يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧) وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (٨) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (٩)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian. Adapun orang-orang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Q.S. Muhammad/47: 7-9)

FirmanNya “Wahai orang-orang yang beriman” menunjukkan bahwa perintah memperjuangkan agama Allah dalam ayat ini ditujukan kepada seluruh kaum muslimin yang mengaku beriman kepada Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa amanah dakwah dan memperjuangkan islam tidak hanya menjadi tugas orang-orang tertentu seperti para dai, kiyai ataupun para ustadz. Dakwah dan memperjuangkan islam ini adalah amanah dan tugas seluruh kaum mu’minin.

Baca Juga:

MENGIKUTI ORANG LAIN TANPA ILMU ADALAH KEJAHATAN

Perintah dakwah dan jihad memperjuangkan kalimat Allah ditunjukkan lafal ayat yang berbentuk umum kepada seluruh kaum mu’minin. Pada ayat ini, Allah tidak menggunakan lafal “Wahai para dai”, “Wahai para ustaz”, “Wahai para kiyai”, justru Allah menggunakan lafal “Wahai sekalian orang-orang yang beriman” yang menunjukan keumuman untuk seluruh orang beriman.

kesimpulannya, setiap muslim yang mengetahui kebenaran harus memperjuangkan kebenaran yang diketahuinya, tanpa harus menunggu ia menjadi seorang ustaz atau kiyai. Sebab menyembunyikan kebenaran adalah sesuatu yang terlaknat. Allah mengingatkan melalui firmanNya :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua mahluk yang dapat melaknat.” (Q.S. Al Baqarah/2: 159).

Baca Juga:

BANYAK PARA BAL’AM DI MASA KINI

Ini pula yang menjadi landasan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat dan memerintahkan kepada para sahabt dan kita kaum muslimin untuk selalu menyampaikan kepada orang lain apa yang kita ketahui dari ajaran-ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam walau hanya satu ayat.

Firman Allah Ta’ȃlȃ, “jika kalian menolong agama Allah”, kalimat ini menunjukkan bahwa Allah tidak memaksa kita untuk ikut bergabung dalam barisan orang-orang yang mendakwahkan atau memperjuangkan agama-Nya. Hal ini menunjukan pula bahwa islam akan tetap menang walau tanpa keberadaan kita dalam barisan perjungan ini. Hanya saja, Allah memberikan pilihan, apakah kita ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki andil dalam kemenangan islam, atau kita memilih diam tanpa bergabung dalam barisan perjuangan tersebut, sehingga islam meninggalkan kita dengan kemenangannya, sedangkan kita terpuruk dalam kehinaan?

Baca Juga:

FIKIH SALAM : HUKUM SEPUTAR MENGUCAPKAN SALAM DAN MEMBALAS SALAM

Sebab jika kita tidak bergabung dengan barisan perjuangan dakwah dan jihad, Allah akan mendatangkan kaum yang Allah cintai mereka dan mereka mencintai Allah. Mereka adalah orang-orang yang jujur dan berani berjuang dan berjihad untuk agama Allah, serta tidak takut dengan celaan manusia. merekalah generasi 554.

Jalan dakwah dan jihad ini bukanlah jalan yang mudah, akan selalu ada orang-orang yang berupaya untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan berupaya memalingkan mereka agar terjerembab dalam kesesatan. Ini merupakan sunnatullah dalam perjuangan, agar dapat diketahui siapa yang betul-betul ikhlas dalam memperjuangkan agama ini. Allah Ta’ȃlȃ mengingatkan melalui firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.”

Firman Allah Ta’ȃlȃ, “Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” adalah bentuk janji Allah bagi orang-orang yang memperjuangan agama-Nya. Hal ini juga sebagai keutamaan bagi mereka, dimana Allah Ta’ȃlȃ akan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan mereka, memenuhi hajat-hajat mereka, memberikan jalan keluar dari segala kesusahan yang mereka hadapi, dan menjadikan mereka sebagai manusia yang paling tenang jiwanya, suci hatinya dan kuat imannya. Serta yang paling besar dari semua keutamaan itu adalah Allah menyelamatkan mereka dari jurang kebinasaan dan siksa api neraka.

Firman Allah,“Bagi orang-orang kafir kecelakaan bagi mereka dan Allah menyesatkan amalan-amalan mereka” menunjukkan bahwa kehidupan akhir bagi orang kafir adalah kehancuran dan kebinasaan. Karenanya, seorang muslim yang berjuang tidak boleh tertipu dengan kenikmatan dunia yang mereka capai, sebab kenikmatan dunia itu hakikatnya menipu mereka dan menjadi sesuatu yang dapat membinasakan mereka.

Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekafirannya akan selalu berupaya saling membantu untuk menyuarakan pemikiran rusak dan akidah sesat mereka demi menghancurkan islam dan kaum muslimin. Mereka akan mengalami istidraj, mengira bahwa amalan-amalan yang mereka lakukan adalah kebaikan disebabkan kemudahan dakwahnya diberbagai media-media kafir. Namun ternyata Allah telah mengelabui mereka disebabkan keinginan mereka mengelabui manusia dari jalan Allah. [ayah_shalih].