duniaekspress.com, 30 Desember 2018. Adalah Abu Sulaiman al-‘Utaibi, Qodli AQI (Al-Qaeda irak) dan Daulah Islam Irak (ISI) menulis surat kepada pimpinan Al-Qaeda di Khurosan (Afghanistan) akan kemunduran dan kebobrokan AQI setelah menjelma atau terbentuknya ISI.

LATAR BELAKANG ABU SULAIMAN AL-‘UTAIBI

Beliau lahir di Arab Saudi pada tahun 1980, Abu Sulaiman belajar di Universitas Islam bergengsi, yaitu Universitas Imam Muhammad bin al-Saud di Riyadh. Meskipun dilaporkan sebagai seorang siswa yang cerdas dan menonjol, Abu Sulaiman meninggalkan studinya pada tahun 2006 dan bergabung dengan al-Qa’ida di Irak (AQI). Beliau menjabat Qodli tertinggi Daulah Islam Irak pada Maret 2007, dan sempat memberikan pesan umum pada April dan Juni 2007.

Beliau meninggalkan jabatannya pada Agustus 2007 dan pergi meninggalkan Irak menuju Pakistan melewati Iran bersama Abu Dujanah al-Qohthoni dengan bantuan Anshar as-Sunnah.

Beliau syahid insyaAlloh akibat serangan udara amerika di Provinsi Paktia, Afghanistan pada Mei 2008.

Nama beliau muncul dalam daftar pejuang asing yang menjadi target setelah amerika menyerang post ISI di Ninjar pada September 2007, dan menemukan beberapa dokumen.

========

Pada 24 April 2008, pasukan koalisi berhasil mendapatkan surat-surat penting saat mereka menewaskan Abu Nizar (nama asli beliau adalah Ali Hamid Ardani al Ithawi),  beliau menjabat sebagai menteri informasi AQI, beliau ditembak saat hendak melakukan perlawanan pada checkpoint di Baghdad Irak. Abu Nizar bertanggung jawab termasuk menjalankan jaringan propaganda AQI (Al-Qaeda Irak) juga termasuk hubungan utama antara pemimpin senior Al-Qaeda dengan AQI. 

Surat yang ditemukan dan kemudian diterbitkan di kemudian hari adalah surat antara pemimpin pusat Al-Qaeda  dengan Abu Hamzah al -Muhajir (Abu Ayub al-Masri), pimpinan AQI dan pejabat ISI membahas tentang salah satunya, kritik terhadap kepemimpinan mereka (Abu Hamzah dan Abu Umar al-Baghdadi) dari ikhwan mereka, Abu Sulaiman al-‘Utaibi yang sempat menjabat qodli tertinggi.

Baca sebelumnya:

KABUT FITNAH SAAT PENGANGKATAN ABU BAKAR AL-BAGHDADI

ISI SURAT PENGADUAN ABU SULAIMAN KEPADA PEMIMPIN PUSAT AL-QAEDA

Dalam Suratnya beliau menceritakan sejarah lahirnya Daulah Islam Irak pada tahun 2006 M dan fase-fase sebab-sebab keterpurukan daulah.

Tak luput beliau menceritakan pula kesalahan-kesalahan daulah dari sisi manhaj, sistem yang dibangun dan tindakan mereka.

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد:-

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya. Amma ba’du:

Ini adalah surat singkat yang memuat di dalamnya ucapan salam, kerinduan, kecintaan dan persaudaraan. Sungguh telah diriwayatkan secara shohih dari Nabi kita SAW bahwa beliau bersabda:

Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya … lalu beliau menyebutkan di antaranya adalah:

… dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. Muttafaq ‘alaih, dari hadits Abu Huroiroh RA.

