Penderitaan Bangsa Yang diCaplok rezim Komunis China dan Pelajaran untuk Indonesia

Duniaekspress.com. (22/12/2018). — Xinjiang — Bus terakhir mulai berjalan membawa para mahasiswa menuju kampus. Aku duduk santai di kursi paling depan, memangku sebuah ransel coklat kesayangan.

Tetiba saja aku merasa ada yang kurang, ooh aku sadar ternyata aku lupa membawa tugas kampus yang sudah ku tulis tadi malam hingga jam dua subuh. Aku segera meminta supir untuk memberhentikan bus dan membuka pintu.

Aku turun lalu kembali menuju asrama. Setelah mengambil tugas, aku langsung turun mencari tumpangan.

Aku berdiri di depan asrama berharap ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis ke kampus.

Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebuah mobil yang aku tak ingat apa mereknya, yang ku tahu mobil itu masih baru dan berbentuk mirip seperti Honda CRV, berhenti di hadapanku.

“Mau kemana? Ayo ikut.” Ajaknya ramah, dengan Bahasa Arab.

“Mau ke Jamiah?.” Tanya ku balik.

“Iya, ayo! Naik cepat.”

Aku langsung naik. Aku duduk disisi kanannya.

Dia mulai menginjak pedal, lalu mobil pun melaju.

“Apa kabar akhi? Sehat?” Tanya pria berwajah Turki itu.

“Alhamdulillah sehat. Anta apa kabar?”

“Sehat alhamdulillah, oya dari Indonesia atau Malaysia?”.

Mobil mulai memasuki jalan raya. Kaca mobil sedikit terbuka. Angin musim dingin masuk menyentuh wajah. Hari ini tidak terlalu dingin, sekitar 20°C.

Sepertinya musim dingin sudah hampir selesai.

“Dari Indonesia. Anta dari mana?”

“Ana dari Turkistan, tau Turkistan? Turkistan itu dibawah Ch*na.” Jelasnya.

“Ooh iya. Masih Asia berarti ya. Gimana kehidupan di Turkistan?” Tanyaku.

“Akhi, kehidupan kami jadi begitu porak-poranda semenjak Ch*a masuk ke negara kami. Sekarang saja passport ana tertulis Ch*a.”

“Apa?? Kok bisa? Bukannya Turkistan negara sendiri?? Kok bisa pasportnya C*in*?” Tanyaku heran. Dia menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang dia pikul.

“Ana sudah 9 tahun tidak pulang ke Turkistan.” Keluhnya

“Loh?? Kok bisa??”

“Begini akhi, sekitar 60 tahun yang lalu, mereka orang-orang Ch*na datang baik-baik ke negara kami, bekerja, melancong, dll.

Dengan berjalannya waktu, pemerintahan kami lalai dan menganggap keberadaan mereka biasa saja.

Padahal pergerakan mereka masif, diam tapi pasti, targetnya panjang. Lalu jumlah mereka semakin banyak, banyak yang sudah mengambil warga negara Turkistan.

Pemerintahan kami tetap tidak sadar. Dan akhirnya mereka (Ch*na) melakukan kudeta. Presiden kami mereka bunuh.

Pemerintahan jatuh ke tangan mereka. Pada saat kudeta itu, ratusan ribu pribumi pindah ke bermacam negara lain. Karena kekejaman kekuasaan Ch*na. Dulu mereka hanyalah tukang sapu, sekarang kami yang mereka sapu.” Jelasnya panjang.

“Lalu bagaimana kehidupan disana?” Tanyaku balik.

“Disana semuanya serba ketat akhi. Kenapa ana sudah 9 tahun tidak balik ke Turkistan?! Karena mereka melarang siapapun pergi belajar ke negara Islam.

Ketika pembuatan pasport mereka mensyaratkan tidak boleh pergi ke Negara Islam, seperti Saudi dan Turki. Akhirnya ana bilang bahwa ana mau kuliah ke Jepang, dari Jepang ana ke Saudi. Mereka berikan izin.

Nah, jika kembali ke Turkistan, lalu mereka lihat di passport tertulis negara Islam. Ana akan dipenjara kurang lebih 10 tahun.

Di Turkistan sekarang ini, setiap hari orang-orang Ch*na berdatangan ke Turkistan, ribuan orang. Mereka diberikan tempat tinggal, diberi pekerjaan dan fasilitas. Sedangkan orang orang pribumi, dikekang bahkan diusir.” Terangnya dengan raut muka yang begitu sedih.

