Pertama kalinya bendera Tauhid diperkenalkan

Duniaekspress.com. (24/10/2018). Tujuh bulan setelah Rasulullah dan muhajirin berhijrah ke Madinah, terjadi peristiwa sariyah (ekspedisi perang) Siful Bahr di wilayah Al-Ish yang dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Paman Rasulullah ini pergi ke pesisir pantai Barat Arab dengan membawahi 30 pasukan. Menurut Al-Waqidi dalam kitab Al-Maghazi, 15 personil berasal dari Muhajirin sedangkan 15 lainnya dari golongan Anshar, tetapi yang lebih kuat dalam kitab sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, semua personil berasal dari kalangan muhajirin. Hal itu juga dibenarkan Al-Waqidi di akhir pembahasan peristiwa ini di riwayat Ibnul Musayyib dan Abdurrahman bin Sa’id, itu diperkuat Ibnu Sa’ad dalam Kitab Thabaqat Al-Kubra jld 2-nya, sebab kaum Anshar tidak diutus dalam ekspedisi peperangan sebelum pecahnya perang Badar (Ramadhan 2 H), karena dalam perjanjian (baiat) kaum Anshar berikrar kepada Rasulullah akan tetap melindungi beliau selama berada di negeri mereka.

Hasil gambar untuk panji rasulullah

Ekspedisi tersebut bertujuan untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari ke Syam setelah menuntaskan bisnis mereka di sana (Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah). Selain itu, menjatuhkan mental dan melumpuhkan aktivitas perekonomian Quraisy, serta meningkatkan citra kekuatan kaum Muslimin ke seluruh penjuru Arab, di samping agar tiap personil mendapat pengalaman bertempur, menjadi beberapa tujuan dari sariyah ini. Rombongan kafilah Quraisy sendiri berjumlah 300 orang, termasuk Abu Jahal di dalamnya. Saat kepergok oleh pasukan Hamzah, terjadilah kontak senjata namun itu tidak berlangsung lama, karena Majdi bin Amr Al-Juhani berhasil melerai kedua belah pihak. Pertempuran pun tidak berlangsung lama, karena akhirnya kedua belah pihak pulang ke rumah masing-masing. Peristiwa ini terjadi tepat di bulan Ramadhan 1437 tahun yang lalu (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Maghazi Al-Waqidi, Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa’ad), atau tahun 623 Masehi (Rahiqul Makhtum, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri).

Pendamai kedua belah pihak adalah Majdi bin Amr Al-Juhani, yang merupakan tokoh kabilah Juhainah dan menjadi sekutu kedua belah pihak, baik Quraisy Makkah maupun kaum Muslimin Madinah (Al-Mubarakuri, ibid). Kabilah Juhainah telah mengadakan perjanjian dengan Madinah waktu Rasulullah baru saja tinggal di Madinah, sekitar semester pertama tahun satu hijriyah. Mahdi Rizqullah Ahmad mengutip riwayat dari Musnad Ahmad jilid 3, mengungkapkan perjanjian kabilah Juhainah dan Madinah, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia menuturkan, “Ketika Rasulullah tiba di kota Madinah, kabilah Juhainah mendatangi beliau dan berkata, “Anda telah berada dan tinggal di tengah-tengah kami. Oleh karena itu, berjanjilah kepada kami agar kami melindungi anda dan anda pun melindungi kami.” Rasulullah pun mengadakan perjanjian dengan mereka hingga mereka masuk Islam.” Menurut Mahdi Rizqullah Ahmad, perjanjian Madinah dengan suku dan kabilah di sekitarnya lebih berkaitan dengan soal politik.

Di dalam pasukan sariyah tersebut di antaranya terdapat sahabat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, Salim maula Abu Hudzaifah, ‘Amir bin Rabi’ah, ‘Amr bin Suraqah, dan Zaid bin Haritsah. Pengiriman sariyah Hamzah ke Siful Bahr ini menjadi peristiwa pembawaan panji (bendera) pertama sebagai identitas kaum Muslimin (Ibnu Hisyam, Al-Waqidi). Yang ditugaskan sebagai pembawa panji Islam pertama yang berwarna putih (Al-Liwa) itu adalah Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghanwi. (RR).

oleh : Ilham Martasyabana, penggiat sejarah Islam

 

Baca juga, PEMBAKARAN BENDERA TAUHID, PERSIS: KEJAHATAN LUAR BIASA