Ketika Pengikut ISIS mengkafirkan kaum muslimin yang ikut aksi demonstrasi solidaritas muslim 212

Duniaekspress.com. (28/11/2018). Rencana Reuni akbar alunmi aksi 212, yang insyaAllah akan digelar pada tanggal 2 desember 2018, di Monas, dalam acara tersebut diagendakan akan lebih besar dari aksi-aksi sebelumnya. Aksi solidaritas kaum muslimin mulai bangkit, ketika agamanya dinistakan dan dilecehkan oleh sekelompok orang dari kaum kafirin yang tidak menghendaki kerukunan tetap terjalin di negeri ini.

Bangkitnya kesadaran dan ghiroh (semangat) ummat islam, dalam membela agamanya yang tercermin dalam aksi demo spektakuler dengan jutaan masa turun kejalan. Namun di sisi lain ada sekelompok kaum yang ghuluw dalam barisan para pengikut ISIS yang mana mereka mencap kafir kepada kaum muslimin yang mengikuti aksi demontrasi solidaritas muslim tersebut. Pengikut ISIS yang ghuluw ini mencap kafir kepada kaum muslimin yang ikut aksi demontrasi solidarias muslim 212, sekalipun kaum muslimin yang berada dibarisan mereka dalam mendukung ISIS. Sebagaimana mereka (ISIS yang ghuluw) mencap kafir ustadz Syamsudin Uba dan pengikut ISIS lainnya yang ikut hadir dalam aksi demontrasi solidaritas muslim 212. dan tidak segan-segan mereka juga mengancam akan membunuh melalui jejaring medsos, hal ini mereka tujuan kepada siapa saja yang telah mereka cap kafir.

Mereka mencap kafir dengan alasan mengikut aksi demontrasi merupakan bagian dari demokrasi, tahakum kepada hukum toghut, dan dalam pandangan mereka demokrasi merupakan ajaran yang bathil secara mutlak,  yang mengarahkan pada kekafiran walau cuman memanfaatkannya semata, sebagaimana dalil yang sering mereka gunakan untuk mengkafirkan kaum muslimin lainnya yang berbeda pandangan dengan mereka dalam hal tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri (penguasa muslim/khalifah yang menjalankan syari’at Islam) di antara kalian. Kemudian jika kalian (rakyat dan penguasa) berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.

Lalu tentang anggapan mereka ada unsur tahakum dalam aksi tersebut mereka berdalil: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang- orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Kitab dan Sunnah) dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu (Taurat dan Injil) Mereka hendak berhakim kepada thaghut (hukum selain Islam), padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu melihat orang-orang munafik itu menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mende- kati) kamu.” (QS. An-Nisaa’ : 59-61)

Demokrasi yang telah dijajakan Barat yang kafir ke negeri- negeri Islam itu sesungguhnya adalah sistem kufur. Tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali, baik langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat bertentangan dengan hukum- hukum Islam dalam garis besar dan perinciannya, dalam sumber kemunculannya, aqidah yang melahirkannya atau asas yang mendasarinya, serta berbagai ide dan peraturan yang dibawanya.
Oleh karena itu, kaum muslimin diharamkan secara mutlak mengambil, menerapkan, dan menyebarluaskan demokrasi. dengan dalih inilah para pengikut ISIS tersebut mengkafirkan siapa saja dari kaum muslimin yang mengikut aksi demontrasi solidaritas muslim 212.

Hasil gambar untuk aksi bela islam

poto : aksi bela Islam di jakarta

Sedangkan dalam hal boleh tidaknya mengikuti aksi demonstrasi para ulama ada ikhtilaf atau perbedaaan pendapat dalam menyikapinya, adapula ulama yang membolehkannya, diantaranya :

Banyak ulama yang membolehkan, diantaranya Syaikh Dr. ‘Ali al-Qardagh (Ulama ahli maqashid dari Maroko), Ustadz Dr. Abdurrazaq Abdurrahman As-Sa’diy, dan salah satu ulama yang paling terkenal dalam membela pendapat dibolehkannya demonstrasi adalah Syaikh Yusuf Qardhawi, seperti dalam salah satu fatwanya , “Tidak diragukan lagi bahwa demonstrasi (aksi damai) adalah sesuatu yang disyariatkan, karena termasuk seruan dan ajakan kepada perubahan (yang lebih baik) serta sebagai sarana untuk saling mengingatkan tentang haq, juga sebagai kegiatan amar makruf nahi munkar. (www.qaradawi.net)

