duniaekspress.com, 7 Januari 2019. Hay’ah Tahrir al-Syam (HTS) merebut wilayah yang luas di Barat Aleppo, termasuk kota-kota terbesar di pinggiran Aleppo, yaitu Atarib dan Dar al-‘Izzah dari faksi-faksi pro Turki. HTS berperang dengan Faksi Nuruddin Zinki dan NLF (National Liberation Front) serta faksi-faksi lainnya seperti Thowwar al-Syam dan Bayariq al-Syam. Pertempuran bahkan akan meluas ke wilayah Selatan Idlib, dimana Organisasi Observasi kemanusiaan untuk Suriah (SOHR) melaporkan bahwa ada pergerakan besar-besaran pasukan HTS ke Selatan Idlib, seperti Ariha, dan Bsonqul, Basames and Qarsaya.

NLF dan faksi-faksi pro Turki lainnya memperkuat barikade di daerah yang tersisa, seperti di luar maarat al-nu’man, Ariha (selatan Idlib), dan lainnya. Demikian juga dengan HTS.

Pasukan NLF

Nuruddin Zinki Menyerah kepada HTS dan Mundur

400 personil Nurudin Zanki menyerah dari HTS dan keluar dari Aleppo Barat menuju wilayah-wilayah FSA pro Turki hasil operasi Olive Branch dan perisai eufrat, di Barat laut dan Timur Laut  Aleppo, seperti Jendires dan sekitarnya, serta pinggiran Afrin. Sementara lebih dari 100 personil Zinki meninggalkan Atarib (Kota terbesar di pinggiran Aleppo) setelah HTS masuk kota ini pada minggu pagi.

Selama perang seminggu terakhir, HTS berhasil merebut lebih dari 20 kota dan desa dari Harakat Nuruddin Al-Zinki, termasuk Dar al-Izza, Khan Al-Assal, dan Qabtan Al-Jabal.

Pertempuran antara HTS dengan Zinki dipicu oleh kematian 5 personil HTS yang diduga dilakukan oleh Zinki, “Lima Mujahidin mati syahid di desa Taladah di Aleppo barat di tangan sebuah kelompok, yang menyelinap dari gunung Darat Izza yang dikendalikan oleh Gerakan Nuruddin al-Zinki, “Iba’a news, sebuah berita yang terhubung dengan jaringan HTS memberitakan dalam sebuah siaran pers singkat.

Namun sepertinya momen tersebut dimanfaatkan HTS untuk memperluas wilayah mereka.

Pertempuran di Atarib

HTS kemarin malam mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Faksi-faksi di Atarib, yaitu Thowwar Asy-Syam and Bayariq Al-Syam. Isi perjanjiannya adalah : “pembubaran faksi Thowwar al-Syam dan Bayareq al-Islam,  senjata-senjata batalion-batalion tersebut yang ditempatkan di garis depan  hanya boleh digunakan untuk melawan rezim suriah, dan bahwa dari aspek keamanan dan militer kota Atarib mengikuti HTS, sementara itu dalam aspek administrasi, layanan, dan peradilan, mengikuti Pemerintah Penyelamatan dan tidak mengizinkan anggota dan komandan Brigade Perisai Eufrat untuk tinggal di kota al-Atarib, dan Hayyaat Tahrir al-Sham menjamin untuk memberikan keamanan bagi anggota Thowwar al-Sham dan Bayareq al-Islam dan tidak akan menuntut mereka, dan menyerahkan kasus pidana dan penuntutan ke pengadilan syariat. Namun SOHR mengabarkan bahwa gencatan senjata tersebut tidak bertahan lama karena pecah kembali pertempuran antara HTS dengan faki-faksi di Atarib.

 

(AZ dari berbagai sumber)

Baca Juga,

NEGARA-NEGARA ARAB MERAPAT KE REZIM SURIAH

JELANG PENARIKAN PASUKAN, AS INTENSIFKAN SERANGAN DI SURIAH