Pandangan Imam Ibnu Taimiyah Dalam Masalah Udzur Jahl (Kebodohan). part 3

Duniaekspress.com. (27/10/2018).

Baca sebelumnya, PANDANGAN IMAM IBNU TAIMIYAH DALAM MASALAH UDZUR DENGAN KEBODOHAN part 2

Lokasi kedua: Di antara lokasi Ibnu Taimiyah dalam menyatakan pemberian udzur karena ketidaktahuan pada masalah istighotsah adalah pada saat ia membantah AlBakri. Di mana Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnuya setelah mengetahui ajaran yang dibawa Rosul SAW, otomatis kita mengetahui bahwasanya Rosul tidak mensyariatkan bagi umatnya untuk berdoa kepada seorangpun yang telah mati, baik yang mati itu dari kalangan para Nabi, orang sholeh maupun yang lainnya, baik dengan menggunakan kata-kata istighotsah maupun yang lainnya, baik dengan kata-kata permohonan perlindungan maupun yang lainnya. Sebagaimana juga Rosul tidak mensyariatkan kepada umatnya untuk sujud kepada orang yang telah mati maupun yang belum mati maupun yang lainnya. Justru yang kita ketahui adalah bahwa Rosul itu melarang semua perbuatan tersebut, dan bahwa itu semua adalah syirik yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya. Akan tetapi dominannya kebodohan dan sedikitnya pengetahuan terhadap atsar-atsar ajaran Islam di kalangan generasi belakangan, menjadikan hal itu tidak memungkinkan untuk mengkafirkan mereka yang melakukannya sampai mereka memahami mana ajaran yang dibawa oleh Rosul SAW dan mana ajaran yang bertentangan dengannya. Oleh karena itu tidaklah permasalahan ini dijelaskan kepada orang yang memahami dasar ajaran Islam kecuali ia akan sadar dan mengatakan: Ini adalaha dasar ajaran Islam.” (Al-Istighotsah Fi Ar-Roddi ‹Ala Al-Bakri, karangan Ibnu Taimiyah, hal. 731)
Inilah perkataan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa istighotsah kepada kuburan itu kufur akbar, akan tetapi tidak semua yang melakukan istighotsah itu dihukumi kafir sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Dan ia menetapkan bahwa pemberian udzur ini berlaku bagi setiap orang yang belum sampai ilmunya kepadanya meskipun yang bersangkutan bukan orang yang baru masuk Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh perkataannya di atas.
Lokasi ketiga: Ketika Ibnu Taimiyah ditanya tentang hukum istighotsah kepada Nabi SAW, ia menjelaskan bahwa barangsiapa beristighotsah kepadanya dalam perkaraperkara yang hanya Alloh SWT yang mampu, orang tersebut tidaklah kafir sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Di mana ia pernah ditanya oleh seseorang: “Apa pendapatmu wahai Syaikh, mengenai orang yang mengatakan; Tidak boleh beristighotsah kepada Rosul SAW. Apakah perkataannya ini haram, dan apakah dia kafir apa tidak? Dan jika dia berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan haditshadits Nabi SAW, apakah dalilnya itu berguna baginya ataukah tidak? Dan apabila telah tegak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah maka apa yang harus dilakukan oleh orang yang menyelisihinya? Berilah fatwa kepada kami, semoga anda mendapat pahala!”
Ibnu Taimiyah pun memberikan jawaban yang panjang. Di mada pada awalnya ia menjelaskan adanya syafaat Nabi SAW pada hari qiyamat, dan ia memperinci penjelasan masalah ini. Setelah itu ia menjelaskan beberapa istighotsah yang diperbolehkan. Setelah itu ia mengatakan: “Beristighotsah kepada Nabi SAW dalam pengertian memintak kepadanya apa saja yang pantas sesuai kedudukan beliau, maka hal ini tidak ada seorang muslimpun yang menentangnya. Dan siapa saja yang menentang hal ini bisa jadi dia kafir jika menentang apa-apa yang pengingkarannya bisa membuat kafir, atau bisa jadi dia salah dan sesat.
