Duniaekspress.com (5/12/2018)- Belakangan hari ini ibukota Jakarta dan sekitar –Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang- sering diguyur hujan dengan curah hujan yang besar bahkan disertai angin kencang. Ternyata bukan hanya Jakarta saja yang diguyur hujan, beberapa kota besar juga tercatat dilanda hujan seperti Bandung, Medan dan kota-kota lainnya.

Ada fenomena menarik disebagian masjid yang penulis dapati, dan mungkin saja pembaca juga mendapatinya. Di beberapa masjid diberlakukan jamak atau menggabungkan shalat antara shalat Maghrib dan Isya dikarenakan turunnya hujan. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang aneh apalagi latah dengan menuduh sebagai bid’ah karena tidak sesuai dengan keumuman masyarakat.

Sebenarnya. Sebagian besar umat Islam, sebenarnya sudah maklum dengan jamak shalat disebabkan safar. Namun berbeda dengan hukum menjamak shalat disebabkan hujan. Mungkin ada di antara mereka yang belum mengetahui hukum shalat jamak dikarenakan hujan.

Menjamak shalat atau menggabungkan shalat dikarenakan hujan adalah sunnah (ajaran) Nabi berdasarkan hadis yang diriwayatkan Al Atsram dari Abu Salamah bin Abdurrahmȃn, beliau berkata:

من السنة إذا كان يوم مطير أن يجمع بين المغرب والعشاء.

“Termasuk dari sunnah Nabi adalah jika (seseorang) berada pada hari turunnya hujan hendaklah dia menjamak antara shalat Maghrib dan Isya.”

Imam Bukhȃrî juga meriwayatkan hal sama:

أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بين المغرب والعشاء في ليلة مطيرة.

“Bahwa Nabi pernah menjamak shalat Maghrib dan Isya pada malam turunnya hujan.”
Hadis di atas dapat dilacak dalam shahih Bukhȃrî dengan sanad lengkap :

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِالْمَدِينَةِ سَبْعًا وَثَمَانِيًا: الظُّهْرَ وَالعَصْرَ وَالمَغْرِبَ وَالعِشَاءَ “، فَقَالَ أَيُّوبُ: لَعَلَّهُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ، قَالَ: عَسَى

Imam Bukhȃrî berkata, Abun Nu’mȃn, Hammȃd –ia adalah Ibnu Zaid- telah menceritakan kepada kami dari ‘Amrû bin Dinȃr dari Jȃbir bin Zaid dari Abdullah bin ‘Abbȃs bahwa Nabi menjamak shalat di Madinah tujuh dan delapan rakaat. Menjamak shalat Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya. Ayyûb As Sukhyutȃnî berkata, “Pada malam turunnya hujan”. Jȃbir bin Zaid berkata, “Boleh jadi”.

Imȃm Mȃlik bin Anas juga meriwayatkan

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إذَا جَمَعَ الْأُمَرَاءُ بَيْن الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَطَر جَمَعَ مَعَهُمْ

Imȃm Mȃlik berkata dari Nȃfi’ bahwa Ibnu Umar dahulu apabila (ia menemukan) para umara’ (pemimpim) menjamak shalat Maghrib dan Isya dikarenakan hujan ia juga menjamak shalat bersama mereka.

Bolehkah Menjamak Shalat di Rumah karena Hujan?

Sebagian kita mungkin saja bertanya-tanya, kalaulah menjamak shalat dikarenakan hujan adalah sunnan, lalu apakah boleh menjamak shalat sedangkan ia mengerjakan shalat jamak di rumahnya; tidak di masjid?

Menurut para ulama keringanan menjamak shalat dikerenakan hujan khusus bagi jama’ah di masjid saja sebagaimana yang dinukilkan pengarang Fiqih Sunnah:

وهذه الرخصة تختص بمن يصلي جماعة بمسجد يقصد من بعيد يتأذى بالمطر في طريقه

“Dan keringanan ini khusus bagi yang shalat jama’ah di masjid yang bermaksud (ke masjid) dari tempat yang jauh yang terganggu dengan adanya hujan di jalan.”

Maka dari sini dapat kita simpulkan pula, bahwa keringanan ini hanya berlaku pada mereka yang mendapatkan kesulitan dan gangguan saja, adapun bagi orang yang bermukim di masjid seperti marbot, orang yang sholat berjama’ah di rumah, atau orang yang ke masjid dengan naik mobil atau ada sesuatu yang menutupi ia sehingga kesulitan dan gangguannya hilang darinya atau posisi masjid yang dekat darinya seperti seseorang yang rumahnya bertetangga dengan masjid maka tidak boleh baginya menjamak shalat.

Perhatikan pendapat ulama Hanabilah yang penulis kutip dari Fiqih Sunnah:

فأما من هو بالمسجد أو يصلي في بيته جماعة أو يمشي إلى المسجد مستترا بشئ أو كان المسجد في باب داره فإنه لا يجوز له الجمع.

“Adapun orang yang tinggal di masjid, atau orang yang shalat berjama’ah di rumahnya, atau dia berjalan ke masjid dengan sesuatu yang dapat menutupinya atau ternyata posisi masjid di depan rumahnya maka tidak boleh baginya menjamak shalat.” [ayah_shalih]

Baca Juga:

ADAKAH LARANGAN UCAPKAN SELAMAT NATAL DI AL QUR’AN