Allah Maha Tahu bahwa saya dan ikhwan-ikhwan saya di Al Qo’idah Irak benar-benar sangat rindu bertemu dengan antum semua (para pimpinan di Khurosan). Dan kami persaksikan kepada Allah bahwa kami mencintai antum semua. Saya memohon kepada Allah agar mengumpulkan kami dengan antum di dunia dalam keadaan yang paling sempurna, dan juga di akhirat di syurga na’im. Dan tidaklah samar bagi antum semua bahwa diantara syarat kecintaan karena Allah ini adalah ia haruslah murni untuk mencari wajah Allah, yang di antara konsekuensinya adalah saling menasehati dan tulus. Karena telah disebutkan dalam Shohih Muslim sebuah hadits dari Jarir RA, beliau berkata: Kami berbaiat kepada Rosululloh SAW untuk mendengar dan taat dalam kondisi bersemangat ataupun dalam kondisi terpaksa, dan untuk memberikan nasehat kepada setiap muslim.

Maka tidak ada kebaikannya pada ukhuwah yang tidak dibangun di atas ketulusan dan tidak dibingkai oleh sikap saling memberi nasehat.

[Al Qo’idah Sebagai Gerakan Terbaik zaman ini]

Dalam hal ini saya tidaklah berlebihan jika saya katakan: bahwa Al Qo’idah di dunia pada hari ini adalah satu-satunya kelompok — sejauh pengetahuan saya yang dangkal ini — yang berdiri di atas ketulusan dan memberi nasehat, dan tidak berdiri di atas yang lainnya. Demi Allah, inilah yang mendorong saya untuk bergabung dengan jamaah ini di negeri dua aliran sungai (Irak) yang menurut perkiraan kami akan mendapatkan pertolongan. Yang mana di pucuk pimpinannya adalah seorang pahlawan Islam yang penyabar, Abu Mush’ab Az Zarqowi, semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada’. Atas dasar ini saya tulis surat ini, dengan mengikuti teladan dari generasi salaf umat Islam ini dalam memberikan nasehat kepada para pemimpin yaitu dengan cara tidak menyebarkannya di tengah-tengah pasukan karena dikhawatirkan akan terjadi kekacauan.

Untuk menjelaskan kenyataan jihad di negeri dua aliran sungai (Irak), dan bagaimana kondisinya sekarang setelah sebelumnya dalam keadaan kuat dan dekat dengan kemenangan. Namun, kini menuju kepada kelemahan dan berjatuhannya berbagai wilayah satu persatu. Misalnya adalah Ramadi, yang merupakan kota pertama di mana para ikhwah dapat mengumumkan imaroh. Saya tidak katakan bahwa kami telah dapat menguasai kota tersebut sepenuhnya akan tetapi komando yang dominan berlaku di sana adalah komando mujahidin. Sementara bendera-bendera lain tidak ada yang beroperasi di sana, Syaikh Abu Mush’ab sendiri tinggal di sana beberapa bulan sebelum beliau terbunuh. Namun, setelah proklamasi imaroh dilakukan malah justru menjadi sarang orang-orang murtad, wal’iyadzubillah, dan dikelilingi oleh sekitar 30 pos pemeriksaan tentara keamanan nasional dan Amerika, walaa haula walaa quwwata illabillah. Maka saya katakan, dengan meminta petunjuk kepada Allah:

[Sebab-Sebab Keterpurukan Al Qo’idah Irak]

Penyebab utamanya hal itu adalah proklamasi berdirinya Daulah dengan cara seperti ini. Sementara semua orang menyangka bahwa berdirinya Daulah ini terjadi setelah semua jamaah yang tergabung dalam Majelis Syuro Mujahidin berbaiat kepada Al Qo’idah lalu para kepala suku berbaiat dalam Hilful Muthoyyabin, padahal sebenarnya tidak seperti itu sama sekali.

Hilful Muthayyibin

Akan tetapi yang berbaiat itu adalah jamaah-jamaah seperti Saroya Al Jihad, Saroya Al Ghuroba’, Jaisy Ahlus Sunnah, Kataib Al Ahwal, Jaisy Ath Thoifah Al Manshuroh dll, sementara mereka itu adalah kumpulan orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jihad yang serius di lapangan. Bahkan di antara mereka ada yang belum pernah memegang senjata seumur hidupnya, ada juga di antara mereka yang tidak memiliki pengikut sama sekali namun hanya sekedar nama. Nah, mereka inilah yang berbaiat dan meminta syarat baik secara eksplisit maupun secara implisit untuk diberi jabatan di dalam Daulah yang akan diproklamasikan tersebut. Dan terjadilah apa yang mereka inginkan. Dan saya persaksikan kepada Allah yang Maha Agung tentang itu semua, karena posisi saya yang dekat dengan Abu Hamzah Al Muhajir.

