Duniaekspress.com (5/1/2019)- Kelompok bersenjata di Rakhine yang dikenal Tentara Arakan, menyerang empat pos petugas keamanan pada Hari Kemerdekaan Myanmar, Jumat (4/1), hingga menewaskan tujuh personel keamanan.

Juru bicara Tentara Arakan, Khine Thu Kha, mengatakan bahwa serangan itu merupakan tanggapan dari serangan militer Myanmar terhadap mereka dalam beberapa pekan terakhir yang juga menargetkan warga sipil.

Kha mengatakan bahwa Tentara Arakan juga menahan 12 personel pasukan keamanan Myanmar dalam penyerbuan tersebut.

“Kami akan memproses mereka sesuai dengan hukum internasional. Kami tidak akan melukai mereka,” tuturnya kepada Reuters.

Baca Juga:

BENTROKAN PECAH DI RAKHINE SEBABKAN 2.500 MENGUNGSI

Menanggapi serangan ke empat pos kepolisian ini, juru bicara militer Myanmar, Zaw Min Tun, mengatakan bahwa militer akan tetap melanjutkan operasinya di bidang keamanan.

Ketika dimintai konfirmasi jumlah korban terbunuh dan aparat yang ditangkap dalam serangan tersebut, Tun enggan memberi komentar.

“Pos-pos polisi ini ada di sana untuk melindungi ras nasional di daerah itu, jadi jangan menyerang mereka,” katanya.

Tun mengatakan serangan dimulai beberapa menit setelah bendera nasional dikibarkan di Myanmar untuk merayakan 71 tahun kemerdekaan dari Inggris.

Menurut Kha, penyerangan itu tidak sengaja dilancarkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Myanmar.

“Kami belum mandiri (merdeka). Hari ini bukan Hari Kemerdekaan kami (warga Rakhine),” ucapnya.

Baca Juga:

MYANMAR KEMBALI LAKUKAN OPERASI DI RAKHINE STATE

Sebelumnya, media pemerintah Myanmar juga melaporkan serangan dari kelompok yang sama terjadi pada Selasa, dan melukai satu aparat polisi.

Ketegangan antara Tentara Arakan dan militer Myanmar sendiri sudah pecah sejak awal Desember 2018, memaksa 2.500 warga mengungsi.

Kabar ini tersiar di tengah masa gencatan senjata yang dicanangkan militer sejak Desember untuk menghentikan pertikaian di kawasan utara dan tenggara Myanmar demi membuka jalan negosiasi damai dengan sejumlah kelompok pemberontak.

Rakhine, yang terletak di barat Myanmar, tak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata tersebut. Kenyataan ini menimbulkan keraguan sejumlah pihak akan kemauan militer mengakhiri konflik di seluruh pelosok Myanmar.

Negara bagian tersebut selama ini menjadi sorotan karena menjadi lokasi kekerasan militer terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya yang menyebabkan setidaknya 1.000 orang tewas dan 730 ribu lainnya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus 2017.