Mobil kami masih melaju di jalan raya, dengan kecepatan 90-100 km/jam. Sudah setengah jarak yang kami lewati untuk sampai ke kampus.

“Jadi gimana kehidupan muslim disana?” Tanyaku penasaran.

“Sholat dilarang, azan dilarang. Jilbab kalau warna hitam akan dirobek ditempat. Jenggot dilarang.
Setiap beberapa meter ada pemeriksaan. Handphone diperiksa, jika ada tulisan Allah atau ayat Quran maka bisa ditangkap dan dipenjara. Tidak boleh mengucapkan kata jihad. Kalau bertamu harus melapor dulu. Kalau tidak melapor tuan rumah bisa dipenjara 10 tahun. Beli pisau agak besar dilarang.” Sesalnya.

Sepertinya banyak hal yang susah dia ungkapkan. “Selama 9 tahun kalau liburan ana pergi ke turki, istri orang turki.” Lanjutnya.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang berdiri

muslim turkistan/uighur yang didzalimi rezim komunis china

Aku bisa bayangkan bagaiman kehidupan mereka. Berat, terkekang, terjajah.

“Ya Allah! Jaga negaraku tercinta. Jaga Indonesia. Dan biladal muslimin.” Doaku dalam hati.

“Sekarang di Indonesia, mereka (Ch*n*), semakin banyak saat ini. Masuk di perekonomian. Bahkan sudah masuk pemerintahan.”

Curhatku, aku mulai khawatir dengan keadaan negaraku saat ini. Mobil kami sudah hampir tiba di kampus.

“Wah.. akhi! Jangan sampai kalian tertidur atau lalai sedikitpun. Jangan sampai pemerintah kalian menganggap enteng hal ini. Keberadaan mereka merusak sekali. Mereka seperti tak punya keprimanusiaan. Egois.” Tegasnya. Mobil kami tiba di kampus.

Dan akhirnya aku mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Sebelum turun dia bertanya.

“Akhi! Mau jadi orang kaya?” Senyum merekah di wajahnya.

“Semua kita mau kaya.” Jawabku

“Kalau begitu, jual kucing-kucing yang ada di negaramu ke Turkistan. Sebab kucing-kucing di sana harganya sangat mahal. Karena jumlahnya sudah sangat sangat sedikit. Sudah habis dimakan orang China (non muslim tentunya).”

Semoga Allah jaga tanah air tercinta. Aamiin ya robbal’alamiin.

Kejadian diatas tidak serta merta terjadi tanpa diawali dengan peperangan untuk mencaplok wilayah yang dilakukan rezim komunis china, inilah sepenggal kisah sejarah yang mengawali terjadinya penindasan kaum muslimin turkistan atau xinziang atau muslim uighur.

Kekuasaan Cina atas Tibet berawal dari masa kejayaan Mongolia. Di abad ke-13, sekitar 800 tahun lalu, tentara Mongolia berhasil menguasai Tibet. Namun bukan hanya Tibet yang dikuasainya. Daerah jajahan Mongolia mencapai hingga Polandia dan India. Sedangkan Cina saat itu hanya merupakan bagian kecil dari daerah kekuasaan Mongolia.

Hasil gambar untuk penderitaan masyarakat tibet dijajah china

penderitaan bangsa tibet setelah dijajah china

Akan tetapi, karena sejarawan Cina mengkategorikan kejayaan Mongolia dalam dinasti Yuan, zaman Mongolia merupakan bagian dari sejarah Cina.

Perhatian Cina terhadap Tibet berkurang pada zaman dinasti Ming, namun bangkit lagi sekitar 500 tahun kemudian, di abad ke-18. Abad itu kaisar dinasti Qing menjadikan Tibet bagian dari kekuasaannya. Tetapi, pakar Asia Timur di Hamburg Oskar Weggel menjelaskan, bahwa kaisar dinasti Qing sebenarnya merupakan dinasti asing bukan dinasti Cina, akan tetapi dinasti asing. Dan sampai sekarang hal itu juga disebutkan dalam sejarah Cina.

Pada tahun 1911 dinasti Qing akhirnya digulingkan. Dalai Lama yang ke-13 saat itu menggunakan kesempatan tersebut dan tahun 1913 secara resmi menyatakan kemerdekaan Tibet. Sampai 1950 Tibet menjadi negara merdeka. Ini berdasarkan pandangan pakar hukum internasional Eckart Klein dari Universitas Potsdam.

