Duniaekspress.com (4/1/2018)- Berdasarkan investigasi Al Jazeera dan The Intercep, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan 2.000 tentara dari Suriah bulan lalu, militer AS intensifkan aksi pembomannya terhadap wilayah yang masih dikuasai oleh ISIS di bagian timur negara itu.

Serangan paling sengit dalam sepekan terakhir terjadi di Al Kashmah, sebuah desa di Sungai Eufrat dekat perbatasan dengan Irak, menurut tiga sumber di Suriah timur.

“Di tengah serangan udara AS dan tembakan artileri oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS, warga sipil dan anggota keluarga pejuang ISIS melarikan diri ke desa-desa di selatan,” kata sumber tersebut.

Baca Juga:

BENTROKAN PECAH DI RAKHINE SEBABKAN 2.500 MENGUNGSI

SERANGAN BERSENJATA SASAR SEBUAH MASJID DI SWEDIA

Sementara Al Kashmah belum jatuh, satu-satunya orang yang tersisa di sana adalah pejuang yang mewakili apa yang telah menjadi garis depan perang melawan ISIS di provinsi Deir Az Zor.

Para pejuang ISIS berkerumun di desa-desa di sepanjang Sungai Eufrat, dari perbatasan dengan Irak ke selatan Hajin, bekas benteng ISIL yang jatuh ke SDF, milisi yang dipimpin Kurdi, pada pertengahan Desember.

Ada sekitar 50.000 hingga 60.000 orang yang tetap berada di daerah-daerah itu, menurut seorang aktivis sipil di Deir Az Zor yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi dan meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah keamanan.

“Warga sipil di daerah-daerah ini tidak memiliki tempat untuk pergi atau bersembunyi dari pemboman AS terhadap desa-desa mereka,” kata aktivis itu, seraya mencatat bahwa warga telah dirugikan di tangan pemerintah Suriah, AS, dan ISIS.