Duniaekspress.com (12/11/2018)- Mengucapkan salam dan membalas salam termasuk hal yang dilalaikan di zaman ini dan ini adalah sesuatu yang telah dinubuwahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ.

“Sesungguhnya menjelang hari Kiamat akan ada pengucapan salam kepada orang-orang tertentu.” (HR. Ahmad. Sanadnya shahih).

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لاَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ لِلْمَعْرِفَةِ.

‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang hanya mengucapkan salam kepada orang yang dikenal.” (HR. Ahmad).

Melalui dua hadis di atas, ada satu informasi penting yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu salam –dan membalas salam- hanya diberikan kepada orang tertentu saja, hanya kepada orang yang dikenal, hanya kepada orang yang kelompok, satu pengajian, satu jamaah, satu faham dengannya. Ini adalah penyakit akut di akhir zaman.

Lalu pertanyaannya, apa hukum memberikan salam? Apa hukum membalas salam dari orang yang kita kenal dan dari orang yang tidak kita kenal? Bagaiamana jika yang memberikan salam adalah orang kafir, apakah hukum membalas salam dari orang kafir?

Baca Juga:

DILEMA FIQIH BELANJA

HUKUM BERBUAT KASAR KEPADA ISTRI

Hukum meberikan salam minimal adalah mustahab atau sunnah. Salam adalah media yang menumbuhkan rasa kasih dan sayang di antara kaum muslimin dan terciptanya rasa kasih dan sayang adalah sesuatu yang dituntut (dicari). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, beliau berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.

“Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Sedangkan hukum membalas salam adalah wajib dan ini adalah sesuatu yang maklum (populer) dalam agama. Dan perlu dicatat, termasuk hak muslim atas muslim yang lain adalah menjawab salam.

Adapun hukum menjawab salam dari non muslim, madzhab Syȃfi’î dan Hanbalî memandang hukumnya wajib; namun dengan redaksi “wa’alaykum”. Sebagian ulama justru mengharamkan menjawab salam non muslim, dengan redaksi apa pun. Imam Nawawi rahimahullaah berkata :

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي رَدِّ السَّلَامِ عَلَى الْكُفَّارِ وَابْتِدَائِهِمْ بِهِ فَمَذْهَبُنَا تَحْرِيمُ ابْتِدَائِهِمْ بِهِ وَوُجُوبُ رَدِّهِ عَلَيْهِمْ بِأَنْ يَقُولَ وَعَلَيْكُمْ أَوْ عَلَيْكُمْ فَقَطْ. وَ دَلِيْلُنَا فِيْ الإِبْتِدَاءِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم لَا تَبْدَأُوْا اليَهُوْد وَ لَا النَّصَارَى بِالسَّلَام.

Para ulama berselisih pendapat tentang menjawab salam kepada kaum kafir dan memulai salam kepada mereka. Mazhab kami (mazhab Syȃfi’î) mengharamkan memulai salam kepada meraka, sedangkan menjawab salam mereka adalah wajib, yaitu dengan jawaban: “Wa ‘Alaikum” atau “Alaikum” saja. Dan dalil kami untuk haramnya memulai salam terhadap mereka adalah sabda Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam : “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani.” (HR. At Tirmidzî No. 2700). (lihat Al Minhȃj, 14/145).

Dan pendapat inilah yang rajih, yang terkuat berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha :

أَنَّ اليَهُودَ أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، قَالَ: «وَعَلَيْكُمْ» فَقَالَتْ عَائِشَةُ: السَّامُ عَلَيْكُمْ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، وَإِيَّاكِ وَالعُنْفَ، أَوِ الفُحْشَ» قَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: «أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ، رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ، فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ، وَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ»

“Bahwa kaum Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata : ‘As Sȃmu ‘Alaika’ (Kebinasaan atasmu), Nabi menjawab: “Wa ‘Alaikum (dan atas kalian juga). Maka ‘Aisyah berkata: ‘Kebinasaan atasmu, juga laknat dan kemurkaan Allah atas kalian’. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sebentar wahai ‘Aisyah, hendaknya kamu lemah lembut, hindari kekerasan atau kekejian’. ‘Aisyah berkata : ‘Apakah engkau tidak mendengar perkataan mereka?’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : ‘Apakah kamu tidak dengar perkataanku? Aku sudah jawab untuk mereka juga. Maka yang aku katakan dikabulkan atas mereka, yang mereka katakan tidak dikabulkan atasku’.” (HR. Bukhȃrî No. 6401). [ayah_shalih]