Namun karena pemerintah Cina mengetahui bahwa sejarah semata bukan alasan kuat untuk membenarkan haknya atas Tibet, propaganda yang dilancarkan Cina mengalihkan perhatian ke sisi gelap Tibet. Yang menyatakan, militer Cina telah membebaskan Tibet dari pemerintahan feodal.

Pakar Asia Timur Oskar Weggel mengutip sikap Cina, “kami, pemerintah Cina, membawa kalian ke peradaban. Kami yang mengeluarkan kalian dari zaman abad pertengahan dan memasukkan ke zaman abad ke-21. Hal ini kelihatan mulai dari sekolah serta perguruan tinggi dan tayangan televisi hingga pembuatan jalur kereta yang melewati dataran bersuhu permanen di bawah titik beku serta perjalanan perdananya Juli 2006. Apa lagi yang harus kami lakukan? Kami membawa kalian ke abad ke-21 dan kalian tidak ada rasa terima kasihnya.“

Sedangkan berdasarkan hukum internasional kualitas dan kuantitas saja dari apa yang diinvestasikan di kawasan lain tidak memainkan peranan penting dalam tuntutan hak atas kawasan tersebut.Berdasarkan hukum internasional ada hal lain yang lebih relevan. Cina menyatakan bertanggung jawab atas semua kejadian di Tibet.
Karena terikat pada standar hak asasi manusia, Cina wajib mematuhinya juga di Tibet. Jika kritik luar negeri menjadi lantang, pemerintah Cina tidak boleh menyebutnya sebagai mencampuri urusan dalam negeri. Siapapun yang menyepakati peraturan internasional, maka pihak tersebut harus menerapkannya jika ada pihak ketiga yang menuntutnya.

MEGA PROYEK, CARA CINA MENGUASAI TIBET

Setelah Tibet menjadi negara merdeka pada tahun 1913, namun rupanya Cina tak pernah menggubris dan terus menganggap Tibet bagian dari Cina.

Cina melumpuhkan Tibet bukan dengan darah dan doa tapi dengan sejumlah mega proyek. Kemerdekaan Tibet berakhir pada tahun 1950 !!

Penguasaan Tibet bermula adanya bantuan dari Cina untuk membangun Tibet, maka dikirimlah para pekerja dari Cina membangun jalan, jembatan dan sarana-sarana infrastuktur lainnya.Tiba-tiba di suatu hari di musim gugur 1950, pekerja-pekerja itu memegang senjata, karena sebenarnya mereka adalah pasukan tentara merah Cina yang menyamar dan menguasai ibu kota serta pemerintahan negeri di atas angin yang dipimpin Dalai Lama tsb. Sejak itu pula Cina mengklaim Tibet sebagai wilayah resminya dan sejak penyerbuan inilah pertikaian Cina-Tibet bermula.

Setahun kemudian, pimpinan Tibet, Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso, didongkel dari jabatannya. Sementara Cina mengangkat pemimpin baru di Tibet. Tibet terpecah belah. Gejolak politik memanas.

Pada 17 Maret 1959, tentara Cina hendak menangkap Dalai Lama guna menguasai Tibet sepenuhnya. Tapi Dalai Lama ke-14 itu berhasil meloloskan diri dan mendirikan semacam pemerintahan pelarian di Dharamsala, India sampai hari ini.

Sejak Cina mencaplok Tibet pada tahun 1950, pemimpin agama dan politik Dalai Lama melarikan diri ke pengasingan di India, pemerintah Cina telah menyuntikkan dana lebih dari 648 miliar yuan atau setara 100 miliar dolar AS untuk wilayah tersebut.

Subsidi Beijing ini digunakan untuk sejumlah mega proyek infrastruktur listrik, transportasi, dan teknologi informasi. Berikut sejumlah mega proyek tsb.

PLTA

PLTA di Tibet untuk memenuhi target energi terbarukan
Cina, meski Cina sudah menjadi negeri paling produktif menghasilkan pembangunan bendungan di dunia namun masih terus memanfaatkan lebih banyak lagi tenaga air.

Di Tibet, megaproyek bendungan raksasa itu ditempatkan di sungai Yarlung Tsangpo, Dataran Tinggi Tibet. Sungai ini merupakan hulu dari sungai Brahmaputra yang mengalir ke hilir di India dan Bangladesh.

Cina merencanakan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) itu bisa menghasilkan listrik sebesar 38 Gigawatt.

