Hukum Berbuat Kasar Kepada Istri

Duniaekspress.com (5/11/2018)- Pertanyaan: Ustadz, tersebar video seorang suami di kudus memukul istrinya di depan umum, apadahal istri memakai jilbab. Apakah dibenarkan dalam syariat agama kita memukul istri sekalipun untuk memberikan pelajaran?

Jawaban:

Salah satu bentuk kebahagian duniawi, khususnya bagi seorang pria adalah wanita shalihah. Wanita shalihah adalah perhiasan duniawi yang tiada tara, karena wanita shalihah mampu menghadirkan kebahagian dan keceriaan ke dalam rumah tangganya. Wanita shalihah adalah wanita yang menyenangkan suaminya. Wanita yang penuh cinta dan kasih, penuh dengan kehangatan, tempat anak-anak ‘berteduh’ dan mendapatkan kasih dan cinta. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ؛ إذَا نَظَرْت إلَيْهَا سَرَّتْك وَإِذَا أَمَرْتهَا أَطَاعَتْك وَإِذَا غِبْت عَنْهَا حَفِظَتْك فِي نَفْسِهَا وَمَالِك

*“Dunia adalah perhiasan. Sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah. 1) Apabila kamu melihatnya maka ia akan menyenangkann padanganmu. 2) apabila kamu perintah ia pasti ia akan mentaatimu. 3) dan jika kamu tidak bersamanya maka ia akan menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu tidak ada.”* (HR. Muslim No. 1467, lihat pula Al Fatawȃ Ibnu Taimiyah 8/437).

Sejatinya kebahagian adalah sesuatu yang sederhana. Kebahagian adalah sesuatu yang dapat merubah hidup menjadi lebih berasa. Dapat mendatangkan ketentraman. Dalam Al Qur’an Allah menerangkan, di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah dijadikannya manusia hidup berpasang-pasangan. Atas taqdir dan kuasa-Nya, dijadikan pada pasangan tersebut rasa cinta dan kasih, bahagia dan gembira, ketentraman dan saling melengkapi. Allah berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, *supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-nya diantaramu rasa kasih dan sayang*. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar Rûm/30 : 21).

Diriwayatkan dari Ismȃ’îl bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqȃsh, dari bapaknya (Muhammad) dari kakeknya (Sa’ad), ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ : الْجَارُ السُّوءُ ، وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ ، وَالْمَسْكَنُ الضِّيقُ ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ.

*Empat hal yang merupakan kebahagian: istri yang shalihah, rumah yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan kesengsaraan (ketidak bahagian): tetangga yang jahat, istri yang jahat, rumah yang sempit dan kendaraan yang tidak nyaman.”* (HR. Ibnu Hibbȃn dalam shahihnya).

Allah ciptakan pasangan bagi Adam dari tulang rusuknya, dari jiwanya sendiri, agar Adam merasakan ketentraman dan kebahagian. Tulang rusuk yang letaknya dekat dengan hati menunjukkan bahwa potongan tulang tersebut untuk dikasihi bukan untuk disakiti. Letaknya yang dekat dengan kedua tangan menunjukkan ia butuh dekapan dan perlindungan.
Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan ayat di atas :

قال ابن كثير -رحمه الله تعالى-: “فلا ألفة بين روحين أعظم مما بين الزوجين”

“Tiada rasa kasih dan sayang yang lebih agung di antara dua ruh dari pada rasa kasih dan sayang dua sejoli yang berpasangan.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/275).

Melalui pernikahan, Allah menciptakan kebahagian pada dua sejoli yang berpasangan. Allah ciptakan anak Adam berpasang-pasangan untuk menghadirkan ketentraman pada keduanya. Kekompakan dan keserasian di antara keduanya Allah gambarkan dengan ungkapan yang indah, “Isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Q.S. Al Baqarah/2 : 187).

Suami sebagai pelindung mencari nafkah, sedangkan istri bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Suami yang bergelut dengan berbagai masalah di luar rumah dengan berbagai kepenatan akan merasakan kesejukan begitu mengijakkan kakinya di rumah. Karena salah satu hikmah dan fungsi nikah untuk men’sukun’kan pasangan. Sukun secara bahasa artinya ‘tempat tinggal’ – tentram -tenang, ini berarti suami atau istri yang mengalami kepenetan karena aktivitas sehari-hari akan merasa sukun atau tentram apabila bertemu pasangannya. ‘Taharukat’ atau aktivitas suami yang melelahkan akan hilang seketika begitu sampai di rumah, sebab ia mendapatkan sakinah atau ketentraman istana surgawinya. Di sinilah letak ungkapan; “Baiti Jannati, Rumahku Adalah Surgaku.” Sejatinya, rumah tangga yang sakinah adalah miniatur surgawi yang Allah anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan shalihah. Sedangkan rumah sejati bagi dua sejoli tersebut:

وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ

“Dan ke tempat tinggal yang terbaik adalah di dalam surga ‘Adn.” (Q.S. Ash Shȃff/61 : 12).

Dari penjelasan yang panjang di atas, ada satu kesimpulan: tidak boleh memperlakukan istri dengan buruk apalagi memukulnya di depan umum. Berbuat kasar saja tidak diperkenankan apalagi sampai memukulnya dan itu dilakukan depan umum, dipertontonkan ke khlayak ramai. Wa Na’udzu billah min Zalik. [Ayah_Shalih ]