Antara membisniskan utang dan prilaku tidak mau bayar utang

oleh : Abu Sholeh

Duniaekspress.com. (4/12/2018). Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak mengenal utang. Dahulu, utang dijadikan aturan atau regulasi untuk mencekik orang miskin. Di zaman jahiliyah, orang-orang kaya biasa mengutangkan uang atau hartanya dengan perjanjian berupa batas tempo pembayaran dan jika waktu pembayaran telah jatuh tempo dan si pengutang tidak dapat membayar utangnya maka akan tumbuh dari utangnya tersebut “bunga” dan inilah yang disebut dengan riba jahiliyah. Dan di era modren ini, sistem transaksi ribawi telah menjadi pondasi perekonomian suatu bangsa. Bahkan skema riba hari ini lebih riba di bandingkan di zaman Nabi, jika dulu riba hadir jika utang jatuh tempo dan pengutang tidak mampu melunasi utangnya, maka pada hari ini riba sudah dipatok didepan, jatuh tempo atau tidak jatuh tempo tetap saja argo ribawi berjalan.
*****

ibnu katsir dalam tafsirnya menuliskan :

قَالَ عَلِيُّ ابْنُ أَبِي طَلْحَةَ، وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: هَذَا فِي الرَّجُلِ يَكُونُ عَلَيْهِ مَالٌ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ فِيهِ بَيِّنة، فَيَجْحَدُ الْمَالَ وَيُخَاصِمُ إِلَى الْحُكَّامِ، وَهُوَ يَعْرِفُ أَنَّ الْحَقَّ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ آثِمٌ آكِلُ حرامٍ.

‘Alî ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbȃs bahwa ayat ini (Q.S. Al Baqarah ayat 188) berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai utang sejumlah harta, sedangkan pemberi utang tidak mempunyai bukti kuat yang dapat dijadikan bahan bukti. Lalu lelaki tersebut mengingkari utangnya dan justru mengadukan perkaranya kepada hakim, padahal dia mengetahui bahwa dia tidak di atas kebenaran, dan bahwa dirinya berada di pihak yang salah (berdosa) dan memakan harta haram. Maka turunlah firman Allah :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kalian memakan harta sebahagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui” (Q.S. Al Baqarah/2 : 188).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Mujȃhid, Sa’îd ibnu Jubair, ‘Ikrimah, Al Hasan, Qatȃdah, As Suddî, Muqȃtil ibnu Hayyȃn, dan Abdur Rahmȃn ibnu Zaid ibnu Aslam, mereka semua sepakat mengatakan:

لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ

“Janganlah kamu membuat perkara, sedangkan kamu mengetahui bahwa dirimu berada di pihak yang zalim.”

Semoga kita terjaga dari sifat bengis para pembisnis itabg yang mencari untung atas penderitaan org lain.

Dan semoga kita dijauhkan dari sifat buruk orang yg berniat tidak membayar utang, orang yang melupakan utang, orang yang tidak mau tau dg utangnya. (AB)

Amin ya Rabbal ‘Alamin

Baca juga, DENGKI DAN IRI HATI PENGHALANG HIDAYAH PARA MUNAFIKUN