Tidak seorang pun dari ketua suku yang terkenal yang ikut berperan, sebagaimana yang sering kali dikatakan oleh Abu Hamzah Al Muhajir. Akibatnya: terjadilah penyimpangan manhaj, kemudian hal itu melahirkan kelemahan dalam menghadapi kesalahan-kesalahan fatal di bidang manhaj lantaran sikap basa-basi. Selain hal itu juga melahirkan banyak sekali penyusupan yang akibatnya kita banyak kehilangan ikhwah, sebagiannya terbunuh dan sebagian lainnya tertangkap. Hal itu juga mengakibatkan terbengkalainya program yang benar dan pencurian terhadap harta masyarakat dengan mengatasnamakan Daulah.

[Kasus Perampokan]

Saya sendiri pernah menyaksikan beberapa kasus yang dilakukan oleh mantan Amir Saroya Al Jihad – sekarang ini dia adalah wakil Amirul Mukminin, yakni Abu Abdirrohman Al Falahi – di mana jamaahnya merampas 26 truk dengan nilai dagangan yang ada pada satu truknya adalah dua setengah daftar (buku kas induk), itu belum harga truknya. Lalu tatkala pemiliknya mengadukan kasus tersebut dan pengaduannya itu sampai kepada saya, saya panggillah Abu Abdirrohman tadi. Dia pun beralasan bahwa harta tersebut adalah harta milik orang Rofidloh, namun dia tidak bisa membuktikan klaimnya itu kepada saya. Lalu tatkala kami selidiki ternyata semua itu harta milik orang Ahlus Sunnah, Abu Abdirrohman pun mengatakan lagi bahwa ini memang harta orang Ahlus Sunnah akan tetapi pemiliknya memiliki tanggungan hutang kepada Daulah.

Kemudian tatkala saya minta kepadanya agar menghitung jumlah hutangnya, ternyata hutangnya tidak mencapai nilai satu truk apalagi 26 truk. Abu Abdirrohman – padahal dia adalah wakil Amir – mengatakan lagi: “Saya mengambil hartanya ini sebagai hukuman kepadanya, karena saya mendapatkan perintah dari Abu Hamzah agar mengambil harta semua pedagang yang pergi ke Baghdad.” Sayapun menanyakannya tentang masalah ini namun Abu Hamzah memungkirinya, dan mengatakan: “Ini bukan perintah saya.”

Kemudian Abu Hamzah mengatakan kepada saya: “Wahai Syaikh Abu Sulaiman, Engkau ini Qodli Agung Daulah, jangan terlalu turut campur pada semua urusan kecuali yang kami serahkan kepadamu, supaya wibawamu tidak jatuh.” Sayapun jadi paham bahwa dia lari dari menghadapi Abu Abdirrohman, dan inilah kelemahan yang kami keluhkan pada dirinya yang muncul akibat penyatuan dari semua baiat tersebut.

Perlu diketahui, bahwa si pengusaha tadi adalah orang yang telah dikenal sebagai orang yang memberikan bantuan kepada para ikhwah Al Qo’idah dahulu dalam menyelundupkan bahan-bahan peledak dan alat-alat peledakan jarak jauh. Dia ini adalah seorang pengusaha yang bernama Abu …… semua orang Anbar mengenalnya, sekarang ini dia terlilit hutang karena kasus tersebut …..

Di antara sebab lainnya yang menggiring kepada kondisi terpuruk seperti ini adalah akumulasi kesalahan yang sebagiannya adalah kesalahan yang berbahaya, sebagian lainnya adalah kesalahan yang apabila didiamkan akan mengakibatkan bencana-bencana besar, dan sebagian lainnya adalah kesalahan yang berkaitan dengan manhaj jamaah Daulah.

