama. Di mana ia sering mengulang-ulang bahwa takfir muthlaq (mefonis kafir secara umum, bukan kepada orang tertentu) sama dengan wa›id muthlaq yang tidak akan berlaku kepada orang tertentu kecuali setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya.
Di antara perkataannya yang menunjukkan hal ini adalah tatkala ia menjelaskan sikap para ulama terhadap jahmiyah dan keyakinan-keyakinannya, ia mengatakan: “Sesungguhnya takfir muthlaq itu sama dengan wa›id muthlaq, yakni tidak mesti berarti mengkafirkan orang tertentu sampai tegak kepadanya hujjah yang jika ia menolaknya ia kafir.” (Al-Istiqomah, karangan Ibnu Taimiyah 1/164, juga lihat Minhaju As-Sunnah, karangan Ibnu Taimiyah 5/240)
Dan juga tatkala ia menyebutkan keyakinan-keyakinan Jahmiyah, ia mengatakan: “Keyakinan-keyakinan ini adalah kekafiran, akan tetapi pengkafiran terhadap orang tertentu itu tergantung dengan tegaknya hujjah yang dapat menjadikan seseorang kafir jika menolak hujjah tersebut. Dan jika ada orang yang mengatakan secara lepas bahwa orang yang memiliki keyakinan tersebut kafir, maka hal ini sama dengan menyampaikan nash-nash wa›id secara lepas sementara berlakunya hukuman yang diancamkan itu tergantung dengan terpenuhinya syarat-syaratnya dan tidakadanya penghalang-penghalangnya. Oleh karena itu para ulama mengucapkan secara lepas fonis kafir padahal mereka tidak memfonis kafir setiap orang yang mengucapkan kata-kata kafir tersebut.” (Bughyatul Murtad, karangan Ibnu Taimiyah, hal. 353, juga lihat Majmu› Fatawa 10/372)
Ketiga: Ia menegaskan bahwa kaidah pemberian udzur bagi orang yang tidak tahu itu mencakup semua orang yang ketidaktahuannya bisa diakui. Di mana ia mengatakan secara umum bahwa siapa saja yang melakukan perbuatan kufur atau syirik tidaklah difonis kafir jika dia tidak tahu. Di antara perkataannya yang menunjukkan hal ini adalah tatkala ia menyebutkan kaidah takfir secara umum dan menyebutkan sebagian hukuman dalam syariat. Di mana ia berkata: “Jika hal ini telah dipahami, maka mengkafirkan orang-orang yang bodoh tersebut dan yang sejenisnya — yakni memfonisnya telah masuk dalam golongan orang-orang kafir —, hal ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah hujjah risaliyah tegak kepada salah seorang di antara mereka, yang mana dengan tegaknya hujjah itu menjadi jelas pembangkangan mereka kepada para Rosul, meskipun keyakinan yang mereka yakini itu tidak diragukan lagi kekafirannya. Demikian pula halnya dalam mengkafirkan semua orang yang sudah tertentu. Padahal ajaran-ajaran bid›ah itu sebagiannya lebih berat daripada sebagian yang lain, dan sebagian penganut ajaran bid›ah itu memiliki keimanan yang tidak dimiliki oleh sebagian yang lain. Maka siapapun tidak boleh mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin meskipun ia bersalah, sampai ditegakkan hujjah kepadanya dan dia memahami yang benar. Karena siapa saja yang telah menyandang status iman dengan yakin, status itu tidak akan hilang darinya lantaran hal yang masih meragukan; bahkan status itu tidak akan hilang sampai ditegakkan hujjah kepadanya dan dihilangkan syubhat darinya.” (Majmu› Fatawa 12/500) Ia juga menegaskan bahwa hukum-hukum kekafiran itu tidak ditetapkan kepada orang yang tidak tahu, dalam semua perkara agama sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Di mana pada saat memberikan komentar terhadap perkataan Ibnu Qudamah yang berbunyi: “Siapa saja yang menolak wajibnya sholat lantaran ketidaktahuannya maka ia diberikan penjelasan, dan jika ia tetap menolaknya karena keras kepala maka dia kafir.” Dalam mengomentari perkataannya ini Ibnu Taimiyah berkata: “Ini adalah kaidah umum yang berlaku untuk semua rukun Islam yang lima, dan juga untuk semua hukum yang telah jelas dan disepakati jika orang yang menolak tersebut mendapatkan udzur, serperti orang yang baru masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang diperkirakan memungkinkan untuk tidak mengetahuinya. Orang seperti ini tidaklah kafir sampai ia dipahamkan bahwa perkara tersebut adalah ajaran Islam. Karena hukum-hukum kafir dan pemberian hukuman itu tidak ditetapkan kecuali setelah sampainya risalah, apalagi pada perkara-perkara yang tidak dapat dipahami hanya berdasarkan akal semata.” (Syarhu ‹Umdati Al-Fqhi, Kitabu Ash-Sholah, karangan Ibnu Taimiyah, hal. 51). (RR).

 

Bersambung …

 

Baca juga, PERKATAAN IBNU TAIMIYAH YANG JADI ANDALAN TAKFIR INI TERNYATA TIDAK JELAS ASAL-USULNYA