Amerika Serikat bertemu dengan Imarah Islam Afghanistan bahas penarikan pasukannya dari Afghanistan

Duniaekspress.com. (26/12/2018). — Afghanistan — Emirat Islam Afghanistan lewat situs resminya merilis 4 pernyataan singkat selama 3 hari berturut-turut mengenai pertemuan dengan AS dan beberapa negara lainnya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dalam pernyataan tanggal 16 Desember, juru bicara Emirat Islam, Zabihullah Mujahid menegaskan bahwa perwakilan dari “kantor politiknya” akan bertemu dengan delegasi Amerika.

Pertemuan tatap muka akan berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA). Dan menurut Imarah Islam, perwakilan dari Arab Saudi, Pakistan dan [juga] Uni Emirat Arab juga akan menghadiri pertemuan.”

Dalam pernyataan terpisah yang dirilis pada 17 Desember, Imarah Islam menegaskan tidak ada agenda pertemuan atau pembicaraan dengan pemerintahan Kabul. Mujahidin secara terbuka menolak setiap pembicaraan dengan pemerintahan Presiden Ghani, dan berulang kali menggambarkannya sebagai pemerintahan “boneka” AS yang tidak sah.

Dalam sebuah rilis di berikutnya Emirat Islam kembali menegaskan bahwa tidak ada pertemuan dan pembicaraan dengan perwakilan pemerintahan Ashraf Ghani seperti diklaim oleh pejabat Kabul dan dirilis beberapa media. “Kami sekali lagi menolak laporan-laporan ini. Diskusi sedang berlangsung dengan perwakilan Amerika Serikat tentang mengakhiri pendudukan, hal yang tidak menyangkut pemerintahan Kabul sama sekali. Seluruh agenda difokuskan pada isu-isu yang berkaitan dengan penjajah dan pembicaraan secara eksklusif akan diadakan dengan mereka,” bunyi pernyataan tersebut.

Sedangkan dalam rilis berikutnya, di hari yang sama 18 Desember alemarah mengabarkan Delegasi Imarah Islam mengadakan serangkaian pertemuan dengan para pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan dan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi. Pembicaraan berkisar seputar penarikan pasukan pendudukan dari Afghanistan, mengakhiri penindasan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dalam pertemuan itu juga dibicarakan tentang perdamaian dan rekonstruksi Afghanistan. Selain itu, pembicaraan awal diadakan dengan negara-negara tersebut bersama dengan Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri AS, Zalmai Khalilzad.

“Delegasi Emirat Islam Afghanistan bertemu dan melakukan pembicaraan dengan para pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan, Uni Emirat Arab dan Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri AS, Zalmai Khalilzad di Abu Dhabi”

Menurut Voice of America (VOA), pertemuan di UAE ditengahi oleh Pakistan, setelah Presiden Donald Trump meminta bantuan Pakistan untuk memulai pembicaraan. Mengutip para pejabat Pakistan, VOA menambahkan bahwa pembicaraan sebelumnya di Qatar terhenti karena Imarah Islam bersikeras “tanggal atau jadwal” penarikan pasukan AS dan NATO sebagai syarat mereka mau berpartisipasi dalam proses perdamaian dengan pemerintah Afghanistan yang didukung Barat. Jadwal seperti itu akan menjadi konsesi besar untuk memulai negosiasi.

Pemerintahan Trump telah berusaha untuk menekan Pakistan agar mengakhiri dukungannya pada Imarah Islam dan kelompok-kelompok jihadis lainnya. AS menahan jutaan dolar dalam bentuk bantuan militer, tetapi menurut pengamat Barat, hal itu tidak mengubah sikap Pakistan. Departemen Luar Negeri menegaskan awal tahun ini bahwa Pakistan terus menyediakan tempat yang aman bagi kepemimpinan senior Imarah Islam.

Imarah Islam telah menggunakan diplomasi untuk melemahkan legitimasi pemerintah Afghanistan, dan meningkatkan kredibilitas internasionalnya.