Adapun istighotsah dalam pengertian yang dinafikan oleh Nabi SAW maka ini juga wajib dinafikan. Dan barangsiapa menetapkan untuk selain Alloh SWT sesuatu yang hanya layak buat Alloh maka dia kafir jika telah tegak kepadanya hujjah yang pengingkarannya menyebabkan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa 1/108112)
Ucapan-ucapan Ibnu Taimiyah ini sangat jelas menunjukkan bahwa ketidaktahuan itu adalah udzur dalam perkara istighotsah kepada kuburan. Juga jelas menunjukkan bahwa siapa saja yang beristighotsah kepada kuburan sementara dia tidak mengetahui apa hukum melakukannya baik karena ada syubhat atau karena belum sampai kepadanya ilmu yang benar, orang seperti ini tidaklah kafir. Dan secara dasar hukum syar’inya tidak ada bedanya antara orang yang baru masuk Islam, dengan orang yang tumbuh di negeri kafir, dan dengan orang yang tumbuh di negeri kaum muslimin. Maka hukum asalnya bagi mereka semua adalah bahwa siapa saja yang beristighotsah kepada kuburan sementara dia tidak tahu yang mana ketidaktahuannya itu bisa diterima, orang semacam ini tidak difonis kafir sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Dan setiap orang yang belum tegak hujjah kepadanya maka tidak bisa difonis kafir. Setelah itu pembahasannya tinggallah mengenai kondisi yang bagaimana yang bisa diterima atau tidak diterimanya klaim tidak tahu tersebut. Karena beda antara ketidaktahuan sebagai udzur bagi orang yang beristighotsah kepada kuburan dengan harus diterimanya setiap klaim tidak tahu dari orang-orang yang beristighotsah kepada kuburan. Yang pertama adalah hukum mengenai syar’i sedangkan yang kedua adalah mengenai sikap terhadap orang yang mengaku tidak tahu. Antara keduanya ada perbedaan. Oleh karena itu ketika kami katakan bahwa ketidaktahuan itu udzur bagi orang yang beristighotsah kepada kuburan itu tidak mesti setiap orang yang mengaku tidak tahu itu diterima pengakuannya dalam masalah ini. Mengenai perbedaan ini akan ada penjelasan tambahan nanti.
Lokasi keempat: Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa siapa saja yang melakukan kesalahan para sebagian perbuatan syirik, di mana karena ketidaktahuannya dia menyangka bahwa perbuatan tersebut boleh, orang yang seperti ini tidak kafir. Dalam hal ini ia berkata: “Di antara mereka ada yang meminta kepada Alloh SWT apa-apa yang semestinya diminta kepada Alloh SWT. Di mana dia mengatakan; Ampunilah aku .. Berilah rizki aku .. Tolonglah aku .. Dan lain-lain yang serupa dengannya, sebagaimana yang diucapkan orang yang sholat kepada Alloh SWT. Juga perkaraperkara lain yang tidak diragukan lagi oleh siapapun yang memahami ajaran Islam bahwa perkara-perkara tersebut bertentangan dengan ajaran seluruh rosul. Perkara-perkara tersebut adalah syirik yang diharamkan oleh Alloh SWT dan Rosul-Nya, bahkan merupakan perkara syirik yang karenanya Rosululloh SAW memerangi orang-orang musyrik. Mereka para pelaku amalan-amalan tersebut mendapatkan udzur jika mereka tidak tahu, dan hujjah belum tegak kepada mereka, sebagaimana Alloh SWT memberi udzur kepada orang yang belum diutus Rosul kepadanya, sebagaimana firman Alloh SWT; ((Dan tidaklah Kami menyiksa sampai Kami mengutus seorang Rosul)) (Al-Isro’: 15) … namun jika tidak niscaya mereka berhak mendapatkan hukuman di dunia dan akherat sebagaimana yang berhak didapatkan orang-orang musyrik semacam mereka.” (Qo’idah ‘Adhimah, karangan Ibnu Taimiyah, hal. 70, dan Majmu’ Fatawa 20/23)
Lokasi kelima: Ibnu Taimiyah tidak mengkafirkan perindifidu pengikut kelompok-kelompok yang melakukan istighotsah kepada kuburan seperti Rofidloh dan Tartar. Juga tidak mengkafirkan para ulama yang berpendapat bahwa istighotsah kepada kuburan itu bukan syirik akbar, seperti Al-Bakri, Taqiyuddin As-Subki dan lainnya. Seandainya Ibnu Taimiyah itu berpendapat bahwa istighotsah kepada kuburan itu merupakan perkara yang tidak diberi udzur karena ketidaktahuan maupun takwilan, tentu ia mengkafirkan mereka semua secara perindifidu. Tapi dia tidak begitu. Ini semua menunjukkan bahwa ia berpandangan adanya udzur karena ketidaktahuan dan takwilan dalam masalah ini.