[Kasus Pembakaran Tiga Mujahid Muhajir]

Misalnya: sikapnya yang terlalu longgar terhadap kabilah yang melakukan pembakaran terhadap tiga orang ikhwah, lantaran mereka melakukan penyerbuan terhadap sebuah markas polisi di provinsi Sholahuddin. Lalu wali (gubernur Daulah) untuk wilayah Sholahuddin melakukan perundingan damai. Maka hamba yang faqir yang merupakan Qodli Agung untuk Daulah ini berangkat menuju ke lokasi dan mendapatkan fakta bahwa ternyata wali Sholahuddin ini telah melakukan kesepakatan dengan kabilah tersebut untuk tidak menyerang markas kepolisian kecuali atas ijin dari kabilah tersebut.

Dengan demikian, maka sebenarnya yang terjadi adalah Daulah Islamiyah lah yang berbaiat kepada kabilah tersebut, bukan sebaliknya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hamzah Al Muhajir. Dan yang patut diingat juga adalah, bahwa sebab utama dari semua ini adalah Abu Hamzah Al Muhajir itu benar-benar menghilang dari di lapangan dan hanya mencukupkan diri dengan laporan yang disampaikan kepadanya. Padahal para wali dan pemimpin wilayah itu telah menegaskan bahwa mereka itu tidaklah menyampaikan berita yang benar kepada dewan pimpinan akan tetapi yang mereka sampaikan itu hanyalah berita-berita yang menggembirakan saja. Mereka ini di antaranya adalah wali provinsi Sholahuddin, Abu Shofa yang namanya adalah Najm.

Adapun Abu Umar Al Baghdadi, dia ini orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Cukup baginya pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya dan tidak membantahnya sedikitpun. Maka Qodli Daulah – yakni hamba yang faqir ini, Abu Sulaiman – pun membakar tiga orang murtad yang terlibat dalam kasus ini, al hamdulillah, sebagaimana disebutkan dalam rekaman nomor 2 dan tidak menimbulkan kerusakan apapun.

[Kasus Mata-mata, Perzinaan dan Homoseksual]

Di antara contoh lainnya adalah pengabaian bahkan sikap berbasa-basi dan pembelaannya terhadap orang yang namanya Abu Usamah – Abu Abdirrohman Al Falahi – tatkala dia membela mati-matian, padahal dia ini adalah wakil Amirul Mukminin, terhadap para penjahat dalam rekaman CD nomer 3, 4 dan 5. Dan dia beralasan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak bersalah dan bahwa para anggota Daulahlah yang telah berbuat dholim kepada mereka dalam memberlakukan hukum Allah, padahal dia belum melihat rincian kasusnya. Namun al hamdulillah para ikhwah telah membantahnya. Kejahatan yang mereka lakukan itu adalah menjadi agen dan melakukan tindakan mata-mata terhadap jaringan Daulah, berzina dan homoseksual, atas pengakuan mereka sendiri.

[Kesalahan Aqidah]

Di antara kesalahan lain yang menyangkut persoalan aqidah adalah pemahaman salah yang dipegangi oleh sebagian mereka. Seandainya hanya sebatas itu mungkin mudah penyelesaiannya. Akan tetapi yang jadi masalah itu adalah hal ini berefek kapada program jihad di lapangan. Misalnya meyakini bahwa Imam Mahdi itu akan muncul kurang dari satu tahun yaitu pada Romadlon 1427 H. hal ini mendorong kepada keyakinan bahwa kita akan menguasai seluruh seluruh wilayah Irak kurang dari 3 bulan. Maka dikeluarkanlah perintah untuk terjun ke lapangan dan tidak mundur selama satu minggu sampai ada perintah untuk mundur. Ini jelas membahayakan para ikhwah. Dan sampai ditulisnya surat ini telah berlalu satu tahun sedangkan kita belum menguasai wilayah apalagi muncul Imam Mahdi.

Abu Umar al-Baghdadi

Kutipan Ceramah Abu Umar Al Bahdadi
— Abu Umar Al Baghdadi Dalam ceramahnya yang berjudul Hashodus Sinin tanggal 17 April 2007: “ … seolah-olah saya melihat pasukan Irak keluar dari sini untuk membela Al Mahdi yang bergelayutan dengan tirai ka’bah.”

