Front segitiga medan tempur Yaman koalisi arab dan rezim vs AQAP vs kubu milisi syi’ah Hothi

Duniaekspress.com. (02/12/2019). — Yaman — Kampanye serangan koalisi Arab dianggap mampu membatasi pengaruh Al Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP) dan mengurangi ancaman Houthi terhadap keamanan maritim di selat Bab-al-Mandeb. Efek tersebut merupakan kontribusi positif bagi keamanan regional dan internasional.

Artikel ini mengulas perang antara UEA melawan AQAP serta upaya UEA dan Saudi untuk melemahkan Houthi, sehingga mencegah Iran mendirikan pijakan di “halaman belakang” Arab Saudi.

Menurunkan Ancaman Al-Qaidah

AQAP berhasil merebut wilayah di Yaman selatan mulai April 2015, dan mengeksploitasi pertikaian antara pemerintah Abdur Rabi Mansur Hadi dan pemberontak Houthi. Pertempuran keduanya menguntungkan AQAP, karena pasukan AS tidak lagi hadir untuk melakukan serangan terhadap organisasi tersebut. Sementara itu pasukan keamanan dan militer Yaman terganggu karenai pertempuran mereka dengan AQAP.

Perkembangan ini memungkinkan AQAP untuk memperluas pengaruhnya di Yaman selatan dengan menjalin aliansi kesukuan dan memberikan layanan kepada masyarakat setempat. Mereka memanfaatkan kebencian lokal terhadap pemerintah pusat dan dibantu oleh lumpuhnya institusi keamanan pemerintah di Yaman selatan.

Harus diingat di sini bahwa AQAP tidak hanya berkonsentrasi pada perluasan jangkauannya di Yaman. Kelompok Itu telah menjadi salah satu cabang paling aktif dari al-Qaidah, bahkan melebihi pusat al-Qaidah di Pakistan sebagai ancaman terhadap keamanan internasional. Secara khusus, AQAP telah menjadi ancaman serius terhadap penerbangan komersial. Untuk hal ini, AQAP patut berterima kasih kepada ahli pembuat bom mereka, Ibrahim al-Asiri.

Al-Asiri memberikan panduan kepada Umar Farouk Abdulmutallab, seorang berkebangsaan Nigeria untuk memakai “bom pakaian dalam” pada sebuah upaya untuk meledakkan sebuah jet penumpang Northwest Airlines di atas Detroit pada tahun 2009. Al-Asiri juga berhasil membuat sepasang bom yang melalui pesawat kargo menuju Amerika Serikat, tetapi dicegat di Inggris dan Dubai, berkat informasi dari intelijen Saudi. Dalam kedua kasus tersebut, bom tidak terlihat oleh sistem deteksi bandara.

Koalisi Arab di Yaman, dan Uni Emirat Arab (UEA) secara khusus, telah memainkan peran penting dalam mendukung pemerintah Yaman dalam perangnya melawan Al-Qaidah dan Houthi.

AQAP juga bertanggung jawab atas penerbitan majalah Inspire, yang telah menginspirasi para “ekstremis” potensial untuk melakukan serangan di Barat dengan memberi mereka taktik dan memberikan daftar target potensial. Dalam konteks ini, memerangi kelompok AQAP telah dianggap sama dengan membantu upaya melawan terorisme internasional.

UEA mulai memerangi AQAP pada Maret 2016, setelah merebut bagian selatan Yaman dari Houthi, terutama Aden dan Ma’rib. Serangan udara Saudi dan UEA menargetkan markas dan kamp pelatihan di Mukalla, Abyan dan beberapa distrik Aden.

UEA melatih pasukan paramiliter dari suku-suku local di provinsi Hadramawt, seperti Pasukan Elite Hadrami dan “Pasukan Pengendali Keamanan”. Pasukan tersebut mengumpulkan sejumlah 12.000 pejuang yang berhasil mengusir pasukan AQAP dari Mukalla pada April 2016. Sejak saat itu, pasukan yang didukung UEA menggunakan Mukalla sebagai markas pusat untuk mengarahkan operasi melawan AQAP. Amerika Serikat mendukung perang ini dengan menggunakan pesawat tanpa awak untuk menargetkan sejumlah pemimpin AQAP di Yaman.

Selain itu, pasukan khusus AS melakukan serangan bersama dengan pasukan khusus UEA terhadap sekutu AQAP pada Januari 2017. Mereka mengarahkan sekitar 2.000 pasukan Yaman yang melakukan operasi terhadap tempat perlindungan AQAP di Provinsi Shabwa pada Agustus 2017.

Upaya kontraterorisme UEA di Yaman selatan telah dianggap mampu meningkatkan situasi keamanan, karena menurut Angkatan Darat Emirati “hanya ada lima serangan oleh al-Qaidah pada paruh pertama tahun 2018, dibandingkan dengan 77 serangan pada periode yang sama di tahun 2016”.