Ibnu Taimiyah itu tidak mengkafirkan semua Rofidloh secara perindifidunya kecuali orang yang telah tegak hujjah risaliyah kepadanya. Bahkan ia menegaskan bahwa di antara mereka ada yang beriman secara lahir dan batin. Di mana ia mengarakan: “Syi’ah Imamiyah Itsna’asyariyah jauh lebih baik daripada mereka.

Karena Syi’ah Imamiyah itu meskipun kebodohan dan kesesatan mereka itu sangat parah, di antara masih ada orang-orang Islam lahir batin dan bukan orang zindiq maupun munafiq, akwn tetapi mereka itu bodoh, sesat dan mengikuti hawa nafsu mereka. ” (Lihat: Minhaju As-Sunnah An-Nabawiyah, karangan Ibnu Taimiyah 2/452 dan 6/302)
Permasalahan ini telah saya kupas dalam satu kajian tersendiri dan sudah dipublikasikan di beberapa situs internet. (Lihat: Tahriru Madzhabi Ibni Taimiyah Fi Hukmi Ar-Rofidloh, karangan penulis di forum Ahlu Al-Hadits)
Padahal istighotsah kepada kuburan itu konon merupakan ajaran mereka. Bahkan konon merekalah yang pertama kali membuat tempat-tempat ziyarah yang menjadi tempat Alloh SWT disekutukan. Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah mengatakan: “Dan yang pertama kali memalsukan hadits-hadits tentang bepergian untuk ziyarah ke tempat-tempat ziyarah yang dibangun di atas kuburan adalah para penganut bid’ah dari kalangan Rofidloh dan orang-orang yang semacam mereka, yang membuat sepi masjid-masjid dan mengagungkan tempat-tempat ziyarah yang menjadi tempat kemusyrikan, pendustaan dan pembuatan ajaran-ajaran bid’ah yang tidak ada sumbernya dari Alloh.” (Majmu’ Fatwa 27/224, 167, dan Qo’idah ‘Adhimah, hal. 68)
Di sini Ibnu Taimiyah berbicara tentang Rofidloh yang terjerumus dalam perkara syirik, sebagaimana yang namapak jelas dari perkataannya.
