Pandangan Imam Ibnu Taimiyah Dalam Masalah Udzur Jahl (Kebodohan). part 2

Duniaekspress.com. (26/10/2018).

Baca sebelumnya, PANDANGAN IMAM IBNU TAIMIYAH DALAM MASALAH UDZUR DENGAN KEBODOHAN

 

Keempat: Ia menyatakan bahwa siapa saja yang melakukan kemusyrikan karena tidak mengetahui hukumnya maka dia tidak kafir dan tidak lepas status Islam darinya. Pernyataan yang semacam ini sering sekali diulang-ulang dalam perkataan Ibnu Taimiyah dan dalam banyak kontek. Kadang ketika berbicara dalam kontek pendasaran dalil dalam perkara pemberian udzur, dan kadang dalam kontek menjawab pertanyaan mengenai kaus tertentu. Berikut ini beberapa lokasi di mana Ibnu Taimiyah menetapkan hal semacam ini:
Lokasi pertama: Ia pernah ditanya tentang orang yang beristighotsah kepada kuburan. Ibnu Taimiyahpun menetapkan bahwa jika orang tersebut tidak tahu maka dia tidak kafir. Di mana suatu ketika ada orang bertanya kepadanya: “Apa pendapat Syaikh mengenai orang-orang yang mengagungkan para ulama dalam bentuk beristighotsah kepada mereka ketika dalam kondisi susah, berdoa dengan penuh ketundukan kepada mereka, berziarah ke kuburan mereka, menciuminya dan mencari berkah dengan tanahnya, minghidupkan lampu-lampu sepanjang malam, mereka menetapkan waktu-waktu tertentu yang mereka datang dari jauh-jauh. Waktu yang mereka tetapkan itu mereka namakan dengan ‘lailatul muhayya’, dan mereka jadikan seperti hari raya mereka. Mereka bernadzar kepada kuburan-kuburan tersebut dan juga melaksanakan sholat di sana.
Apakah yang mereka lakukan itu boleh ataukah haram ataukah makruh? Apakah para ulama itu boleh membiarkan mereka seperti itu ataukah harus melarang dan menghardik mereka? Apa saja yang wajib diajarkan oleh para ulama terhadap murid-murid mereka, dan apa pula yang harus mereka nasehatkan? Dan apakah boleh membiarkan mereka memelihara ular, api dan lain-lain atau tidak? Apakah yang wajib dilakukan oleh para imam masjid yang ikut datang untuk mendengarkan mereka dan menyetujui apa-apa yang mereka lakukan itu? Apa yang wajib dilakukan oleh penguasa terhadap mereka ini? Berilah fatwa kepada kami, semoga Alloh memberikan pahala kepada anda!”
Pertanyaan ini penting kaitannya dengan masalah pemberian udzur karena ketidaktahuan dalam perkara syirik. Karena Ibnu Taimiyah ditanya mengenai amalan-amalan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang beribadah kepada kuburan pada jaman kita belakangan ini, seperti beristighotsah kepada kuburan dan berdoa di sana pada saat-saat susah, sebagaimana yang tertera dalam pertanyaan.

