Duniaekspress.com (25/10/2018)- Pemerintah Tiongkok baru-baru ini mengakui bahwa telah memaksa minoritas Muslim di Xinjiang untuk masuk ke “kamp pendidikan ulang” sebagai bagian dari tindakan keras terhadap ekstremisme. Tetapi menurut data dilapangan menunjukkan bahwa pusat-pusat ini memiliki banyak kesamaan dengan kamp konsentrasi.

Ribuan penjaga membawa tongkat berduri, gas air mata, dan pistol bius mengawasi “siswa-siswa” pemerintah, yang ditahan di gedung-gedung yang dikelilingi dengan kawat silet dan kamera inframerah, menurut laporan yang diterbitkan kantor berita Prancis, Agence France-Presse, Rabu (24/10/2018).

Baca Juga:

DERITA MINORITAS MUSLIM UIGHUR DI NEGARA KOMUNIS

PELANGGARAN HAK ASASI DI XINJIANG, AS DESAK CHINA DIBERI SANKSI

Wartawan AFP yang meninjau lebih dari 1.500 dokumen pemerintah yang tersedia secara publik mengenai menggambarkan pembelian yang dilakukan oleh lembaga pemerintah yang mengawasi pusat pendidikan: 2.768 tongkat polisi, 550 gergaji listrik, 1.367 pasang borgol, dan 2.792 kaleng semprotan lada.

Gambaran ini jauh dari propaganda pemerintah China yang mengklaim pusat-pusat tersebut memberikan pendidikan gratis dan pelatihan kerja untuk melawan penyebaran terorisme dan ekstremisme agama.

Laporan baru mendukung apa yang telah dikatakan oleh kelompok hak asasi manusia dan wartawan mengatakan, pemerintah otoriter China telah semakin brutal, penahanan dan penyiksaan terhadap Muslim Uighur merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan di bawah hukum internasional.

Awal bulan ini China melegalkan pusat pendidikan kembali, BBC melaporkan bahwa pihak berwenang China di Xinjiang telah merevisi undang-undang yang dirancang untuk mempromosikan penggunaan pusat penahanan “untuk melaksanakan transformasi pendidikan dari mereka yang terkena dampak ekstremisme.”

Baca Juga:

CHINA LAKUKAN TEROR DENGAN DALIH MEMBERANTAS EKSTRIMISME DI XINJIANG

KOMUNIS CHINA TAHAN MUSLIM UIGHUR DI CAMP RAHASIA

Seperti yang dicatat oleh Vox Jen Kirby, China sebelumnya telah mencoba untuk menyangkal atau mengecilkan keberadaan pusat-pusat ini. Namun kelompok-kelompok hak asasi manusia, kesaksian saksi, dan laporan media telah menunjukkan orang-orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di wilayah itu ditahan dan disiksa dalam jumlah besar, dan dipaksa menjalani indoktrinasi psikologis – seperti mempelajari propaganda komunis dan mengucapkan terima kasih kepada Presiden Cina Xi Jinping.

Panel hak asasi manusia PBB memperkirakan bahwa pihak berwenang China telah memenjarakan sebanyak 1 juta orang Uighur. Namun kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Hong Kong menempatkan angka ini lebih tinggi: antara 2 juta hingga 3 juta.

Anggota Kongres telah menekan administrasi Trump untuk mengambil tindakan. Komite Eksekutif Kongres bipartisan China, yang dipimpin oleh Senator Marco Rubio (R-FL), merilis laporan awal bulan ini yang menguraikan pelanggaran hak asasi manusia serius China dan kampanye “penindasan yang disponsori negara.”