ISIS bukan Islamic State, akan tetapi jama’ah takfir

Duniaekspress.com. (21/11/2018). Kehancuran yang bertubi-tubi yang dialami ISIS, yang disebabkan oleh perpecahan internal maupun kalah perang oleh lawannya, hal ini merupakan sebagai hasil do’a mubahalah Jubir ISIS Adnani dengan mujahidin ahli sunnah lainnya sebelum ia tewas terbunuh, kejadian hancurnya ISIS dalam sekejap telah membuka mata ummat akan rusaknya manhaj yang dianut ISIS. Kondisi ISIS kini kembali seperti semula diawal mereka berjuang menjadi sebagai gerilyawan gurun pasir, yang minim wilayah dan kekuasaan, setelah lepasnya raqqah sebagai ibu kota ISIS dan wilayah-wilayah lainnya, pejuang ISIS layaknya sebagai jama’ah takfir yang sedang berjuang gerilya, oleh karena secara defacto mereka sudah tak layak mengklaim sebagai daulah islam atau Islamic State apalagi mengaku khilafah Islamiyah.

Abu Muhammad al-’Adnani—juru bicara resmi ISIS—pernah berkata, “Telah murtad pasukan Mesir, Pakistan, Afghanistan, Tunis, Libia, Yaman—dan selain mereka dari pasukan-pasukan thaghut-thaghut dan para pembela mereka.” (Dari kaset ’Udzran Amiral Qa’idah dengan perantaraan kitab Da’isy al-’Iraq wasy Syam fi Mizanis Sunnati wal Islam hlm. 105). Ini menunjukkan bagaimana kelompok ini memukul rata semua pasukan maupun polisi di negeri-negeri kaum muslimin sebagai kafir mu’ayyan dan halal darahnya.

Dia juga berkata, “Sesungguhnya pasukan-pasukan thaghut-thaghut dari para pemerintah negeri-negeri kaum muslimin—secara umum—adalah pasukan-pasukan murtad dan kafir.” (!!!) (Dari kaset as-Silmiyyah Dienu Man? dengan perantaraan kitab Da’isy al-’Iraq wasy Syam fi Mizanis Sunnati wal Islam hlm. 115)

Dia juga berkata, “Sesungguhnya kami melihat kekafiran dan kemurtadan seluruh para pemerintah negeri-negeri itu dan pasukan-pasukan mereka, dan memerangi mereka lebih wajib daripada memerangi para penjajah Salibis.” (Dari kaset Inni ’ala Bayyinatin min Rabbi dengan perantaraan kitab Da’isy al-’Iraq wasy Syam fi Mizanis Sunnati wal Islam hlm. 115). Pernyataan ini memunjukkan bahwa kelompok ini memurtadkan secara merata semua pegawai pemerintah dan kedudukan mereka lebih buruk dari kafir asli. Tidak peduli apakah pegawai atau pemimpin pemerintahan itu orang yang kiprahnya berusaha mendekatkan negaranya pada syariat Islam atau tidak, semua disamaratakan sebagai murtad.

Demikianlah ISIS mengikuti jejak para pendahulu mereka, kaum Khawarij dalam masalah takfir, yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir keluar dari Islam (lihat Aqidah Wasithiyyah hlm. 233), padahal yang benar bahwa pelaku dosa besar adalah fasik. Maka dengan demikian mereka mengkafirkan pelaku kefasikan. Dari sinilah (atas dasar inilah) Khawarij mengkafirkan pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

Al-Imam al-Aajurri berkata, “Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang diikuti oleh orang-orang Haruriyyah (Khawarij) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS al-Ma‘idah [5]: 44)

Mereka sertakan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka.” (QS al-An’am [6]: 1)

Jika mereka melihat seorang penguasa menghukumi dengan tidak haq maka mereka berkata, ‘Dia telah kafir, dan barang siapa kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb-nya maka sungguh telah musyrik, para penguasa ini telah kafir.’ Maka mereka memberontak dan melakukan hal yang engkau lihat; karena mereka menakwilkan ayat ini.” (asy-Syari’ah hlm. 27)

Hasil gambar untuk takfir ISIS

Al-Imam Abu Hayyan berkata, “Orang-orang Khawarij berargumen dengan ayat ini atas bahwa setiap orang yang maksiat kepada Allah maka dia telah kafir dan mereka berkata, ‘Ia adalah nash pada setiap orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah maka dia kafir.’” (Bahrul Muhith 3/493)

