Duniaekspress.com (27/12/2018)- Menjelang pemilihan umum pada 9 April, Parlemen Israel (Knesset) sepakat untuk membubarkan diri pada hari Rabu malam.

Menurut harian Israel, Yedioth Ahronoth, 102 suara di Knesset mendukung pembubaran itu, dan hanya dua suara menentangnya.

Baca Juga:

ISIS KLAIM SERANGAM BOM DI GEDUNG KEMENLU LIBYA

Pada Senin, mitra koalisi yang berkuasa yang dipimpin oleh Partai Likud Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyerukan pelaksanaan pemilu lebih awal, yakni pada April.

Keputusan itu muncul setelah Partai United Torah Yudaism menyatakan akan keluar dari koalisi jika Knesset mendukung rancangan undang-undang wajib militer.

RUU itu mewajibkan seluruh warga negara Israel untuk menjalani wajib militer tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk perempuan, kecuali anggota komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks.

Jumlah kaum Yahudi Ultra-Ortodoks mencapai sekitar 10 persen dari total populasi Israel. Mereka cenderung hidup tertutup dalam lingkup komunitas dan sangat mematuhi hukum agama Yahudi.

Baca Juga:

INDIA TANGKAP 10 REMAJA ISLAM DENGAN TUDUHAN TERLIBAT ISIS

Sebuah krisis dalam koalisi pemerintahan seputar RUU yang berdampak pada pengecualian dari dinas militer untuk laki-laki Yahudi ultra Ortodoks telah berujung pada keputusan itu.

Netanyahu yang memimpin partai sayap kanan Likud, telah memerintah dengan mayoritas tipis 61 kursi di dalam parlemen beranggotakan 120 orang.

Jajak pendapat menunjukkan partai Netanyahu kemungkinan akan memenangkan pemilihan. Namun peluang itu bisa pupus oleh sebuah keputusan mendatang dari Jaksa Agung Israel apakah dia akan melakukan penuntutan terhadap Netanyahu.

Netanyahu sedang menghadapi serangkaian tuduhan korupsi dan sebuah penuntutan akan memaksa perdana menteri untuk mundur. [DBS]