TAQLID DALAM AKIDAH DAN TAUHID SEBAB SESAT, PENOLAKAN DAN PEMBANGKANGAN KAUM TERDAHULU

Duniaekspress.com (11/12/2018)- Taqlid yang terdiri dari tiga huruf asli; Al Qȃf, Al Lȃm, dan Ad Dȃl- menurut bahasa adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa seseorang itu terikat dengan pendapat atau keyakinan tertentu tanpa mempertimbangkan pertimbangan lain sebagaimana binatang jika diikat pada bagian lehernya maka ia akan mengekor dengan kehendak orang yang memegang tali kekangnya. Kata Taqlid diambil dari kata Al Qilȃdah yang artinya tali kekang yang diletakkan pada leher baik leher binatang atau selain bintang.

Sedangkan menurut istilah, Taqlid memiliki dua makna. Pertama : “Mengerjakan suatu perbuatan dengan bersandar pada pendapat seseorang tanpa hujjah/dalil dari dalil syari’at yang pasti.” Kedua : “Beramal dengan pendapat mujtahid tanpa mengetahui dalilnya secara keseluruhan (melainkan hanya mengetahui sebagian dalilnya).” Untuk defenisi kedua, taqlid pada defenisi kedua biasa disematkan dalam masalah fikih dan bukan dalam masalah akidah.

Baca juga:

HOAX DI MASA PARA SAHABAT NABI

Jika taqlid dengan makna yang pertama, maka taqlid diharamkan secara mutlak, apalagi jika dalam masalah akidah. Adapun taqlid jika dipahami dengan makna yang kedua, maka para ulama ushul fikih dalam hal ini memperbolehkan. Bahkan di beberapa kondisi perkara tersebut merupakan sebuah keharusan, yaitu wajib bertaqlid jika tidak paham masalah hukum yang pelik. (Bulûgh As Sûl fî Madkhȃl ‘Ilmil Ushûl, Hal. 25).

Taqlid dalam Masalah Akidah dan Tauhid

Sebagaimana telah disebutkan bahwa taqlid jika diterjemahkan -mengerjakan suatu perbuatan dengan bersandar pada pendapat seseorang tanpa hujjah/dalil dari dalil syari’at yang pasti- adalah tercela dan terlarang secara mutlak. Ini jika dihubungkan dengan masalah fiqhiyah yang bersifat furu atau cabang. Apalagi jika taqlid dihubungkan dalam masalah akidah maka lebih tercela dan terlarang lagi. Karena akidah adalah masalah ushuliyah, pokok, mendasar, fundamental; yang mana seorang muslim tidak diperkenankan bodoh dan taqlid dalam masalah itu.

Taqlid hanya boleh jika dikaitkan dengan masalah fikih saja. Karena masalah-masalah fikih adalah masalah cabang dalam agama dan sifatnya sangat pelik dan detail sehingga yang dapat sampai kepada masalah itu hanyalah para ulama yang mumpuni. Oleh sebab itu para ulama ushul fikih menerjemahkan taqlid yang dibolehkan dengan ungkapan, “Beramal dengan pendapat mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”. Dan catatan, taqlid yang dimaksud adalah taqlid dalam bidang fikih.

Baca Juga:

MENGIKUTI ORANG LAIN TANPA ILMU ADALAH KEJAHATAN

Permasalah klasik yang dihadapai manusia dari zaman ke zaman adalah kebodohan dalam masalah tauhid dan akidah. Oleh sebab itu, Allah senantiasa menceritakan sebab lebodohan, penolakan dan pembangkangan umat-umat terdahulu adalah sikap mereka yang taqli atau “membebek” kepada keyakinan nenek moyang. Salah satu kisah yang Allah ceritakan adalah dialog Nabi Ibrȃhîm dengan orang-orang yang menolak dakwahnya dahulu kala:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Al Anbiyȃ’/21: 52-54).

Pada ayat di atas, Allah menceritakan dialog Ibrȃhîm dan kaumnya yang menentang dakwahnya. Ibrȃhîm bertanya kepada mereka, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” alih-alih akan mendapaatkan jawaban yang logis, Ibrȃhîm malah mendapatkan penolak yang bengis, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Pokoknya begitu. Dulu, bapak-bapak kami, nenek moyang kami, menyembah patung-patung ini. Sekarang kami pun akan mengikutinya. Sekalipun kami tidak tahu kenapa kami harus mengikutinya. Dalam kisah yang lain Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Q.S. Al Baqarah/2: 170-171).

Al Hȃfidz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Allah Ta’ãlã berfirman, ‘Apabila dikatakan kepada orang-orang kafir yang musyrik itu, ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kebodohan yang kalian lakukan itu!’ Mereka menjawab pertanyaan tersebut, ‘Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami’, yakni menyembah berhala dan tandingan-tandingan Allah. Maka Allah membantah mereka melalui firman-Nya: Apakah (mereka mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk? (Q.S. Al Baqarah/2: 170) Artinya, apakah mereka tetap akan mengikuti jejak nenek moyangnya, sekalipun nenek moyang mereka tidak mengerti apa pun dan tidak pula mendapat hidayah?

Kisah ini ini sejatinya sama dengan kisah-kisah yang lain dalam Al Qur’an, kisah-kisah yang diangkat oleh Allah untuk ditadabburi; bahwa salah satu sebab kesesatan umat-umat terdahulu adalah sikap mereka yang taqlid buta kepada ajaran nenek moyang mereka. Alah berfirman:

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata: “Apakah (kalian akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapak kalian menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (Q.S. Az Zukhruf/43: 23-25).

Allah juga berfirman :
مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (103)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham. Akan tetapi, orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti. Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Q.S. Al Mȃidah/5: 103-104).

Semoga kita dijauhkan dari penyakit taqlid dan dikaruniakan semangat menuntut ilmu, Aamiin. [ayah_shalih]