HUKUM MENJADI ANTEK MUSUH DALAM MEMECAH BELAH BARISAN UMAT

Duniaekspress.com (31/12/2018)- Sering sekali dalam medan konflik, intrik-intrik dimainkan untuk memperlemah lawan. Di antara bentuk intrik tersebut adalah “politik belah bambu”. Bukan rahasia kalau musuh-musuh Allah selalu memanfaatkan barisan tertentu dari umat ini untuk dibenturkan dengan para aktifis yang memperjuangkan kalimat Allah. Inilah yang kita lihat belkangan hari ini pada tragedi Wonosobo.

Padahal. Sikap memecah belah barisan kaum muslimin adalah sikap tercela dan dosa yang besar. Haram hukumnya membantu orang musyrik atau orang kafir dalam memusuhi umat islam. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Mãidah/5: 51).

Abû Bakar Al Jazãirĩ dalam tafsirnya Aisarut Tafãsir menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini terkait dengan Ubãdah bin Ash Shãmit Al Anshãri dan Abdullah bin Ubay; dahulu keduanya memiliki sekutu dari kalangan yahudi dan nashrani.

Tatkala Rasulullah SAW dan orang-orang beriman menang dalam perang Badar maka yahudi marah dan mengumumkan niat buruk mereka, maka Ubȃdah ibn Ash Shȃmit Al Anshȃrî menyatakan berlepas diri dari persekutuan mereka dengan yahudi dan ridha dengan memberikan loyalitas kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

Lalu ia berkata yang inti perkataannya ada pada sebagian ayat ini. Turunlah firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.”

Makna ayat di atas, lanjut Abu Bakar Al Jazairi dalam tafsirnya: ((Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin)), bagi kalian dengan meninggalkan orang-orang beriman. ((Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain)), inilah sebab pengharaman pemberian loyalitas kepada mereka, kata Abu Bakar Al Jazairi dalam tafsirnya Aisarut Tafãsir. Karena yahudi wali bagi yahudi yang lain dan Nasrani wali bagi Nasrani yang lain dalam menghadapi orang-orang beriman. ((Barangsiapa diantara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin)) artinya kalian wahai orang-orang beriman mengambil mereka menjadi pemimpin ((maka sesungguhnya orang-orang itu termasuk golongan mereka; yahudi dan nashrani)).

Pada ayat di atas sangat jelas dan tegas pengharaman mengambil orang kafir sebagai pemimpin, bahkan para sahabat –seperti Umar bin Khattȃb- mengharamkan mengambil orang kafir sebagai pegawai pemerintahan yang memiliki jabatan strategis, maka lebih tidak boleh lagi mengambil orang kafir sebagai sekutu untuk memusuhi dan meneghancurkan kaum muslimin.

Ini yang disebut sebagai kiyas aula atau kesimpulan lebih tinggi; kalau mengambil orang kafir untuk menjadikannya sebagai pemimpin saja tidak boleh, maka menjadinya sebagai sekutu untuk memusuhi kaum muslimin lebih tidak boleh lagi. Allah SWT berfirman:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Q.S. An Nisȃ/4: 138-139).

Para ulama fikih telah menetapkan bahwa membantu orang kafir dalam memusuhi orang-orang beriman haram hukumnya alias tidak dibolehkan syariah. Bahkan, yang demikian itu adalah kekafiran dan kemurtadan sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah[5]: 51).

Para ahli fikih telah menuliskan dalam buku-buku mereka, baik itu para Imam dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan ulama-ulama di luar madzhab-madzhab tadi; seluruhnya sepakat mengharamkan menjual senjata, kendaraan perang, atau peratan perang yang dapat digunakan orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin. Bahkan haram hukumnya memberi dan menjual logistik kepada mereka, tidak boleh menjual air, alat kemah, atau apapun yang mereka gunakan atau apapun yang dapat membantu mereka untuk memerangi kaum muslimin. Imam Nawawi berkata dalam Al Majmu’:

وَأَمَّا بَيْعُ السِّلاحِ لأَهْلِ الْحَرْبِ فَحَرَامٌ بِالإِجْمَاعِ ..اهـ .

“Dan adapun menjual senjata kepada kafir harbi (musuh) maka hal tersebut haram berdasarkan ijma atau konsensun kaum muslimin.”

Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muwaqi’in menyatakan bahwa Imam Ahmad berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang menjual senjata dalam keadaan fitnah. Hal ini dapat dimengerti, karena menjual senjata kepada musuh termasuk bagian dari membantu mereka dalam dosa dan permusuhan. Dan termasuk ke dalam pembahasan ini adalah jual beli, sewa menyewa, dan barter; yang dapat membantu mereka dalam dosa kepada Allah, seperti jual senjata kepada orang-orang kafir, para pemberontak, dan para begal.

Dari penjelasan di atas. Kesimpulannya. Menjadi antek musuh dalam memecah belah barisannkaum muslimin adalah haram. Bahkan dosa besar. Jika dikaitkan ke akidah, maka dapat membatalkan syahadat.(ayah_shalih)