Pembicaraan pemerintahan Obama dengan Imarah Islam (Taliban) semakin memperkeruh hubungan antara AS dan Presiden Hamid Karzai. Saat itu, AS setuju untuk mengizinkan Taliban membuka “kantor politik” di Doha dengan harapan Taliban tidak akan menyebut dirinya sebagai “Emirat Islam Afghanistan” – nama rezim sebelum invasi pimpinan AS pada Oktober 2001. Hal pertama yang dilakukan Taliban saat membuka kantornya pada pertengahan 2013 adalah membentangkan spanduk bertuliskan “Emirat Islam Afghanistan” di atasnya. Ini membuat pemerintah Karzai tersinggung, karena menyiratkan bahwa rezim Taliban adalah penguasa sah Afghanistan.

Imarah Islam konsisten dengan ini, mereka terus-menerus menyebut dirinya sebagai “Imarah Islam Afghanistan,”. Mereka berpendapat bahwa hanya pemerintahnya yang berbasis syariah yang merupakan perwakilan sah dari rakyat Afghanistan.

Pada 16 November misalnya, Imarah Islam merilis sebuah pernyataan tentang konferensi di Moskow. Imarah Islam hadir; pemerintah Afghanistan tidak. Pernyataan itu berjudul, “Diplomasi Efektif yang Islami.” Dari perspektif para jihadis, acara yang diselenggarakan oleh Rusia adalah kesempatan yang baik untuk mengekspos “kejahatan penjajah asing dan pemerintahan Kabul dan korupsi mereka di antara topik-topik lain.” Imarah Islam menambahkan bahwa dalam konferensi Moskow itu “memperjelas situasi sekarang di Afghanistan dan mengekspos kebijakan, penindasan dan korupsi dari agresor biadab dan pemerintahan Kabul.”

Imarah Islam secara konsisten mengacu pada pemerintah Ghani sebagai “pemerintahan Kabul” – sebuah frase yang merendahkan.

Imarah Islam memaparkan, dengan mengatakan “delegasi Imarah Islam mempresentasikan sikap keagamaan dan nasionalnya di Konferensi Moskow yang mana keraguan berbagai negara telah dihapus dan menjadi lebih jelas bahwa hanya Imarah Islam yang saat ini benar-benar mewakili rakyat Afganistan, bahwa mereka telah berhasil memperoleh dukungan publik dan berjuang untuk membela hak-hak rakyat Afghanistan dan kedaulatan negara – perjuangan tersebut adalah hak asasi manusia dan hukum dari negara mana pun yang tidak boleh dirampas. ”

Imarah Islam menyatakan bahwa “di medan militer Imarah Islam telah mengalahkan musuh pendudukan bersama pasukan yang diperbudak di satu sisi, dan di sisi lain telah memaksa musuh yang lelah malu di bidang politik.” Menurut Imarah Islam, AS, dan Barat telah dipermalukan dalam negosiasi.

Dalam sebuah pernyataan terpisah pada 28 November, Imarah Islam menyatakan di sebuah konferensi di Jenewa bahwa “juga dihadiri oleh Ashraf Ghani bersama dengan timnya.” Imarah Islam mengatakan “Emirat Islam, sebagai wakil dari negara Mujahid Afghanistan yang gagah berani dan sebagai sebuah entitas yang berdaulat, berjuang dan bernegosiasi dengan penjajah Amerika untuk keberhasilan Jihad ”- dengan kata lain, tujuannya agar AS dan sekutu asingnya mundur dari Afghanistan. Berbicara dengan “entitas yang tanpa daya dan dikendalikan asing” – yang berarti pemerintah Afghanistan, adalah ” buang-buang waktu “.

Masih harus menunggu apakah Zalmay Khalilzad, yang memimpin delegasi Amerika, dapat benar-benar membujuk Imarah Islam dan pemerintah Afghanistan untuk duduk di meja yang sama – atau AS akan melanjutkan tanpa pembicaraan seperti itu.

