Kesepakatan Damai AS Dengan Taliban Tidak Akan Menyenangkan Para Penentang Jihadis

Duniaekspress.com. (6/12/2018). — Afghanistan — Amerika Serikat sudah tidak bisa lagi mengontrol jalannya Perang di Afghanistan. AS mulai putus asa dan berusaha merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban untuk mengakhiri keterlibatannya dalam perang yang sudah berlangsung 17 tahun. Taliban mau bernegosiasi dengan syarat pasukan AS harus ditarik dari Afghanistan.

Harapan tercapainya kesepakatan dengan Taliban sangat tinggi setelah para pejabat AS mulai terlibat langsung dalam pertemuan dengan perwakilan organisasi awal tahun ini. Bulan lalu, Taliban menghadiri konferensi di Moskow yang diselenggarakan oleh Rusia. Sementara pemerintah AS dan Afghanistan tidak mengirim delegasi resmi, hanya perwakilan yang hadir.

Pada konferensi tersebut, Taliban menyampaikan proposalnya untuk mewujudkan ‘perdamaian’ di Afghanistan. Sebelum pembicaraan bisa dimulai, Taliban memberi syarat agar para pemimpinnya harus dihapus dari daftar hitam Perserikatan Bangsa-Bangsa, anggotanya dibebaskan dari penjara, kantor politiknya secara resmi diakui, dan diakhiri ‘propaganda negatif yang menjelek-jelekkan Imarah Islam Afghanistan’.

Dalam pernyataan resminya di konferensi Moskow, Taliban menyebut dirinya sebagai ‘Emirat Islam Afghanistan’ – sebanyak 61 kali. Ini adalah nama pemerintahan Taliban sebelum invasi AS pada 2001.

Taliban bersikeras bahwa Imarah Islam Afghanistan, adalah perwakilan sejati rakyat Afganistan. Pemerintahan Afghanistan sekarang ‘tidak Islami’ hanyalah “antek” dan “boneka” Barat, ujar pernyataan Taliban, dan menolak untuk bernegosiasi atau berbagi kekuasaan dengan mereka.

Setelah pra-kondisi perundingan terpenuhi, Taliban menegaskan bahwa agar terwujud perdamaian, pasukan AS dan NATO harus menarik diri dari negara itu. Kemudian, Taliban mengatakan, bisa ada kedamaian.

Ketika beberapa orang menolak tuntutan Taliban, mereka tetap teguh pada tuntutan ini selama lebih dari satu dekade. Sejak pemerintahan Obama berusaha untuk menegosiasikan perdamaian dengan Taliban, Taliban tidak bergeming dengan tuntutannya.

Taliban, bagaimanapun, mampu mengambil konsesi, seperti pembukaan kantor politiknya di Qatar dan pembebasan lima pemimpinnya yang ditahan di Guantanamo. Sedang AS gigit jari tidak dapat yang diinginkannya.

Pada bulan Agustus 2017, Presiden Donald Trump, dalam pidato televisi nasional, mengumumkan rencananya untuk menyesuaikan strategi di Afghanistan setelah Taliban mendapat keuntungan militer. AS berencana untuk meningkatkan dukungan pada pasukan keamanan Afghanistan dan memberi lebih banyak tekanan militer pada Taliban, dalam upaya untuk memaksanya ke meja perundingan, juga membujuk Pakistan untuk mengakhiri dukungannya terhadap Taliban, kata Trump.

Dalam waktu enam bulan setelah pengumuman perubahan strategi Trump, AS menyerah menghadapi pukulan militer Taliban dan melompat ke kanan untuk bernegosiasi.

Taliban, yang merasakan keputusasaan Barat yang ingin mengakhiri perang, meningkatkan serangan militernya pada pasukan Afghanistan. Pejuang Taliban secara singkat menguasai dua ibukota provinsi pada bulan Mei dan Agustus, dan telah menguasai sejumlah pangkalan militer dan beberapa distrik. Korban personel keamanan Afghanistan selalu tinggi.

Kegagalan pasukan keamanan Afghanistan yang terdemoralisasi untuk mempertahankan daerah pedesaan Afghanistan, yang digunakan oleh Taliban untuk menyerang wilayah yang lebih padat penduduknya, telah memicu keinginan Barat untuk membuat perjanjian dengan Taliban. Barat sangat ingin mengakhiri keterlibatannya dalam perang, dan Taliban merasakan hal itu.

Jadi, dalam kondisi seperti ini, apakah mungkin ada kesepakatan dengan Taliban? Jawabannya adalah ya, tetapi itu tidak akan menjadi kesepakatan yang menyenangkan bagi AS, NATO, dan orang-orang di kawasan yang menentang jihadis.

Sangat mungkin Taliban akan membuat beberapa konsesi yang akan menenangkan Barat dan pemerintah Afghanistan. Namun, sulit bagi Taliban untuk menarik tuntutan yang telah dipegang teguh selama lebih dari satu dekade, seperti penarikan pasukan AS atau penolakannya untuk masuk ke dalam pemerintahan Afghanistan, sementara mereka juga masih terus meningkatkan pertempuran. (RR).

Sumber :  longwarjournal

 

Baca juga, KEBERHASILAN DIPLOMASI TALIBAN DALAM KONFERENSI MOSKOW YANG LOGIS DAN JUJUR APA ADANYA