Tentang tahakum kepada hukum thoghut

Dalil yang digunakan mereka adalah QS An-Nisaa : 60, adapun tafsir ibnu katsir tentang ayat ini adalah sebagai berikut:
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Ansar dan seorang lelaki dari kalangan Yahudi, yang keduanya terlibat dalam suatu persengketaan. Lalu si lelaki Yahudi mengatakan, “Antara aku dan kamu Muhammad sebagai pemutusnya.” Sedangkan si Lelaki Ansar mengatakan, “Antara aku dan kamu Ka’b ibnul Asyraf sebagai hakimnya”. Menurut pendapat yang lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang munafik dari kalangan orang-orang yang hanya lahiriahnya saja Islam, lalu mereka bermaksud mencari keputusan perkara kepada para hakim Jahiliah. Dan menurut pendapat yang lainnya, ayat ini diturunkan bukan karena penyebab tersebut. Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kepada kebatilan. Hal inilah yang dimaksud dengan istilah dalam ayat ini. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Mereka hendak berhakim kepada tagut. (An-Nisa: 60), hingga akhir ayat. (sekian kutipan dari Ibnu Katsier)

Dari penjelasan asbabun nuzul di atas jelas bahwa kondisi dimana ayat ini ditujukan (orang munafik) adalah sudah tegaknya hukum Islam, namun dia malah memilih Ka’ab Ibnul Asyraf (thoghut)  daripada Muhammad SAW (hukum Islam). Sementara kondisi di Indonesia sangat berbeda karena masih memperjuangkan syari’at secara sempurna. Sehingga jika seseorang muslim di negeri ini meminta keadilan hukum pada aparat maupun hakim dalam masalah-masalah pidana maupun perdata mereka, mereka tidak sama dengan maksud ayat di atas, mereka tidak otomatis kafir, bahkan sudah menjadi kewajiban untuk menuntut hak dan keadilan manakala dizolimi.

Adapun dalil yang membolehkan aksi demo adalah :

Dalil dari Alqur’an

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa : 148)

Dalam tafsirnya, Imam asy-Syaukani berkomentar tentang ayat ini, “Para ahli ilmu berbeda pendapat mengenai tatacara “al-jahru bi as-suu’” (mengucapkan suatu keburukan seseorang dengan terang-terangan) yang diperbolehkan untuk yang terzholimi. Ada yang menyatakan hendaknya mendoakannya. Ada juga yang berpendapat, tidak mengapa mengucapkan kepada khalayak bahwa “Fulan telah menzholimi saya.” atau “Si fulan telah berbuat zholim.”, atau ucapan semisalnya. Allah lebih menyukai (berpihak) terhadap orang yang terzholimi dari pada yang pelaku kezholiman.(Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Fathul Qadir,( Darul Ma’rifah, Beirut, juz 1, 1997 cet-3) hal . 677).

Dalil dari As-Sunnah

Diantara dalil yang digunakan oleh kelompok yang membolehkan demonstrasi adalah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya ada laki-laki yang mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mempunyai tetangga yang (kebiasaannya) menyakitiku.” maka Nabi ﷺ menjawab, “Sabarlah!” (beliau mengucapkan tiga kali). Namun lelaki tersebut mengulangi lagi aduannya. Maka beliau bersabda, “Lemparkanlah perabotan rumahmu kejalan!” Maka lelaki tersebut melakukannya, kemudian manusia berkerumun karena hal tersebut, lalu mereka berkata, “Apa yang terjadi denganmu?” dia menjawab, “Aku mempunyai tetangga yang (selalu) menyakitiku.” kemudian dia menceritakan masalahnya. Lantas mereka berkata, “Semoga Allah melaknatnya.” Maka tetangga (yang menyakiti) mendatanginya dan berkata kepadanya, “Pulanglah kerumahmu, demi Allah, aku tidak akan menyakitimu lagi selamanya.” (Shahih Ibnu Hibban, kitab Al-Birr wal Ihsan, bab tetangga juz 2. hal. 278. Berkata muhaqqiq; Syaikh Syu’aib al-Arnauth, “Sanadnya kuat.” Perkataan ini hanya darinya saja).

Dari penomena keghuluwan yang dipertontonkan pengikut ISIS tersebut, yang mencap kafir kepada kaum muslimin yang berbeda padangan dengan mereka, akankah langkah ghuluw yang ISIS praktektekan tersebut bisa menyatukan dan menguatkan barisan kaum muslimin dalam membela Islam ? wallahu’alam bishowab. (AB)

 

Baca juga, KETIKA KESALAHAN TERUS DIBELA