Taliban menyebut pemerintahan Arshaf Ghani “impoten,” dan bernegosiasinya hanya “buang-buang waktu” saja

Duniaekspress.com. (9/12/2018). — Afghanistan — Mujahidin Taliban dengan cepat menanggapi proposal perdamaian yang ditawarkan Presiden Arshaf Ghani, yang disampaikan pada konferensi Jenewa, 28 November 2018. Mujahidin Taliban meremehkan pemerintah Afghanistan sebagai rezim “tak berdaya dan dipaksakan asing ” yang tidak layak duduk di meja perundingan.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari yang sama di Voice of Jihad, Mujahidin Taliban menegaskan kembali sikapnya dalam pembicaraan damai. Ghani tidak digambarkan sebagai presiden pemerintah Afghanistan, tetapi “kepala pemerintahan Kabul.” Pemerintah Afghanistan, ditolak oleh Taliban, “tidak berdaya dan dipaksakan asing” dan bernegosiasi dengannya adalah “buang-buang waktu” karena pihak impoten tidak memiliki kapasitas untuk membuat keputusan. ”Ghani membuat proposal, yang“ di luar kemampuannya” karena AS adalah kekuatan nyata di balik negosiasi, tulis Mujahidin Taliban.

Sementara itu, Imarah Islam Afghanistan, adalah “wakil dari bangsanya,” dan “entitas yang berdaulat.”

Selain itu, Mujahidin Taliban menulis bahwa “berjuang dan bernegosiasi dengan penjajah Amerika untuk keberhasilan Jihad.” Dengan kata lain, ia mengobarkan perang agama untuk menggulingkan AS dan demokrasi ala Barat. Mujahidin Taliban menyebut pemerintah Afghanistan dan konstitusinya tidak Islami dan bahwa Imarah Islam Afghanistan memiliki otoritas keagamaan untuk memerintah rakyat Afghanistan.

Pernyataan itu, yang akan ditampilkan (terjemahannya) secara lengkap di bawah ini, adalah pernyataan terbaru mengenai negosiasi dan “perdamaian” di Afghanistan. Mujahidin Taliban secara konsisten selama lebih dari satu dekade, menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, juga tidak akan berbagi kekuasaan dengan mereka. Mujahidin Taliban menegaskan bahwa perdamaian akan tercapai begitu AS dan NATO menarik pasukan mereka dari negara itu.

Sebelumnya bahwa sikap pemerintahan Kabul dalam negosiasi sama sekali bertentangan dengan pandangan Mujahidin Taliban. Dan Pernyataan Taliban ini memperkuat perbedaan mendasar tersebut.

Berikut Pernyataan lengkap  Mujahidin Taliban tentang negosiasi:

 

Keterangan oleh juru bicara Imarah Islam Afghanistan mengenai pernyataan oleh kepala pemerintahan Kabul Ashraf Ghani

Hari ini sebuah konferensi tentang Afghanistan diadakan di Jenewa. Konferensi ini juga dihadiri oleh Ashraf Ghani bersama timnya.

Selama pidatonya, Ashraf Ghani menyatakan mendirikan tim negosiasi yang akan berbicara dengan Imarah Islam. Dia juga menyampaikan proposal tentang negosiasi yang berada di luar kemampuannya.

Kebijakan Imarah Islam soal negosiasi sangat jelas. Imarah Islam, sebagai wakil dari bangsanya, sedang berperang melawan penjajah Amerika selama delapan belas tahun terakhir.

Imarah Islam, sebagai perwakilan dari bangsa Mujahid Afghan dan sebagai entitas yang berdaulat, berjuang dan bernegosiasi dengan penjajah Amerika untuk keberhasilan Jihad.

Berbicara dengan entitas yang tidak berdaya dan yang dipaksakan oleh asing adalah  membuang waktu karena mereka impoten karena tidak memiliki kapasitas untuk membuat keputusan.

Seluruh dunia memahami bahwa lebih dari setengah wilayah Afghanistan berada di bawah kendali Emirat Islam sedangkan pemerintahan Kabul yang dipaksakan oleh Amerika untuk memerintah bangsa Muslim Afghanistan. Rezim ini bukanlah pemerintahan rakyat Afganistan dan tidak dapat merepresentasikan bangsa Mujahid Afghanistan yang gagah berani. (RR).

Sumber : alemarah

 

Baca juga, IMARAH ISLAM AFGHANISTAN MENGKLAIM YANG PALING BERHAK MEMERINTAH AFGHANISTAN