Khawarij mengkafirkan Khalifah Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu’anhu dengan sebab perdamaiannya dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan Radhiallahu’anhuma. Mereka berkata kepada Ali, “Jika engkau telah mempersaksikan dirimu dengan kekufuran dan bertaubat darinya maka kami akan melihat apa yang kita bicarakan antara kami dan engkau, dan jika tidak maka kami tolak dirimu!” (al-Bidayah wan Nihayah 7/306)

Karena itu, jika Khawarij melihat para penguasa melakukan kemaksiatan—atau kekafiran menurut mereka—maka mereka mengkafirkannya dan khuruj (memberontak) terhadap mereka.

Padahal, banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan bahwa sekadar kemaksiatan tidaklah menjadikan pelakunya kafir; seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

} وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (QS al-Hujurat [49]: 9)

Lihatlah bagaimana Allah menyebut mereka beriman dalam keadaan mereka melakukan kemaksiatan yaitu memerangi sesama muslim!

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS al-Mumtahanah [60]: 1)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Allah memanggil mereka dengan sebutan keimanan dalam keadaan adanya kemaksiatan, yaitu loyalitas terhadap orang-orang kafir.” (Syarah Aqidah Wasithiyyah hlm. 235–236)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Bersamaan dengan itu, Ahlussunnah wal Jama’ah tidaklah mengkafirkan ahli kiblat dengan sekadar kemaksiatan dan dosa besar; sebagaimana dilakukan oleh Khawarij, bahkan persaudaraan iman tetap ada bersama dengan adanya kemaksiatan; sebagaimana Allah berfirman tentang ayat qishash, ‘Maka barang siapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik.’ (QS al-Baqarah [2]: 178).” (Aqidah Wasithiyyah hlm. 233)

Maka nash-nash yang menunjukkan tidak kafirnya setiap pelaku kemaksiatan adalah yang memalingkan kufur akbar dalam ayat di atas kepada kufur ashghar. Sebab itu, para ulama sepakat tidak mengambil keumuman ayat ini, berbeda dengan orang-orang Khawarij yang memakai keumuman ayat ini di dalam mengkafirkan para pelaku dosa dan kemaksiatan tanpa melihat kepada dalil-dalil yang lain yang memalingkan ayat ini dari keumumannya.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah sesat sekelompok ahli bida’ dari khawarij dan Mu’tazilah dalam bab ini. Mereka berargumen dengan ayat-ayat di dalam Kitabullah yang tidak atas zhahirnya; seperti firman AllahSubhanahu wa Ta’ala:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS al-Ma‘idah [5]: 44).” (at-Tamhid 17/16)

Beliau juga berkata, “Para ulama sepakat bahwa kecurangan dalam menghukumi termasuk dosa-dosa besar bagi seorang yang sengaja melakukannya dalam keadaan mengetahui hukumnya…” (at-Tamhid 5/74–75)

Asy-Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Adapun zhahir ayat ini maka tidak ada seorang pun dari para imam fiqih yang masyhur yang berpendapat dengannya, bahkan tidak ada seorang pun yang berpendapat dengannya.” (Tafsir al-Manar 6/406)

Maka Ahlul Haq dan Sunnah sangat berhati-hati dalam masalah takfir. Tidak diragukan lagi bahwa Ahlussunnah mengkafirkan setiap orang yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan yang terjatuh ke dalam kekufuran. Takfir mu’ayyan (terhadap person) tidak diperbolehkan kecuali setelah terkumpul padanya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ada mawani’ (penghalang) dari pengkafiran. Di antara syarat-syarat takfir adalah: ilmu dan ma’rifat, ikhtiyar (atas pilihan sendiri bukan terpaksa), dan kesengajaan. Di antara mawani’ adalah: takwil, kejahilan (kebodohan), lupa, tidak sengaja, dan ikrah (pemaksaan). (Untuk melihat pembahasan yang lebih terperinci tentang masalah takfir ini lihat Fitnah Takfir oleh asy-Syaikh al-Albani yang dimuat di dalam Majalah Al Furqon Edisi 10 Tahun ke-3 pada Rubrik Fatwa.) Wallahu’alam bishowab. (RR)

 

Baca juga, SALING BUNUH DI TUBUH ISIS TERLIHAT PADA LAJNAH MUFAWWADHAH MEREKA