Sedangkan Abu Hamzah Al Muhajir dalam ceramahnya yang berjudul Sayuhzamul Jam’u tanggal 13 Juni 2006 M mengatakan: “Allah Mahatahu bahwa saya tidak pernah ragu sekejap matapun, bahwa kami adalah pasukan yang akan menyerahkan bendera kepada hamba Allah Al Mahdi.” —

Pemahaman salah ini juga berdampak kepada ketergesa-gesaan dalam mengambil keputusan, seolah-olah hari qiyamat itu akan terjadi besok. Misalnya adalah pengumuman Daulah dengan cara yang terlalu tergesa-gesa dan lemah seperti ini, selain ada kesalahan-kesalahan lain yang akan saya jelaskan pada tempatnya. Dia sendiri telah menegaskan kepada saya lebih dari sekali dan setelah saya mendiskusikan masalah ini dengannya mengenai perkara-perkara seperti ini: “Tidak ada lagi yang ditunggu atas kemunculan Imam Mahdi.” Sampai-sampai dia memerintahkan beberapa ikhwah untuk membuatkan sebuah mimbar untuk dipakai oleh Imam Mahdi di Al Aqsho!!! Satu lagi untuk masjid Nabawi dan satu lagi untuk Masjid Umawi di Damaskus. Padahal jika ada seseorang sedikit saja mau melihat apa yang terjadi di lapangan niscaya dia melihat bahwa yang terjadi di lapangan itu adalah pengumpulan beberapa bendera (kelompok) di bawah satu bendera namun hati dan manhajnya bermacam-macam.

Ini bukan lagi sesuatu yang rahasia, karena mereka sendiri (Abu Usamah Al Falahi) menyatakan bahwa manhaj – dan bukan kesalahan individu – gerakan ini pasti akan hilang dan yang tinggal adalah manhaj pertengahan. Dan dia mengatakan: Saya menjamin akan membersihkan gerakan ini. Namun, aduhai apa gerangan manhaj pertengahan yang mereka maksudkan itu? Yakni manhaj yang mengalah yang dapat kita saksikan pada hari ini pada diri pada ikhwah. Sangat disayangkan. Tatkala hal ini disampaikan kepada Abu Hamzah Al Muhajir, pada awalnya dia meragukannya. Jika tidak bisa ditakwilkan lantaran kuatnya dalil maka pembicaraan mengenai masalah ini ditangguhkan. Nanti aka ada tambahan rincian tentang sikapnya terhadap kelompok-kelompok lain tersebut.

[Kesalahan Syar’i]

Di antara kesalahan lainnya yang berkaitan dengan kesalahan syar’i adalah tasyabbuh dengan thoghut arab dan ajam dalam memproklamasikan Negara. Misalnya adalah pembentukan susunan kabinet yang telah diumumkan itu, walaa haula wa laa quwwata illabillah.

— susunan kabinet pertama Daulah Irak:

Pertama: Syaikh Abu Abdirrohman Al Falahi, wakil Amirul Mukminin.

Kedua: Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir, Menteri perang.

Ketiga: Syaikh Abu Utsman At Tamimi, menteri urusan syariat.

Keempat: Ustadz Abu Baar Al Juburi, menteri hubungan umum.

Kelima: Ustadz Abu Abdil Jabbar Al Janabi, menteri keamanan umum.

Ketujuh: Syaikh Abu Muhammad Al Masyhadani, menteri media.

Kedelapan: Ustadz Abu ‘Abdil Qodir Al ‘Isawi, menteri urusan syuhada’ dan tawanan.

Kesembilan: Ustadz Mushthofa Al A’roji, menteri pertanian dan perikanan.

Kesepuluh: Ustadz dr Abu Abdillah Az Zaidi, menteri kesehatan.

Yang diumumkan oleh Muharib Al Juburi juru bicara resmi Daulah pada hari kamis 2 Robi’uts Tsani 1428 H. – 19 April 2007 M. —

Misalnya lagi adalah berpatokan dengan bendera khusus untuk Daulah dan marah jika dikatakan sebagai lambang. Dia mengatakan kita ini Daulah bukan Jamaah. Ini di pandang dari sisi syar’i adalah bid’ah wal ‘iyadzu billah.