Operasi-operasi kontraterorisme membuat marah kelompok AQAP, yang telah mencoba menargetkan tentara UEA dan menggalang pasukan local. Sementara itu, outlet media AQAP telah mengkritik peran UEA dalam memerangi AQAP. Terlepas dari serangan-serangan ini, komandan UEA telah menyatakan komitmen mereka untuk tetap berada di Yaman sampai komando pusat AQAP dikalahkan.

Kehadiran UEA dianggap sangat penting karena AQAP masih menghadirkan ancaman potensial, terutama setelah kelompok itu mencari dan menemukan tempat berlindung di daerah pegunungan Hadramawt yang terpencil. Di sana, mereka mempertahankan kemampuannya untuk menyusun kembali dan mengaktifkan sel-sel tidur.

Melawan Pemberontak Houthi

Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab untuk melawan kudeta yang dipimpin kelompok syiah Houthi terhadap pemerintahan Presiden Abdurabbuh Mansur Hadi yang sah dan diakui secara internasional pada bulan Maret 2015. Koalisi ini memasukkan UEA sebagai pemimpin bersama Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Mesir, Yordania, Maroko, dan Sudan.

Tujuan utamanya adalah untuk mencegah kelompok syiah Houthi, proxy Iran, dari mendapatkan pijakan di Yaman. Kehadiran Iran di Yaman adalah sebuah perkembangan yang tidak hanya mengancam Arab Saudi, tetapi juga keamanan maritim di Laut Merah dan selat Bab-al-Mandeb. Selat ini memiliki kepentingan strategis yang tinggi, di mana lebih dari empat juta barel minyak melewatinya setiap hari.

Ada beberapa indikator kolusi Iran dengan Houthi. Setelah yang terakhir berhasil menguasai Sana’a, Ali Reza Zakani, seorang anggota parlemen Iran yang dekat dengan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, mengatakan: “Tiga ibukota Arab hari ini bertekuk lutut di hadapan Iran dan menjadi hak Revolusi Islam Iran”. Ia menambahkan bahwa Sana’a kini telah menjadi ibu kota Arab keempat yang sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan revolusi Iran.

Lebih jauh, Iran menggunakan Houthi sebagai alat untuk mengganggu keamanan Bab-al-Mandeb jika terjadi konflik dengan Iran. Jenderal Naser Sha’bani, seorang pejabat tinggi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, dikutip di media Iran pada 6 Agustus 2018, membenarkan bahwa Teheran telah memerintahkan milisi Houthi di Yaman untuk menyerang dua kapal besar pengangkut minyak mentah milik Arab Saudi, dan bahwa mereka telah melaksanakan perintah-perintah itu. Beberapa jam kemudian Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani mengatakan Laut Merah tidak lagi aman bagi kapal-kapal AS, memberikan indikasi lain bahwa Iran terlibat dalam serangan ini.

Menurut laporan yang dirilis pada bulan Juli 2018 oleh panel ahli PBB, Iran berkolusi dalam mempersenjatai pemberontak Houthi Yaman dengan rudal balistik dan drone yang “menunjukkan karakteristik yang mirip” dengan senjata buatan Iran, meskipun embargo senjata PBB diberlakukan pada Yaman sejak 2015.

Indikator-indikator ini mengungkapkan bagaimana Iran memanfaatkan Houthi sebagai proksi dan menjelaskan mengapa koalisi Arab melakukan intervensi di Yaman untuk membatasi pengaruh Iran dan mencegah Iran dari membuat kehadiran secara permanen di dekat perairan strategis di Laut Merah.

UEA telah memainkan peran penting dalam perang. Sekarang mereka telah melatih 30.000 tentara Yaman untuk memerangi pemberontak Houthi dan dianggap sebagai negara paling aktif kedua yang bekerja untuk mengalahkan Houthi, terutama setelah pasukan UEA bergabung dalam operasi untuk merebut pelabuhan Hodeidah dari pemberontak.

Hodeidah terletak di lokasi strategis di pantai barat Yaman, dekat Selat Bab Al Mandeb. Houthi dianggap menggunakan pelabuhan Hodeidah untuk melancarkan serangan yang mengancam keamanan laut serta menerima senjata dari Iran.

Serangan terhadap Hodeidah dapat dianggap sebagai salah satu faktor utama yang mendorong Houthi untuk duduk di meja perundingan dengan pemerintah yang sah di Swedia pada awal Desember. Selain itu, keberhasilan awal pertempuran koalisi Arab di Hodeidah memaksa Houthi untuk menyerahkan kendali pelabuhan kepada PBB.

Sebagai penutup, peran koalisi Arab di Yaman mendukung pemerintah yang sah untuk mempertahankan kontrolnya atas wilayah Yaman, telah dianggap berkontribusi pada keamanan internasional dan regional.

Selain itu, peran koalisi Arab di Yaman diperkirakan akan terus berlanjut bahkan jika kesepakatan perdamaian final dicapai antara pemerintah yang sah dan pemberontak Houthi, karena membangun kembali lembaga-lembaga negara dan ekonomi yang runtuh akan membutuhkan bantuan dan dukungan internasional. (RR).

Sumber : eeradicalization

 

Baca juga, WAJAH-WAJAH MUJAHIDIN AQAP YANG DIPANDANG UTUH