Ibnu Taimiyah pun menjawab dengan jawaban yang panjang. Di sana disebutkan: “Alhamdulillah robbil ‘alamin. Siapa saja yang beristighotsah kepada orang yang telah mati atau orang yang tidak ada di tempat, di mana dia berdoa kepadanya pada saat genting dan susah, serta memohon kepadanya agar kebutuhannya dikabulkan, di mana dia mengatakan: ‘Wahai tuanku Syaikh Fulan, aku berada dalam tanggunganmu dan jaminan keamanmu’. Atau pada saat musuh menyerah dia mengatakan: ‘Wahai tuanku Fulan…’, dia meminta wangsit dan pertolongan kepadanya. Atau mengucapkan itu semua pada saat dia sakit, miskin atau saat dia memiliki kebutuhan lainnya; sesungguhnya orang ini adalah sesat, bodoh, musyrik dan bermaksiat kepada Alloh SWT berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Karena sesungguhnya kaum muslimin itu sepakat bahwa orang yang telah mati itu tidak boleh dimintai doa dan dimintai sesuatu apapun, baik orang yang telah mati itu seorang Nabi ataupun seorang Syaikh ataupun yang lainnya.”
Di sini Ibnu Taimiyah menetapkan dan menjelaskan hukum istighotsah kepada kuburan yaitu syirik akbar. Setelah itu ia menjelaskan kondisikondisi diperbolehkannya meminta kepada makhluq dan kondisi-kondisi tidakdiperbolehkannya mengajukan permintaan kepada makhluq. Setelah itu Ibnu Taimiyah menjelaskan hukum-hukum ziarah kubur dan macam-macamnya, dan menjelaskan beberapa bid›ah yang dilakukan di pekuburan.
Cuma yang terkadang membingungkan itu adalah perkataan Ibnu Taimiyah yang berbunyi: “…sesungguhnya orang ini adalah sesat, bodoh, musyrik dan bermaksiat kepada Alloh SWT berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” atau perkataannya yang akan kami sebutkan sebentar lagi, di mana ia mengatakan: “Siapa saja yang berdoa kepada selain Alloh atau melakukan haji kepada selain Alloh, maka dia juga musyrik.” Perkataan tersebut mungkin agak membingungkan bagi sebagian pengkaji karena menyangka bahwa yang dimaksud Ibnu Taimiyah di sini adalah orang yang sudah tertentu. Padahal tidak begitu. Karena ungkapan semacam ini adalah salah satu model pengungkapan takfir muthlaq yang digunakan oleh ulama, yakni dengan menggunakan isim fa›il, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh kontek pembicaraan Ibnu Taimiyah dan pemahaman Ibnu Taimiyah terhadap perkataan dan ungkapan para ulama. Nanti akan ada tambahan pembahasan masalah ini.
Setelah itu Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang perbuatan syirik yang dilakukan oleh bangsa Arab dahulu di pekuburan mereka. Di mana perbuatan syirik mereka itu adalah berupa istighotsah kepada penghuni kuburan tersebut dan menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Alloh SWT. Pada saat Ibnu Taimiyah menjelaskan hal itu, ia mengatakan: “Perbuatan syirik ini apabila telah tegak hujjah kepada seseorang kemudian dia tidak menghentikan perbuatannya maka wajib dibunuh sebagaimana orang-orang musyrik lain yang sama dengannya, tidak dikubur di pekuburan kaum muslimin dan tidak disholatkan. Adapun jika dia tidak tahu dan belum sampai ilmunya kepadanya, dan dia belum memahami hakekat syirik yang karenanya Rosululloh SAW memerangi orang-orang musyrik, orang semacam ini tidak difonis kafir. Apalagi perbuatan syirik ini telah banyak tersebar di kalangan orang-orang Islam. Dan siapa saja meyakini bahwa perbuatan ini adalah ibadah dan ketaatan kepada Alloh SWT maka ia adalah orang yang sesat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yang mana jika telah tegak hujjah kepadanya maka dia kafir.” (Jami›u Al-Masail tulisan Ibnu Taimiyah yang dikumpulkan oleh ‘Aziz Syams 3/145-151)
Fatwa ini penting untuk menjelaskan pandangan Ibnu Taimiyah yang sebenarnya tentang hukum orang yang melakukan perbuatan syirik sementara dia tidak tahu. Alasannya adalah:
1. Fatwa ini keluar sebagai jawaban untuk suatu kasus tertentu yang ditanyakan kepadanya. Sehingga fatwa ini keluar bukan sedang menguoas pembahasan yang bersifat umum atau yang lainnya. Akan tetapi fatwa ini keluar untuk menjawab pertanyaan seseorang yang ingin mengetahui apa hukum yang sebenarnya bagi orang-orang yang melakukan istighotsah tersebut. Sementara fatwa yang konteknya semacam ini pastilah berupa keterangan yang paling jelas yang dapat menjelaskan perkataan pihak yang menjawab. Oleh karena itu fatwa semacam ini sangat layak untuk menjadi pijakan yang paling kuat dalam memahami pendapat seorang ulama.
2. Fatwa ini secara rinci memuat hukum orang-orang yang melakukan istighotsah, dan di dalamnya diterangkan secara jelas perbedaan kondisi antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu.
3. Pertanyaan yang diajukan tersebut mengenai kondisi sekelompok kaum muslimin yang melakukan istighotsah yang hidup di suatu negeri yang di sana terdapat para ulama yang memberikan fatwa kepada mereka dalam perkara-perkara agama. Bukan mengenai orang yang baru masuk Islam atau orang yang hidup jauh dari komunitas kaum muslimin. Akan tertapi fatwa ini bersifat umum mencakup semua yang kondisi yang mengkinkan bagi seseorang untuk tidak tahu meskipun berada di suatu tempat yang di sana terdapat para ulamanya. Penjelasan semacam ini sangatlah penting dalam menguraikan pendapat Ibnu Taimiyah sebagaimana yang akan kami terangkan kemudian.
4. Fatwa ini menunjukkan secara jelas bahwa orang yang terjerumus dalam kemusyrikan karena ketidaktahuannya tdiaklah otomatis gugur status Islamnya dan tidak pula berlaku hukum kafir pada dirinya. Karena Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa orang yang telah memahami kebenaran lalu dia tidak menghentikan perbuatannya maka wajib dibunuh, tidak boleh dikubur di pekuburan kaum muslimin dan tidak disholatkan. Berarti kalau orang yang belum memahami kebenaran maka tidak berlaku baginya hukum-hukum tersebut; dia tidak wajib dibunuh dan dikubur di pekuburan kaum muslimin.

Bersambung …

 

Baca juga, BERPERASANGKA BURUK DENGAN STATUS KEIMANAN SESEORANG