Menjalin Ukhuwah menghindari fitnah

oleh :  : Ibnu Jihad

Duniaekspress.com. (8/11/2018). Berukhwah di zaman penuh fitnah. Hubungan persaudaraan antara manusia sangat beraneka ragam menurut macam-macam tujuan dan maksudnya.

Hubungan persaudaraan yang paling kokoh talinya, paling mantap jalinannya, paling kuat ikatannya, dan paling setia kasih sayangnya ialah persaudaraan berdasarkan agama, lebih khususnya agama Islam.

Persaudaraan berlandaskan akidah dan iman, serta berdasarkan agama yang murni karena Rabb Yang Maha Esa senantiasa mampu mempersatukan umat Islam dari berbagai penjuru.

Dengan kalimat “Laa ilaaha illaLlah Muhammadarrasulullah” kunci keakraban para personelnya yang ada di belahan bumi bagian timur maupun barat. Menjadi satu kesatuan yang pilar-pilarnya sangat kuat dan bangunannya sangat kokoh. Sehingga, badai topan pun tidak sanggup menggoyahkannya. Ia laksana bangunan yang dibangun dengan timah dan ibarat tubuh yang satu.

Gambar terkait

Ketakwaan Kunci Kemuliaan

Dengan takwa yang hakikilah manusia menjadi yang termulia di sisi Allah Ta’ala,sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Islam datang untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan. Dalam pandangan Islam, tak ada bangsa, golongan, suku, dan warna kulit yang lebih unggul satu dengan yang lainnya. Begitu mereka mengaku sebagai Muslim, mereka sama derajatnya. Mereka adalah hamba Allah, yang diikat dengan satu kalimat yang sama, kalimat “Laa ilaaha illaLlah Muhammadarrasulullah”.

Siapa yang telah bersaksi dengan kalimat tauhid itu, maka dia adalah saudara. Saudara seiman, saudara seakidah, karena tuhannya sama, Allah Ta’ala. Rasul yang diutus kepada kita sama, Muhammad Saw. Kitabnya sama, Al-Quran. Arah kiblatnya sama, Ka’bah di Makkah al Mukaromah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara saudara-saudara kalian(QS. Al-Hujurat: 10).

 

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafâsir antara lain menyatakan, “Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor nasab.”

Menjalin Ukwah

Islam Itu Indah

Rasulullah Saw gambarkan bagaimana umat Islam seharusnya bersikap terhadap sesama Muslim. sebagaimana sabda beliau:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَراحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَطُّفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ؛ إِنِ اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالْحُمَّى والسَّهَرِ»

Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lembut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam (HR Baihaki: 30).

Maka, haram bagi Muslim saling mencela, menyakiti, apalagi saling membunuh. Baginda Rasulullah Saw bersabda:

«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran (HR al-Bukhari: 7078, Muslim: 28).

Bahkan, begitu berharganya persaudaraan dalam Islam itu, jangankan menyakiti dan membunuh, menakut-nakuti saja pun dilarang. Sabda Nabi Saw:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR Abu Dawud: 5004)

Maka, sebagai saudara, Islam menuntut kita menunjukkan rasa persaudaraan kita. Saling membantu dan tolong-menolong, saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya.

Hasil gambar untuk menjalin ukhuwah

Waspada Terhadap Fitnah

Waspadalah terhadap tipu daya setan dan musuh-musuh Islam yang menginginkan umat Islam terpecah, berbenturan, dan akhirnya saling bermusuhan. Hati-hati terhadap fitnah-fitnah yang bertebaran yang memprovokasi, agar sesama Muslim saling menyakiti dan mencaci maki. Tinggalkan fanatisme buta berkelompok. Ingat pesan Nabi Saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ ثُمَّ مَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِلْعَصَبَةِ وَيُقَاتِلُ لِلْعَصَبَةِ فَلَيْسَ مِنْ أُمَّتِى وَمَنْ خَرَجَ مِنْ أُمَّتِى عَلَى أُمَّتِى يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا لاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِى بِذِى عَهْدِهَا فَلَيْسَ مِنِّي

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Siapa yang keluar dari ketaatan dan memecah-belah jamaah (umat Islam), lalu mati, dia mati dalam keadaan mati jahiliyah. Siapa yang terbunuh di bawah panji buta, dia marah untuk kelompok dan berperang untuk kelompok, dia bukan bagian dari umatku. Siapa saja yang keluar dari umatku untuk memerangi umatku, memerangi orang baik dan jahatnya, serta tidak takut akibat perbuatannya atas orang Mukmin dan tidak memenuhi perjanjiannya, dia bukanlah bagian dari golonganku.”(HR Muslim: 1848) Wallahu Ta’ala ‘Alam.

sumber : majalah an-najah

 

Baca juga, JAGA PERSAUDARAAN DALAM DIEN SEKALIPUN KITA “BERBEDA” !