Selain di Yarlung Tsangpo, baru-baru ini Cina juga memulai membangun mega proyek PLTA terbesar di Suwalong Tibet.Mega proyek ini diperkirakan menelan biaya lebih dari 3 miliar dolar AS yang akan memasok listrik ke daerah di wilayah timur negara Cina. Proyek ini direncanakan akan menghasilkan lebih dari 5.400 kwh listrik ketika selesai pembangunannya pada 2021.

Sebuah survei sumber tenaga air yang disponsori pemerintah Cina menyebutkan bahwa Tibet memiliki potensi untuk menghasilkan lebih dari 170 juta kilowatt listrik. Survei juga menyebutkan ada lebih dari 3.300 sungai dengan permukaan aliran lebih dari 100 kilometer persegi di Tibet.

KERETA API

Selain proyek gigantis PLTA, Cina telah membangun jalur rel kereta sepanjang 3.757 km membelah Himalaya untuk mengubungkan Beijing ke ibukota Tibet, Lhasa. Proyek ini telah diresmikan pada 2006 lalu dan dinilai sebagai proyek prestius karena melewati ketinggian 5072 m di atas permukaan laut di Tanggula Pass. Tanggula Pass menjadi stasiun tertinggi yang bisa dilintasi kereta api di dunia.

Jalur kereta api ini juga didukung dengan sistem telekomunikasi mobile dengan cakupan area mencapai 80 persen di sepanjang jalur dan diperkirakan akan mencapai 95 persen di masa depan. Penumpang kereta dapat mengirim dan menerima pesan dan panggilan dengan ponsel pada di sepanjang perjalanan menuju ke “Atap Dunia” Tibet.

Tapi Cina belum puas dengan pencapaian itu, pemerintah Cina telah bersepakat menghubungkan jalur kereta api dari Tibet ke Nepal. Panjang jalur diperkirakan akan mencapai 160 km dengan kecepatan kereta 120 km/jam. Proyek raksasa ini diperkirakan selesai pada akhir 2020. Tidak hanya itu, Cina merencanakan jaringan kereta tersebut akan terus diperpanjang sampai India.

Setidaknya untuk mewujudkan mimpi besar itu, Cina membutuhkan 4 miliar dolar Amerika dan diharapkan bisa selesai dalam waktu lima tahun.

DAMPAK BAGI TIBET

Laporan Tibet Watch (2014), organisasi hak asasi manusia di Tibet, menjelaskan bahwa kini Tibet telah berubah. Sejumlah proyek seperti listrik, kereta api,bandara, dan jaringan telekomunikasi telah mengubah kebudayaan Tibet.

Cina telah mengubah Tibet menjadi tontonan para turis. Cina telah membuka akses wisata ke situs ziarah Budha di barat daya Tibet seperti Gunung Kailash dan Danau Manasarovar. Jumlah wisatawan ke Tibet mencapai 15 juta pada 2015 dan 95 persen di antaranya berasal dari Cina. Dari wisata di Tibet Cina diperkirakan memperoleh pendapatan lebih dari 1,7 milyar dolar AS.

Tibet Watch berkesimpulan bahwa banyaknya proyek-proyek Cina di Tibet telah berdampak negatif pada masyarakat lokal, lingkungan, situs fisik, praktik agama, serta budaya tradisional. Pendek kata, Cina hanya mengeksplorasi Tibet dari alam hingga manusianya.

Senada dengan laporan Tibet Watch, Cutural Survival—lembaga nirlaba pendukung kelangsungan budaya Masyarakat Adat menyebutkan banyak orang Tibet tidak memperoleh manfaat ekonomi dari masuknya wisatawan ke wilayah mereka.

Sebagian besar pekerjaan yang diciptakan oleh pembangunan pariwisata di Tibet hanya untuk pekerja migran asal Cina.Sementara sebagian besar pendapatan yang dihasilkan dari peningkatan jumlah wisatawan Cina mengalir kembali ke Cina.

Sumber : Berbagai sumber

Note :
1. Tibet hingga 1950 merupakan negara merdeka, meskipun tidak diakui oleh Cina
2. Penguasaan Tibet oleh Cina bermula dari penyamaran tentara merah Cina sebagai pekerja proyek terutama mega proyek PLTA dan kereta api.
3. Akankah sejarah berulang di Indonesia karena mega proyek Cina dengan jenis dan sistem yang sama ?!?

bersambung … 

 

Baca juga, KOMISI HAM MUI SEBUT KEJAHATAN CINA ATAS UIGHUR MENJURUS GENOSIDA