Misalnya lagi adalah berpatokan dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh thoghut dan tidak memperkenankan seorangpun beroperasi di luar wilayahnya. Seandainya ini hanya untuk pengaturan program tentu akan kami katakan bahwa ini adalah ijtihad dia dan dia adalah Amir. Akan tetapi nampaknya dia telah melampau batas dalam hal ini. Di mana dia pernah mengatakan: “Jika engkau mendapatkan Nuri Al Maliki berada di luar wilayahmu maka jangan kamu bunuh dia.” Begitu dia bilang secara umum. Lalu saya katakan: “Mungkin engkau ini terlalu ketat terhadap para ikhwah dalam membuat aturan dan tata tertib.” Dia malah menjawab: “Tidak, bahkan kamu jangan melakukan apapun di luar wilayahmu, dan orang yang melakukannya akan dihukum.”

[Kesalahan Manhaj]

Di antara kesalahan lain yang berkaitan dengan manhaj adalah kesalahan dalam memahami apa itu Daulah Islam. Apakah ini pengumuman Daulah Islam ataukah menegakkan Daulah Islam? Abu Hamzah sendiri ragu-ragu dalam hal ini. Sesekali dia pernah mengatakan kepadaku bahwa ini hanyalah sekadar pengumuman, dan memang inilah yang berada di benak banyak ikhwah. Karena Daulah yang bermakna pemerintahan itu telah ditegakkan dengan diumumkannya Imaroh Tholiban, sementara kita ini para pengikut para Syaikh dan para pemimpin kita, Mulla Muhammad Umar dan Syaikh Usamah, semoga Allah melindungi mereka semua. Ini pendapat dia sebelum menjadi Amir (artinya adalah ketika Abu Mush’ab masih ada).

Namun sesekali dia pernah mengatakan dalam majelis yang lain bahwa ini adalah pendirian Daulah dan bukan hanya sekadar pengumuman, yang berarti bahwa kita ini telah berpindah dari sebuah gerakan rahasia kepada sebuah Daulah yang didirikan. Ini bertentangan dengan realita, apa lagi syariat. Sementara pendapat yang saya pegangi sebagai sebagaimana yang saya pahami sebagai bentuk ibadah saya kepada Allah adalah apa yang telah saya singgung sebelumnya bahwa kita ini mengumumkan sebuah Imaroh Islam dengan tanpa memberikan batasan peta atau kota atau kabinet atau yang lainnya.

Karena kita ini pada hakekatnya telah sampai kepada fase semacam ini sejak lama dan bukan hanya sekarang. Pendapatnya Abu Hamzah yang terakhir ini mengakibatkan peleburan – sebagaimana yang dia katakan – Al Qo’idah dan semua jamaah lainnya untuk memproklamasikan Daulah Islam. Sementara dewan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dalam jamaah tidak sependapat dengannya dalam hal ini, dan memang Abu Hamzah sama sekali tidak bermusyawarah dengan mereka.

Kemudian dia mengatakan kepada saya setelah itu bahwa Abu Umar Al Baghdadi itu adalah Amirul Mukminin tertinggi (Kholifah) akan tetapi setelah penjajah keluar. Dan ketika saya mendiskusikan masalah ini dengannya dan bahwa Rasululloh SAW bersabda: Apabila ada dua kholifah dibaiat maka bunuhlah salah satunya. Dia mengatakan kepadaku: “Sesungguhnya salah satu dari dua kholifah tersebut berbaiat kepada yang satunya lagi”.

Yang aneh di sini adalah bahwa proklamasi Daulah ini dilakukan secara tergesa-gesa seperti ini, dan dengan tanpa menentukan sama sekali siapa Amirul Mukmininnya – selain pemahaman yang salah tadi -. Dia hanya menyebutkan nama samarannya saja, yaitu Abu Umar Al Baghdadi namun dia belum menentukan siapa orangnya. Bahkan dia hanya menjawab dengan satu patah kata: “Ada orangnya. Kita akan tes dia selama satu bulan penuh. Jika layak maka kita akan tetapkan dia sebagai Amirul Mukminin, dan jika tidak kita akan cari yang lain.” Dan Allah menjadi saksi atas apa yang saya katakan ini.