Ibnu Taimiyah juga tidak mengkafirkan Tartar. Padahal mereka terjerumus ke dalam kemusyrikan yang nyata akan tetapi mereka tidak tahu kalau hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan Ibnu Taimiyah menetapkan adanya udzur buat mereka. Dalam hal ini ia mengatakan: “Barangsiapa berdoa dan menunaikan haji kepada selain Alloh SWT, dia ini musyrik dan perbuatannya kufur. Namun bisa jadi dia tidak tahu bahwa perbuatannya tersebut syirik yang diharamkan. Sebagaimana banyak dari kalangan Tartar yang masuk Islam sementara mereka memiliki patung-patung kecil yang terbuat dari bulu domba gimbal dan yang lainnya. Mereka beribadah mendekatkan diri kepadanya dan mengagungkannya, namun mereka tidak mengerti kalau hal itu diharamkan dalam ajaran Islam. Mereka juga beribadah mendekatkan diri kepada api namun mereka tidak mengerti bahwa hal itu haram. Banyak model kemusyrikan yang samar bagi sebagian orang yang masuk Islam dan mereka tidak mengerti kalau hal itu syirik. Orang semacam ini adalah sesat dan amalannya batil. Akan tetapi ia tidak berhak mendapatkan hukuman sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Banyak juga orang-orang masuk Islam yang memiliki keyakinan bahwa melaksanakan haji ke kuburan beberapa imam dan syaikh itu lebih baik daripada haji itu sendiri atau setara dengannya, sementara mereka tidak tahu bahwa hal itu haram dan tidak ada seorangpun yang menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu syirik yang hukumnya haram dan tidak boleh dikerjakan.” (Ar-Roddu ‘Ala Al-Ikhnai, karangan Ibnu Taimiyah, hal. 206)
Ibnu Taimiyah juga tidak mengkafirkan secara perorangan terhadap para ulama yang memberikan anjuran melakukan istighotsah kepada kuburan, dan sekaligus mencarikan dalil-dalil yang mendukung perbuatan tersebut. Di antara contoh yang paling populer mengenai hal ini adalah: sikap Ibnu Taimiyah kepada Al-Bakri. Di mana Al-Bakri ini mengajak masyarakat untuk beristighotsah kepada kuburan, bahkan ia termasuk orang yang ekstrim dalam hal ini, dia juga mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan sering berdiskusi dengan Ibnu Taimiyah. Namun demikian Ibnu Taimiyah tidak mengkafirkannya. Justru Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kita tidak akan membalas sikap jahil dan tuduhan kafirnya Al-Bakri dengan balasan yang serupa. Seperti kalau ada orang memberikan kesaksian palsu atau menuduh orang lain berbuat serong, maka orang yang dituduh itu tidak boleh membalas dengan memberikan kesaksian palsu ataupun menuduh berbuat serong.” (Al-Istighotsah Fi Ar-Roddi ‘Ala Al-Bakri, karangan Ibnu Taimiyah 2/385) Ibnu Taimiyah dalam bersikap seperti ini berdalil dengan dalil-dalil yang ia gunakan sebagai dalil udzur atas ketidaktahuan di setiap pembahasan masalah udzur atas ketidaktahuan. Seandainya Ibnu Taimiyah tidak memberikan udzur kepada orang yang tidak tahu atau yang melakukan takwil dalam perkara seperti ini tentu ia akan mengkafirkan Al-Bakri karena Al-Bakri telah melakukan penyimpangan dalam perkara yang jelas-jelas perkara syirik. Lebih dari itu, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sebagian orang yang mengajak masyarakat melakukan istighotsah kepada kuburan dan mencari-carikan dalil yang membenarkannya, sebagai orang yang padanya terdapat kebaikan dan iman. Di mana dalam hal ini Ibnu Taimiyah mengatakan: “Perbuatan ini — yakni beristighotsah kepada Nabi SAW setelah beliau wafat — setahu saya tidak ada seorangpun ulama yang mengajarkannya. Tapi ada terdapat dalam potongan kalimat sebagian orang seperti Syaikh Yahya Ash-Shorshori, di mana dalam potongan syairnya ada kata-kata mengenai masalah ini. Demikian pula Syaikh Muhammad bin An-Nu’man, di mana dia menulis buku tentang orang-orang yang melakukan istighotsah kepada Nabi SAW pada saat jaga maupun tidur. Dan orang ini — yakni Al-Bakri — menurut perkiraanku menukil ajaran ini darinya. