*Politik Bendera : Bendera Sebagai Indentitas*

Duniaekspress.com. (3/11/2018). Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dari suatu golongan. Identitas ini dapat berupa identitas pribadi, golongan, kelompok, komonitas bahkan negara jika hal tersebut adalah ciri khas yang lahir dari kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri yang menidentikan diri dengan ciri-ciri yang khas tertentu.

Identitas bangsa misalnya, adalah suatu ciri khas yang dimiliki suatu bangsa yang secara fisiologi membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Demikian pula dengan hal ini sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis.

Identitas “masyarakat” – atau negara – Madinah adalah sekumpulan ciri yang dapat membedakan masyarakat Madihag dengan masyarakat lainnya. Identitas masyarakat Madinah terbentuk dan disepakati oleh para pendiri masyarakat/negara Madinah dalam hal ini adalah Rasulullah. Salah satu ciri dari masyarakat/negara Madinah adalah panji mereka yang khas yaitu bendera berwarna hitam, putih, dan dalam riwayat yang lain juga berwarna keemasan, dan terdapat tulisan Lȃ Ilaha Illallah – Muhammadur Rasulullah.

*Bendera Rasulullah dan Kaum Muslimin*

Ada beberapa hadits shahih yang menandaskan keberadaan bendera yang disebut dengan ‘liwā’ dan ‘rāyah’.Contohnya:

ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻮَﺍﺀُ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃَﺑْﻴَﺾ ، ﻭَ ﺭَﺍﻳَﺘُﻪَ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀ

“Bendera ‘liwā’ Rasulullah berwarna putih dan ‘rāyah’-nya berwarna hitam.” (HR. Tirmidzî, Al Hȃkim, Ibnu Majȃh dan Al Khatîb).

Berdasarkan riwayat Ibnu Sa’ad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Asakir bendera ( rāyah ) Rasulullah bernama ‘Al ‘Uqāb’.
Hadis ini hasan. Ada hadis lain misalnya pada waktu masuk Mekah –pada Pembebasan Kota Makah– ‘liwā’ nabi berwarna putih. Dengan adanya hadits shahih ini, maka tidak benarlah kalau ada yang mengatakan tak ada hadits shahih mengenai bendera Rasulullah.

Dalam sirah, ada dua macam bendera, yaitu: “liwā ” dan “ rāyah ”. Ibnul ‘Arabî memberi penjelasan mengenai perbedaan antara keduanya. “ Liwā” adalah bendera yang diikat di ujung tombak dan dililit (digulung) di atasnya. Sementara panji “rāyah ” yaitu yang diikat padanya kemudian dibiarkan berkibar. Pendapat lain menandaskan bahwa “ liwā” adalah bendera besar yang dipegang panglima besar, sedangkan “ rāyah ” dipegang oleh pimpinan-pimpinan militer di lapangan.

*Perlakuan Terhadap Bendera*

Liwā’ dan “ Rāyah merupakan simbol dari negara Madinah yang diperjuangkan oleh para Rasulullah dan para sahabat ketika itu; agar bendera dan kalimat yang ada dalam bendera itu tinggi berkibar dengan tangguh di seantero jagat raya. Penghormatan dan pemuliaan kepada Liwā’ dan “ Rāyah adalah salah satu bentuk kecintaan terhadap Islam itu sendiri. Walaupun rasa hormat dan pemuliaan itu tidak mesti dengan angkat tangan.

Satu hal perlu dicatat. Di dunia modren ini, perlakuan terhadap bendera tidak sama pada setiap negara. Amerika Serikat atau negara Eropa misalanya, bendera negara mereka bisa ditemukan di atap warung, bisa digunakan sebagai kain pembungkus, bahkan bisa dibuat untuk rok mini ataupun celana pendek. Namun satu hal, itu tidak akan terjadi pada Liwā’ dan “ Rāyah yang tertulis pada kalimat tauhid.

Pertanyaannya sederhana, apa perasaan kita sebagai kaum muslimin jika simbol islam dalam bingkai kenegaraan dalam hal ini bendera diperlakukan tidak layak? Dibakar misalnya. (AB)

oleh : Abu Sholeh

 

Baca juga, PERTAMA KALINYA BENDERA TAUHID DIPERKENALKAN