Di antara kesalahan lain yang berkaitan dengan manhaj adalah dia mengangkat orang yang tidak menjamin keamanan dan bukan orang yang layak memikul amanah. Dan sangat disayangkan ini banyak terjadi. Misalnya saja, dan masih ada lagi yang lain, adalah Qodli Syar’i untuk wilayah Karmah – yakni Abu Hajar -. Orang yang menggunakan penutup muka dalam rekaman nomer 6. Orang ini jahat sekali, dan saya bertanggung jawab atas kata-kata saya ini. Dia memiliki pemikiran-pemikiran sesat yang bisa sampai kepada kekafiran, wal ‘iyaddzu billah.

[Kesimpulan]

Kesimpulan saya dari bencana yang besar ini, dan saya bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan tidak takut dengan celaan siapapun, kemudian juga bertanggung jawab di hadapan antum sekalian (pimpinan di Khurosan) atas hal ini. Dan tidak ada yang saya inginkan selain perbaikan semampu saya. Dan ini adalah sebuah kesaksian yang saya akan dimintai pertanggung jawaban tentangnya pada hari qiyamat. Dan orang yang turut bersaksi dengan saya mengenai kondisi jihad di Irak yang semakin terpuruk lantaran para pimpinannya, ada sekitar 80% atau 90% dari anggota Al Qo’idah Irak, banyak di antara mereka dari kalangan muhajirin dan banyak di antara mereka yang berasal dari Jazirah Arab (ada sekitar 60 mujahid asal Jazirah Arab).

Intinya: Kondisinya adalah tengah berjalan menuju jurang – semoga Allah menyelamatkan kita darinya -. Dan sekarang ini sudah sangat dekat dengan jurang itu yakni tanggal 6/11/1428 H. Padahal kondisi kita sebelum diumumkan Daulah itu lebih kuat dan kokoh berkali lipat daripada kondisi kita sekarang. Persoalannya bukanlah sekadar taqdir Allah selain kita harus menempuh sarana-sarana secara sempurna. Akan tetapi ini adalah hasil dari perbuatan kita dan lantaran kita telah menterlantarkan amanah. Banyak operasi-operasi para ikhwah yang dipublikasikan melalui media Al Furqon, itu kalau bukan peristiwa lama yang dipublikasikan ulang dalam bentuk lain, seperti serangan Fukkul ‘Ani, yang mana film tersebut adalah operasi pembebasan tawanan yang terjadi pada masa Abu Mush’ab Az Zarqowi rohimahulloh, kemudian sekarang dipublikasikan kembali oleh Daulah Islam Irak, atau kalau bukan operasi lama film itu memang operasi yang memang terjadi akan tetapi dengan sangat dibesar-besarkan dan ditambah-tambahi.

Banyak juga dari apa yang diumumkan itu adalah dusta atau terlalu dilebih-lebihkan. Misalnya ketika mereka mengumumkan bahwa mujahidin itu telah menyerbu penjara Badusy di Mosul, dan berhasil membebaskan tawanan. Ini tidak benar. Tapi sebenarnya mereka telah melakukan kesepakan dengan kepolisian dan menyogok mereka dengan sejumlah uang lalu mereka menggambarkan kepada kita seolah-olah ini adalah sebuah penyerangan dan kemenangan. Padahal musuh juga tahu bahwa ini bukanlah serangan. Jadi, kedustaan ini tertuju kepada para ikhwah bukan kepada musuh. Dan banyak lagi contoh lainnya yang seperti itu.

