Duniaekspress.com (29/10/2018)- Fikih belanja sebenarnya sudah dibahas para ulama fikih di zaman klasik dalam kajian mereka dalam buku-buku fikih di kitab nafaqah. Allah telah mewajibkan seorang lelaki sebagai kepala keluarga untuk memberikan nafkah/belanja kepada istri dan anaknya dengan cara yang makruf, dengan cara yang paling baik. Hal ini Allah tetapkan dalam banyak ayat Al Qur’an di antaranya adalah firman Allah berikut :

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi nafkah dan pakaian dengan cara yang baik.” (Q.S. Al Baqarah/2 : 233).

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ

“Hendaknya orang yang memiliki keluasan memberikan nafkah menurut kesanggupan.” (Q.S. Ath Thalȃq/65 : 7).

Melalui dua ayat di atas Allah menetapkan para pemimpin haru memberikan nafkah/belanja berupa belanja pokok dan kebutuhan pakaian dengan cara yang baik. Bukan hanya belanja harian atau kebutuhan pokok, namun kebutuhan pakaian juga diwajibkan karena sifatnya dharuri untuk menutupi aurat.

Baca juga:

GENERASI BAL’AM DI INDONESIA

Lalu bagaimana dengan kedua orangtua? Apakah seorang anak dalam hal ini kepada keluarga wajib memberikan nafkah kepada orang tuanya? Aslinya, seorang anak tidak wajib memberikan nafkah kepada kedua orangtuanya, kecuali jika kedua orangtua tidak memiliki harta atau sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan keduanya tidak memiliki penghasilan atau sumber pendapatan; dan pada saat yang sama si anak memiliki kemampuan dan kemudahan untuk memberikan nafkah tersebut.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan ada dua syarat terkait kewajiban anak memberikan nafkah kepada kedua orantuanya : Pertama, syarat terkait kondisi orangtua. Kedua, syarat terkait anak. Syarat terkait orang tua yaitu kondisi orangtua yang tidak memiliki harta dan penghasilan untuk mendapatkan harta. Syarat terkait ana yaitu kemampuan anak memberikan nafkah kepada orangtua, karena pada dasarnya kewajiban ia adalah menafkahi keuarga kecilnya berdsarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara umum, “Mulailah dari dirimu dan keluargamu.” Berikut keterangan detailnya :

1. Memiliki Kemampuan dan Kemudahan.

Kemampuan dan kemudahan di sini memiliki arti; anak memiliki kelebihan rezeki untuk menutupi kebutuhan hariannya dan keluarganya. Kelebihan ini yang akan diberikan kepada orang tua. Bukan kebutuhan anak dan keluarga yang disalurkan kepada keluarga besar. Kalau anak tidak memiliki kelebihan, maka tidak ada kewajiban bagi anak menafkahi orangtua dikarenakan kesulitan yang dimilikinya. Namun, bagian dari ihsan/berbuatbaik tetap berupaya memberikan yang terbaik kepada orangtua.

2. Kedua Orangtua Tidak Memiliki Harta/Saving.

Kalau keduanya memiliki harta yang mencukupi kebutuhan keduanya maka anak-anaknya tidak wajib memberikan nafkah keapada keduanya. Jika keduanya sakit, gila atau buta, namun keduanya memiliki harta yang dapat memenuhi kebutuhannya maka anak-anak mereka tidak wajib memberi nafkah karena keduanya tidak membutuhkan harta dari anak.

3. Keduanya Tidak Memiliki Penghasilan.

Kalau keduanya memiliki penghasilan yang mencukupi maka tidak wajib menafkahi keduanya, karena penghasilan menggantikan posisi harta mereka.

Baca juga:

KEPRIHATINAN MANTAN PETINGGI ANSOR DAN BANSER

Ketiga syarat ini mengikat hukum. Artinya, jika ketiga syarat terkumpul maka seorang anak memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada kedua orangtuanya. Jika salah satu dari ketiga syarat di atas tiada maka anak tidak wajib menafkahi orangtuanya. Keberadaan syarat menyebabkan keberadaan hukum. Hilangnya salah satu dari syarat menyebabkan hilangnya hukum.

Lalu bagaimana jika suami termasuk suami yang pelit sehingga tidak pernah berupaya memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya terkhusus istri?