Pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Tentang Udzur Jahil

Duniaekspress.com. (30/10/2018).

Tidak diragukan lagi bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed setelahnya, adalah termasuk para ulama yang paling banyak mengkaji dan membuat ketetapan masalah udzur jahil dalam perkara syirik akbar. Mereka termasuk orang yang paling memiliki perhatian dan paling banyak mengkaji masalah ini. Oleh karena itu pernyataan-pernyataan mereka dalam masalah ini sangat banyak sekali, dalam kontek yang bermacam-macam dan untuk tujuan yang berbeda-beda. Sehingga pernyataan-pernyataan mereka tentang masalah ini sebagiannya nampak kontradiktif.
Dan sejak dulu sampai sekarang orang berselisih pendapat mengenai apa sebenarnya pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya dalam masalah ini. Berbagai macam kajian ditulis mengenai masalah ini dengan tujuan untuk memaparkan berbagai pernyataan mereka dan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pendapat mereka.
Siapa saja yang mengikuti berbagai kajian-kajian tersebut, niscaya dia akan dapatkan bahwa ternyata para penulisnya memiliki kesimpulan yang berbedabeda sampai taraf kontradiksi. Di mana sebagian di antara mereka ada yang berkesimpulan bahwa syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu memberikan udzur bagi orang yang tidak tahu dalam perkara syirik dan mereka memaparkan berbagai pernyataan yang menguatkan bahwa memang seperti inilah pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya.

(Lihat:
• – Syarhu Kasyfi Asy-Syubuhat, Al-‘Utsaimin, hal. 46.
• – Si’atu Rohmati Robbi Al-‘Alamin, Sayyid Al-Ghobbasyi, hal. 57-62.
• – Nawaqidlu Al-Iman Al-I’tiqodiyah, Muhammad Al-Wuhaibi 1/268-286.
• – Dlowabithu At-Takfir, Abdulloh Al-Qorni, hal. 134.
• – Al-Jahlu Fi Masaili Al-I’tiqod Wa Hukmuhu, Abdurrozzaq Ma’asy, hal. 434.
• – Al-‘Udzru Bi Al-Jahli Wa Ar-Roddu ‘Ala Bid’ati At-Takfiri, Ahmad Farid, hal. 63.
• – Al-‘Udzru Bi Al-Jahli ‘Aqidatu As-Salafi, Syarif Hazza’, hal. 144.
• – Syubuhatu At-Takfiriyyin, Umar Abdul Aziz, hal. 345.
• – Taqrirotu Aimmati Ad-Da’wati Fi Ar-Roddi ‘Ala Al-Khowarij, Muhammad Thohiri, hal. 437-452.)
Sebagian lagi berkesimpulan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu tidak memberikan udzur karena ketidaktahuan dalam perkara syirik. Dan mereka mengumpulkan berbagai nukilan yang menguatkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu berpendapat seperti ini.

(Lihat:
• – Al-Jawabu Al-Mufidu Fi Hukmi Tariki At-Tauhid, Abu Abdillah Abdurrohman bin Abdil Majid, hal. 111-119
• – Al-‘Udzru Bi Al-Jahli Tahta Al-Mijhar, Madhat Alu Farroj.
• – Atsaru Hujaji At-Tauhid, Alu Farroj.
• – ‘Aridlu Al-Jahli, Abu Al-‘Ala Ar-Rosyid.
• – Dlowabithu Takfiri Al-Mu’ayyani ‘Inda Syaikhoi Al-Islami Ibni Taimiyata Wa Ibni ‘Abdil Wahhab, Abu Al-’Ala Ar-Rosyid.)
Dalam kajian ini kami tidak ingin mengesampingkan berbagai macam nukilan dari para ulama dakwah Nejed mengenai masalah ini. Oleh karena itu kami akan nukilkan dalam kajian ini berbagai pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka memberikan udzur atas ketidaktahuan orang dalam masalah syirik. Dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa nukilan mengenai masalah ini banyak sekali.

