Duniaekspress.com (4/1/2019)- Paus Fransiskus melontarkan kritikan untuk para uskup Amerika Serikat (AS) terkait berbagai skandal pelecehan seksual. Para uskup di AS dinilai gagal menunjukkan persatuan dalam menghadapi krisis yang dipicu skandal pelecehan seksual.

Paus Fransiskus menyerukan agar percekcokan internal segera diakhiri dalam menghadapi skandal yang meruntuhkan kredibilitas Gereja Katolik di mata umat sedunia.

Baca Juga:

SEJUMLAH PASTOR DI JERMAN LAKUKAN PELECEHAN TERHADAP RIBUAN ANAK

Seperti dilansir Reuters, Jumat (4/1/2019), kritikan ini disampaikan Paus Fransiskus dalam surat yang panjang dan tergolong sangat tidak biasa, yang dikirimkan kepada para uskup AS yang memulai retreat selama satu pekan. Dalam suratnya itu, Paus Fransiskus menyebut penanganan skandal menunjukkan kebutuhan mendesak bagi pendekatan manajemen dan pola pikir baru di dalam lingkup Gereja Katolik Roma.

“Orang-orang yang percaya pada Tuhan dan misi Gereja terus mengalami penderitaan besar sebagai dampak dari penyalahgunaan wewenang dan nurani dan pelecehan seksual, dan itu semua ditangani cara yang buruk,” sebut Paus Fransiskus dalam suratnya.

Ditambahkan Paus Fransiskus bahwa para uskup cenderung ‘lebih fokus menyalahkan daripada mengupayakan jalur rekonsiliasi’.

Baca Juga:

PELECEHAN SEKS, PAUS FRANSISKUS PECAT PASTOR CHILE

Paus Fransiskus telah memanggil kepala dari 110 konferensi uskup Katolik nasional dan puluhan pakar serta para pemimpin orde keagamaan untuk datang ke Vatikan pada 21-24 Februari mendatang. Pemanggilan dimaksudkan untuk menghadiri pertemuan luar biasa yang didedikasikan untuk membahas krisis yang dialami Gereja Katolik saat ini.

Para korban berharap pertemuan itu akan menghasilkan kebijakan jelas agar para uskup bisa dimintai pertanggungjawaban karena secara keliru menangani kasus-kasus pelecehan seksual. Namun sebelum pertemuan digelar di Vatikan, para uskup di AS menghadiri retreat selama tujuh hari yang diisi dengan doa-doa dan refleksi spiritual.

“Kredibilitas Gereja telah direndahkan dan menyusut secara serius akibat dosa-dosa dan tindak kejahatan ini, terlebih lagi oleh upaya-upaya yang dibuat untuk menyangkal atau menutup-nutupinya,” tulis Paus Fransiskus dalam suratnya.

Ditambahkan Paus Fransiskus bahwa dirinya sangat prihatin pada situasi yang terjadi hingga dia berharap bisa menghadiri langsung retreat itu, namun tidak bisa karena ‘alasan logistik’. Kendati demikian, Paus Fransiskus mengirimkan pengkhotbahnya sendiri, Raniero Cantalamessa, untuk memimpin retreat itu.

Baca Juga:

KORBAN PELECEHAN SEKS DI GEREJA CILE BUKA SUARA

Diketahui bahwa Gereja Katolik AS masih terkejut atas laporan pengadilan tahun lalu yang menyebut 301 pastor di wilayah negara bagian Pennsylvania telah melecehkan anak-anak selama periode 70 tahun. Sejumlah negara bagian AS lainnya telah meluncurkan penyelidikan independen atas kasus serupa.

“Rasa sakit yang disebabkan oleh dosa-dosa dan tindak kejahatan ini, juga berpengaruh secara mendalam pada komuni para uskup dan bukannya memicu ketidaksepakatan dan ketegangan yang sehat dan diperlukan dalam setiap manusia, namun malah memicu pemecahbelahan dan pemisahan,” tulis Paus Fransiskus dalam suratnya.

“Memerangi budaya kekerasan, hilangnya kredibilitas, kebingungan dan pendiskreditan misi, secara mendesak menuntut kita untuk memiliki pendekatan baru dan tegas untuk menyelesaikan konflik,” tulis Paus Fransiskus dalam suratnya yang dikirimkan pada Kamis (3/1) waktu setempat.

“Ini membutuhkan tidak hanya pendekatan manajemen yang baru, tapi juga mengubah pola pikir kita,” tandas Paus Fransiskus.