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kebaikan dan keimanan. Akan tetapi mereka itu bukanlah orang-orang berilmu yang memahami hukum sehingga dapat diambil pendapatnya dalam perkara syariat Islam dan pemahaman halal dan haram. Mereka ini tidak memiliki dalil syar’i dan tidak pula memiliki nukilan dari ulama yang bisa diterima. Bahkan biasanya mereka juga melakukan apa yang biasa dilakukan oleh banyak masyarakat, yakni beristighotsah dan berdoa kepada Syaikhnya pada saat-saat susah. Ada juga beberapa Syaikh yang aku kenal dan memiliki keutamaan, ilmu dan zuhud, mereka ini kalau menghadapi suatu perkara berjalan beberapa langkah ke arah kuburan Syaikh Abdul Qodir lalu beristighotsah kepadanya. Apa yang dilakukannya ini juga dilakukan banyak orang. Lebih parah lagi ada orang yang datang ke kuburannya lalu berdoa kepadanya, berdoa dengannya dan berdoa di sisinya. Mereka ini tidak memiliki landasan syar’i dari Al-Qur’an atau sunnah atau perkataan sahabat dan para imam.” (Al-Istighotsah Fi Ar-Roddi ‘Ala Al-Bakri, hal. 367-368, lihat pula Majmu’ Fatawa 1/364) Di antara yang memperkuat hal ini adalah sikap Ibnu Taimiyah terhadap orang-orang yang terpengaruh paham Jahmiyah. Di mana Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa pendapat-pendapat mereka ini termasuk pendapatpendapat paling berat yang mengkafirkan penganutnya dan mengeluarkannya dari Islam, dan sisi-sisinya paling jelas yang menjadikan pendapat-pendapat mereka tersebut lebih parah daripada pendapat-pendapat yang lainnya. Dan sisisisi tersebut merupakan sisi-sisi yang dijadikan alasan oleh kelompok yang tidak memberikan udzur atas ketidaktahuan dalam masalah istighotsah, yang mana pendapat tersebut mereka klaim sebagai pendapat Ibnu Taimiyah sehingga atas dasar itu mereka menganggap bahwa Ibnu Taimiyah tidak memberikan udzur. Sisi pertama: nas-nas yang bertentangan dengan pendapat mereka dalam AlQur’an, Sunnah dan ijma’ itu banyak dan masyhur, demikian pula halnya dengan masalah istighotsah. Sisi kedua: pada hakekatnya pendapat mereka itu adalah menentang adanya pencipta. Demikian halnya pada istighotsah, padanya terdapat unsur penolakan salah satu sifat pencipta yang paling jelas yaitu sifat ubudiyah. Sisi ketiga: mereka itu menyelisihi apa yang telah disepakati oleh seluruh ajaran manapun dan semua orang yang memiliki fitrah. Demikian halnya dengan istighotsah, ia menyelisihi seluruh ajaran yang benar dan seluruh agama yang lurus. Namun demikian Ibnu Taimiyah mengatakan mengenai orang yang terpengaruh dengan paham Jahmiyah tersebut: “Namun demikian banyak orang beriman yang tidak memahami secara jelas pendapat-pendapat mereka sampaisampai orang-orang beriman tadi menyangka bahwa yang benar itu adalah mereka karena berbagai syubhat yang mereka sampaikan. Sehingga orangorang beriman tadi memang benar-benar beriman kepada Alloh SWT dan RosulNya SAW secara lahir batin. Akan tetapi mereka itu terkecoh dan salah paham sebagaiamana yang dialami para penganut bid’ah lainnya. Orang-orang seperti ini jelas bukan orang-orang kafir, namun di antara mereka ada yang fasiq dan ada yang pelaku maksiat, bisa juga di antara mereka yang secara tidak sengaja salah sehingga mendapatkan ampunan, dan bisa jadi dia memiliki keimanan dan ketaqwaan sehingga dia mendapatkan perwalian dari Alloh SWT sesuai dengan kadar dengan keimanan dan ketaqwaannya.” (Majmu’ Fatawa 3/355, lihat juga pada 12/485-489)
Pendasaran yang dibuat Ibnu Taimiyah ini sangat penting sekali untuk menyikapi berbagai persoalan. Di mana secara jelas ini menunjukkan bahwa orang Islam yang karena ketidaktahuannya terjerumus dalam kemusyrikan maka tidak secara otomatis status Islamnya hilang, bahkan terkadang pada dirinya terdapat keimanan dan ketaqwaan. Juga secara jelas menunjukkan salahnya orang yang mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah itu tidak memberikan udzur pada perkara-perkara yang jelas. Karena di sini ia menyatakan bahwa pendapatpendapat Jahmiyah itu jelas-jelas batil, namun demikian ia menyatakan secara jelas bahwa mereka itu diberi udzur atas ketidaktahuan mereka dan mereka itu tidak hilangnya status Islamnya.
