Ribuan pengungsi muslim Rohingya bernasib tidak jelas

Duniaekspress.com. (9/11/2018). Pihak berwenang Bangladesh dan Myanmar mengumumkan bahwa mereka berencana untuk memulai pemulangan ratusan ribu warga Rohingya pada pertengahan November. Belum jelas apakah itu benar-benar akan terealisasi, jika itu terjadi, apakah akan berdampak pada jumlah keseluruhan pengungsi di Bangladesh.

Diperkirakan 700.000 orang melarikan diri melintasi perbatasan pada tahun 2017 ketika tentara Myanmar melancarkan tindakan keras (yang dinyatakan Amnesti Internasional sebagai genosida) terhadap komunitas Muslim di Arakan dengan alasan sebagai balasan atas serangan gerilyawan terhadap pasukan keamanan di pos dekat perbatasan.

Pemerintah Bangladesh dan Myanmar mengumumkan rencana untuk memulangkan orang-orang Rohingya sementara masih ada orang yang melarikan diri dari Myanmar.

Sejak itu, ada ribuan kelahiran di kamp-kamp di Bangladesh, dan Reliefweb melaporkan pada 1 November bahwa masih ada orang-orang yang melarikan diri melintasi perbatasan.

Hampir 14.000 pengungsi baru dilaporkan dari Januari hingga 1 Oktober tahun ini. Reliefweb juga melaporkan bahwa “banyak pengungsi cemas dengan masa depan mereka, mereka tidak akan mau kembali sampai jelas mengenai masalah kewarganegaraan, hak hukum dan hak akses ke layanan dasar, keadilan dan pemulihan hak-hak mereka diselesaikan.”

Tuntutan itu sangat tidak mungkin diwujudkan karena otoritas sipil dan militer Myanmar, telah berulang kali menyatakan bahwa para pengungsi adalah imigran gelap dari Bangladesh.

Dan pada 31 Oktober, total hanya 24.874 orang yang telah diverifikasi sebagai warga Myanmar dalam sebuah verifikasi gabungan bersama antara PBB-UNHCR, itupun belum diakui oleh pihak berwenang Myanmar.

Sementara itu, para pengungsi tinggal di kamp-kamp pengungsi yang tidak kondusif untuk tinggal saat cuaca buruk, namun tidak ada pilihan lain bagi mereka.(RR).

Sumber: atimes

Baca juga, PBB DESAK BANGLADESH HENTIKAN PEMULANGAN MUSLIM ROHINGYA KE MYANMAR