Pembicaraan sebelumnya telah diadakan di Qatar , sebuah negara yang telah sering menjadi tempat penggalangan dana untuk Imarah Islam dan al Qaeda. Namun Uni Emirat Arab, rival geopolitik Qatar, juga telah memberi ruang gerak bagi Imarah Islam. Sesaat sebelum terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan pada Mei 2016, emir Imarah Islam, Mullah Mansour mengunjungi Dubai. Perjalanannya, yang pertama kali dilaporkan oleh Washington Post , adalah untuk “belanja dan penggalangan dana.” Mansour kemudian mengunjungi Iran sebelum kembali ke Pakistan, di mana dia diserang.

Diadaptasi dengan beberapa penyesuaian dari tulisan Thomas Joscelyn, diposting pada 16 Desember 2018

 

Tidak akan ada pembicaraan dengan perwakilan pemerintahan Kabul selama pertemuan UEA

Seperti yang telah diumumkan oleh Imarah Islam sebelumnya, sebuah pertemuan terjadi antara perwakilan Emirat Islam dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab.

Pertemuan ini juga akan dihadiri oleh perwakilan dari Arab Saudi dan beberapa negara lain.

Klaim oleh beberapa media yang terkait dengan pemerintahan Kabul bahwa perwakilan mereka juga akan mengadakan pembicaraan dengan orang-orang dari Emirat Islam tidak berdasar. Kami menolak dengan tegas propaganda ini. Tidak ada rencana untuk mengadakan pertemuan dengan perwakilan pemerintahan Kabul dan mereka juga tidak hadir dalam pertemuan yang dihadiri oleh delegasi Imarah Islam. Desas-desus ini adalah propaganda belaka, masyarakat Afghanistan tidak perlu mempercayainya.

 

Tidak ada kesempatan untuk bertemu perwakilan pemerintahan Kabul di Abu Dhabi

Delegasi Imarah Islam mengadakan serangkaian pertemuan ekstensif dengan para pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan dan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi. Pembicaraan berkisar seputar penarikan pasukan pendudukan dari Afghanistan, mengakhiri penindasan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya serta pandangannya dipertukarkan dengan negara-negara tersebut tentang perdamaian dan rekonstruksi Afghanistan.

Selain itu, pembicaraan awal diadakan dengan negara-negara tersebut bersama dengan Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri Zalmai Khalilzad pada akhir hari. Dan pertemuan dalam proses negosiasi ini akan berlanjut hari ini.

Diskusi serius telah berlangsung selama dua hari di Uni Emirat Arab antara perwakilan Imarah Islam dan Amerika Serikat tentang mengakhiri pendudukan.

Pembicaraan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari beberapa negara lain.

Tetapi berbagai pejabat pemerintahan Kabul telah secara konsisten dan tanpa alasan telah menegaskan sejak kemarin bahwa delegasi mereka akan mengadakan pertemuan dengan perwakilan Imarah Islam selama pertemuan ini.

Kami sekali lagi menolak laporan-laporan ini. Diskusi sedang berlangsung dengan perwakilan Amerika Serikat tentang mengakhiri pendudukan, hal yang tidak menyangkut pemerintahan Kabul sama sekali. Seluruh agenda difokuskan pada isu-isu yang berkaitan dengan penjajah dan pembicaraan secara eksklusif akan diadakan dengan mereka.

Warga Afghan tidak perlu memperhatikan desas-desus dan spekulasi dari berbagai pejabat pemerintahan Kabul. Media juga harus menahan diri dari propaganda dengan membaca pernyataan resmi kami sebelum menerbitkan laporan apa pun. (RR).

Sumber : alemarah

 

Baca juga, SERANGAN TALIBAN TERHADAP PASUKAN REZIM AFGHANISTAN TIDAK TERPENGARUH OLEH MENINGKATNYA TEKANAN AS