Media al Fajr

[Wawancara dengan Yayasan Media Al Fajr]

Di antara yang patut untuk disinggung di sini adalah bahwa para ikhwah mulia di yayasan media Al Fajr yang termasuk pihak yang paling baik dalam menyokong mujahidin, mereka pernah meminta saya untuk mengadakan wawancara umum pada masa-masa itu. Dan setelah saya melakukan istikhoroh, saya bersedia menyambut permintaannya al hamdulillah. Akan tetapi saya dikejutkan dengan berbagai pertanyaan yang diajukan kepada saya yang saya tidak dapat menjawabnya. Karena saya tidak akan menjawab kecuali dengan pemahaman yang saya pertanggung jawabkan sebagai ibadah saya kepada Allah, namun jawaban tersebut akan menimbulkan kekacauan. Maka para ikhwah di Al Fajr mengatakan kepada saya bahwa ini memang apa yang terjadi di lapangan. Berikut ini teks pertanyaannya:

… saya menghapusnya karena ini di luar tema pembahasan, padahal Syaikh sendiri telah menjawabnya … dan beliau memerintahkan agar tidak mempublikasikannya. Dan media Al Fajr pun tidak mempublikasikannya. Saya memohon kepada Allah agar mengarahkan umat ini kepada ajaran yang lurus dan memperbaiki keadaan pada pimpinannya. Amiiin. Dan sebagai akhir doa kami, al hamdulillahi robbil ‘alamin.

Sampai di sini surat saya.

Saudara kalian Al Mu’tashim billah, Abu Sulaiman Al ‘Utaibi

Qodli Jamaah Al Qo’idah wilayah dua aliran sungai (Irak) dulu, dan Daulah Islam Irak sekarang.

Robi’uts Tsani 1428 H.

Tambahan penting:

Pada kira-kira pertengahan bulan Sya’ban 1428 H, artinya kira-kira 2 bulan yang lalu, telah keluar sebuah pengumuman dari Al Akh Abu Hamzah tentang pemecatan Qodli Syar’i – yakni hamba yang faqir ini – dan menggantinya dengan seorang ikhwah asal Irak – yaitu Abu Ishaq Al Juburi -. Saya sendiri sebenarnya telah meminta kepada Al Akh Abu Hamzah Al Muhajir sebelumnya agar mengganti saya dengan orang lain agar saya dapat terlepas dari tugas ini. Namun beliau menolak permintaan saya itu karena masih berprasangka baik kepada saya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Akan tetapi setelah keadaan semakin memburuk dan dia tahu bahwa saya ingin mengirimkan surat ini kepada antum – pimpinan di Khurosan -, dia pun melakukan pemecatan itu. Karena semenjak saya meminta pemecatan kepadanya dan dia menolaknya itu saya tidak lagi pernah ketemu. Lalu apa alasannya dia melakukan pemecatan?

Berikut ini teks keputusan itu sebagaimana yang ditulis di sebuah situs internet:

Kantor Amirul Mukminin Abu Umar Al Baghdadi, pemimpin Al Qo’idah Irak mengumumkan pemecatan Qodhi tertingginya yang berasal dari Saudi, yakni Abu Sulaiman Al ‘Utaibi dan menggantikannya dengan Abu Ishaq Al Juburi, berdasarkan sebuah situs internet fundamentalis kemarin (Ahad). Al Qo’idah Irak sendiri pada bulan Maret lalu telah mengumumkan penunjukkan Muhammad Ats Tsubaiti yang memiliki nama kuniyah Abu Sulaiman Al ‘Utaibi sebagai orang yang menjabat jabatan yang diumumkan dia telah dipecat dari jabatan tersebut kemarin ini. Gambarnyapun telah disebar luaskan di internet dengan menggunakan penutup muka.

Namun Al Qo’idah Irak tidak menjelaskan kenapa dia dipecat, dan hanya beralasan bahwa hal itu dilakukan berdasarkan tuntutan mashlahat syar’iyah. Kantor Amirul Mukminin juga mengumumkan penunjukkan menteri pendidikan yaitu Dr. Muhammad Al Badri. Hal itu bertepatan dengan datangnya tahun ajaran baru tahun ini, sebagai usaha untuk menjaga kelurusan manhaj dari penyimpangan.

Catatan: Aslinya surat ini telah ditulis pada bulan Robi’uts Tsanni. Akan tetapi ditambahkan beberapa perkembangan yang terjadi setelah itu.

WAllahu a’lam.