Berbagai perkataan Ibnu Taimiyah di atas dengan jelas menunjukkan bahwa ia berpendapat bahwa ketidaktahuan itu merupakan udzur yang menghalangi jatuhnya fonis kafir dan musyrik terhadap orang Islam yang terjerumus dalam syirik akbar, dan bahwa orang tersebut tidak keluar dari lingkaran Islam.
Pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah tersebut sangat rumit mendudukkannya bagi orang-orang yang tidak memberikan udzur dalam perkara-perkara syirik atau perkara-perkara yang jelas, dan mengklaim bahwa ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah. Karena pernyataan-pernyataan tersebut benar-benar bertentangan dengan kesimpulan mereka, padahal mereka telah bersungguh-sungguh dalam membuktikan bahwa Ibnu Taimiyah memiliki pendapat sebagaimana pendapat mereka, dan bahwasanya ia sama seperti mereka tidak memberi udzur dalam perkara-perkara syirik, dan bahwasanya ia juga berpendapat bahwa orang yang karena ketidaktahuannya terjerumus dalam kemusyrikan itu otomatis status Islamnya gugur dan berlaku baginya hukum-hukum kekafiran di dunia.
Dan dalam mengklaim bahwa pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ibnu Taimiyah, mereka mengandalkan tiga macam pernyataan dari Ibnu Taimiyah:
Pertama: pernyataan-pernyataan yang menjelaskan fonis umum mengenai hukum masalah ini. Mereka mengatakan bahwa seringkali Ibnu Taimiyah mengatakan secara lepas: Siapa saja yang melakukan ini maka dia musyrik, kafir, murtad. Seandainya ia berpendapat adanya udzur bagi orang yang tidak tahu tentu ia memberikan pengecualian dari fonis umum tersebut.

Kedua: pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah dalam menjelaskan madzhab Ahlus Sunnah mengenai peran akal dan fitrah dalam menunjukkan kebaikan dan keburukan. Mereka mengatakan: Ibnu Taimiyah dalam banyak tempat menyatakan bahwa penamaan kafir dan syirik itu telah ditetapkan sebelum datangnya risalah, dan bahwa Alloh SWT itu menyebut ajaran yang dianut orangorang kafir itu adalah syirik. Seandainya Ibnu Taimiyah memberi udzur kepada orang yang tidak tahu tentu ia tidak mengatakan seperti itu.
Ketiga: pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah yang mereka pahami membedakan antara perkara-perkara yang jelas dengan perkara-perkara yang samar. Mereka mengatakan: ada pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah yang menunjukkan bahwa ia tidak memberikan udzur atas ketidaktahuan orang pada perkara-perkara yang jelas, ia hanya memberikan udzur pada perkara-perkara yang samar saja.
Apa-apa yang mereka jadikan sandaran ini akan dijelaskan kemudian mengenai kesalahan-kesalahannya pada pembahasan berikutnya biidznillah ta’ala.
Adapun sikap mereka terhadap pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah di atas, mereka telah berusaha mencari-carikan tafsiran-tafsirannya. Dan dalam hal ini mereka menyebutkan berbagai macam penafsiran yang akan dijelaskan kesalahan-kesalahannya dalam pembahasannya kemudian. (AB).

selesai…

 

Baca juga, PANDANGAN IMAM IBNU TAIMIYAH DALAM MASALAH UDZUR DENGAN KEBODOHAN