Hoax di masa Para Sahabat Nabi

Duniaekspress.com. (1/12/2018). Hoax atau kabar dusta yang menyebar di tengah masyarakat adalah fenomena yang sedang menjadi perhatian publik. Kasus-kasus hoax terus bermunculan setelah penggunaan media sosial semakin menjamur di negeri ini.

Dalam sejarah Islam, persoalan hoax bukan barang baru. Umat Islam generasi pertama pernah mengalami krisis akibat hoax yang sangat serius. Pelaku maupun korbannya bukan orang sembarangan, melainkan sahabat dan istri Rasulullah Saw.

Pertama dari pelaku, ada beberapa orang namun yang paling menonjol adalah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Namanya Hasan bin Tsabit, dikenal sebagai sahabat sekaligus penyair Rasulullah Saw. Karakternya unik, tak seperti para Anshar lain yang merupakan anak-anak perang (abnaa ul hurub) ia justru takut melihat darah tertumpah. Kemahirannya bukanlah bertempur dengan pedang, melainkan mengolah kata dengan lisannya yang fasih.

Sejarah mencatat, selalu ada figur unik di tengah komunitas manusia yang seragam. Di antara para petarung pedang, penyair terlihat aneh dan janggal. Di zaman ijazah menjadi senjata, jagoan berkelahi menjadi figur yang ganjil. Namun sejarah juga mencatat, setiap karakter manusia memiliki potensi manfaat bagi komunitasnya.

Hasan barangkali tak mahir melemparkan anak panah dengan busur seperti Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia tak seperkasa Ali yang dikagumi karena kekuatan dan kesigapannya menyabetkan pedang dalam mubarazah (perang tanding). Ia juga tak seperti Hudzaifah Ibnul Yaman yang rapat menutup mulut dan menjaga rahasia Rasulullah Saw.

Hasan lebih mahir melemparkan kata dan kalimat, dalam bentuk syair yang menembus jiwa musuh. Mubarazah-nya adalah beradu logika dalam susunan kalimat yang indah. Sebuah ketrampilan yang dinilai tinggi di kalangan orang Arab penganut tradisi lisan. Alih-alih tenang dan diam, Hasan justru banyak bicara sebagai seorang penyair.

Gambar terkait

Haditsul Ifki

Kelebihan ini bukan tanpa cela. Sirah Ibnu Ishaq mencatat bahwa Hasan sempat tersandung masalah besar. Lidahnya pernah tergelincir menyebarkan hoax tentang Ummul Mukminin Aisyah. Kejadiannya saat Rasulullah Saw bersama kaum Muslimin kembali dari memerangi Bani Mustaliq.

Dalam perjalanan pulang pada malam hari, Aisyah tertinggal oleh rombongan karena mencari kalungnya yang hilang. Ia kemudian ditemukan oleh sahabat Shafwan bin Muattal dan dinaikkan ke atas untanya. Mereka berusaha menyusul rombongan namun baru bertemu keesokan paginya.

Orang-orang munafik pun menghembuskan fitnah, mereka menuduh Aisyah terlibat skandal dengan Shafwan salama perjalanan berdua. Celakanya, Hasan bin Tsabit termasuk yang menyebarkan kabar dusta itu. Stabilitas sosial Madinah pun terganggu akibat peristiwa yang kelak disebut sebagai haditsul ifki. Hingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya yang membersihkan Aisyah dan Shafwan dari tuduhan zina. Turunlah ayat 11 Surat An-Nuur yang berbunyi demikian.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. An-Nuur: 11)”

Hasan akhirnya dihukum cambuk bersama beberapa pelaku lainnya. Namun ia masih mendapatkan efek lain akibat syair dan kata-katanya. Shafwan yang murka mendatangi Hasan dan menyabetnya dengan pedang.

Sebenarnya Hasan bukan satu-satunya sahabat yang terpengaruh hoax itu. Bahkan Ali bin Abi Thalib pun sempat menyarankan Rasulullah SAW agar menceraikan Aisyah. Namun dalam kasus itu, kelebihan Hasan sebagai jagoan syair membuat isu berkembang memburuk. Lisannya yang tajam bagi Quraisy tiba-tiba menorehkan luka bagi Aisyah dan Shafwan. Tajamnya pedang Shafwan pun menjawab.

Arbitrase Damai

Rasulullah Saw kemudian mengadili konflik antara Shafwan dan Hasan. Kepada Hasan, yang memaafkan serangan Shafwan, diberikan ganti rugi berupa tanah Bir Ha dan seorang budak Koptik. Penyelesaian damai pun terjadi, mengembalikan ketenteraman Madinah seperti semula.

Kejadian tragis ini membuktikan bahwa para sahabat adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Bukti yang membesarkan hati manusia di zaman sekarang. Kelemahan manusiawi bukanlah penghalang meraih keutamaan di sisi Allah Ta’ala seperti para sahabat Rasulullah Saw.

Ada lagi ibrah lain yang bisa diambil, menjaga lisan tetap relevan dari zaman dahulu hingga sekarang. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Tiada yang lebih banyak menggelincirkan manusia ke dalam neraka selain lisan dan kemaluan.” Sebuah isyarat universal yang abadi, bahwa manusia memang harus selalu menjaga dua lubang tubuhnya itu.

Kekhilafan Hasan, yang dibayarnya dengan nasib tragis, tak membuatnya kehilangan keutamaan sebagai sahabat Rasulullah Saw. Menurut Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in, para sahabat berfatwa dengan ilmu, pendapat dan tindakan mereka.

Ada sahabat seperti Ibnu Masud yang berfatwa dengan ilmunya. Namun ada juga Maiz dan Al-Ghamidiyah yang berzina dan menjalani hukuman rajam. Menurut Ibnul Qayyim, dua sahabat yang tergelincir dalam maksiat besar itu memberikan fatwa dengan tindakan mereka.

Jadi ketergelinciran dan hukuman para sahabat pun termasuk fatwa dalam Islam. Bukankah dengan kekeliruan mereka, umat Islam sampai kiamat mendapatkan ilmu dan teladan praktik bagaimana perzinaan harus dicegah dan disikapi?

Begitu pula dengan Hasan bin Tsabit, kasus dan hukuman yang ia terima adalah fatwa bagi umat. Bagaimana seharusnya menyikapi hoax dan bagaimana hukuman untuk penebar hoax, catatannya menjadi panduan umat hingga akhir zaman.

Penyelesaian damai yang ditempuh oleh Rasulullah Saw untuk menengahi konflik Shafwan dan Hasan juga menarik untuk dicermati. Arbitrase, permaafan dan ganti rugi ternyata menjadi bagian solusi Islami. Suatu hal yang menjadi teladan bagi penyelesaian konflik sesama Muslim pada generasi-generasi berikutnya. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 148, hal. 62, 63

 

Baca juga, KEMBALINYA AZAB KAUM SODOM