Sebelum masuk ke sana, kami harus menyampaikan satu pengantar penting untuk memahami berbagai pernyataan para ulama dakwah Nejed yang berkaitan dengan takfir al-mu’ayyan (mengkafirkan orang perorang). Yaitu bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu pada saat memulai dakwahnya untuk pemurnian tauhid dan memerangi syirik, ia mendapatkan penentangan dari berbagai kelompok. Di mana yang paling keras dan paling banyak adalah dari kalangan yang menentang bahwa istighotsah kepada kuburan dan amalan lainnya yang dilakukan masyarakat itu adalah syirik akbar. Mereka berpendapat bahwa itu semua adalah syirik asghor yang otomatis akan mendapatkan ampunan dengan berbagai musibah yang dialaminya maupun amalan-amalan baik penghapus dosa yang dilakukannya. Atas dasar itu dan juga yang lainnya mereka berpendapat tidak mungkin orang muslim yang terjerumus dalam syirik itu dikafirkan selama dia mengakui dua kalimat syahadat. Di antara yang paling terkenal yang memiliki sikap seperti ini adalah: Sulaiman bin Abdul Wahhab dan Ibnu Jirjis.
Para pengikut kelompok ini berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka mengumpulkan nashnash syariah dan pernyataan para ulama dengan sangat banyak sekali untuk memperkuat pendapat mereka.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya juga mengerahkan usaha yang besar untuk membantah keduanya. Ia terpaksa menghadapi keduanya dengan segenap kekuatannya, banyak membahasnya, banyak menukil nashnash syar’i yang menunjukkan bahwa bisa saja orang yang sholat, puasa dan dzikir itu kafir. Ia banyak mengumpulkan pernyataan para ulama — terutama Ibnu Taimiyah — yang menguatkan bahwa para ulama tersebut juga memfonis kafir dan musyrik kepada orang perorang apabila ia terjerumus pada sesuatu yang mengharuskan untuk difonis seperti itu. Dan amalan-amalan sholih yang dilakukannya tidak menghalangi para ulama tersebut untuk memfonis kafir.
Pernyataan-pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengenai hal ini banyak sekali. Bahkan ia menulis beberapa buku yang khusus membahas masalah ini. Di antaranya adalah buku terkenalnya yang berjudul: Mufidu AlMustafidi Fi Kufri Tariki At-Tauhid. Di mana tujuan asalnya buku ini ditulis untuk membantah orang yang menentang adanya kemungkinan seseorang yang terjerumus dalam kemusyrikan untuk dikafirkan. Jadi tujuannya itu bukan untuk menerangkan bahwa ketidaktahuan itu bukan udzur dalam perkara syirik. Hal ini dapat dipahami dari cara berdalil Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam buku ini.

Hal lain yang juga menguatkan hal ini adalah: bahwa kitab ini asalnya adalah bantahan terhadap saudaranya yang bernama Sulaiman. Sementara telah diketahui bersama bahwa saudaranya ini menentang dia dalam dua perkara tersebut.
Hal lain yang juga menguatkan hal ini adalah: bahwa para ulama dakwah Nejed itu menyikapi kitab tersebut sebagai kitab yang bertujuan untuk menetapkan atas dibenarkannya memfonis kafir orang perorang, bukan untuk menetapkan tidak adanya udzur atas ketidaktahuan. Dalam menjelaskan persoalan ini Muhammad bin Ibrohim mengatakan: “Imam dakwah (Nejed) ini telah menulis kitab tentang takfir al-mu’ayyan dengan judul Mufid Al-Mustafidi Fi Kufri Tariki At-Tauhid di sana ia menjelaskan bahwasanya kita tidak bisa menghindar dari takfir al-mu’ayyan dengan syarat-syaratnya yang syar’i.” (Majmu’ Fatawa Wa Rosail Muhammad bin Ibrohim 1/60)
Dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab selalu mengulang-ulang perkataannya bahwa orang yang terjerumus dalam kesyirikan itu dia kafir dan keluar dari Islam meskipun ia sholat dan puasa, dan bahwa orang perorang yang beristighotsah dan bernadzar kepada selain Alloh SWT itu tidak berguna lagi Islamnya.

Semua pernyataan ini diungkapkan dalam kontek membantah orang yang menentang kemungkinan dilakukannya takfir al-mu’ayyan, sehingga tidak bisa dibenarkan untuk dijadikan alasan bahwa Syaikh berpendapat tidak ada udzur jahil. Karena beda antara pembahasan mengenai hukum melakukan takfir almu’ayyan dengan pembahasan mengenai kaidah-kaidah dalam melakukan takfir al-mu’ayyan. Karena membahas takfir al-mu’ayyan itu mengharuskan pemisahan antara tidak mengkafirkannya dengan pengakuannya sebagai orang Islam, dan juga penetapan bahwa tidak semua orang yang mengaku Islam itu tidak mungkin dikafirkan. Inilah yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam berbagai pernyataannya yang banyak sekali itu.
Oleh karena banyak orang yang mengkaji pernyataan-pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tidak memahami tujuan dasar penulisan buku tersebut, akhirnya mereka memahami bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu tidak memberi udzur kepada orang perorang yang karena ketidaktahuannya dia terjerumus dalam syirik, dan bahwa siapa saja yang terjerumus dalam kemusyrikan itu kafir menurutnya. Ini sebenarnya adalah kesalahan dalam memahami pembicaraan. Di mana kontek pembicaraannya adalah tidak tengah membahas kaidah-kaidah takfir al-mu’ayyan, akan tetapi membahas tentang memungkinkannya takfir al-mu’ayyan terhadap orang yang terjerumus dalam kekafiran. Dua masalah ini jelas berbeda. (RR).

Baca juga, PERKATAAN-PERKATAAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB YANG DISEMBUNYIKAN