Hukum Menegakkan Syariah dalam Kehidupan Bernegara

Duniaekspress.com (7/1/2019)- Kata Asy Syari’at secara bahasa berarti jalan yang lurus. Dikatakan Syir’atul Mȃ’ yang artinya sumber air yang dituju untuk diminum. Dikatakan kata syara’a artinya “nahaja” artinya menempuh; “wa audhaha” artinya menerangkan; “wa bayyanal masalika” artinya menjelaskan jalan yang ditempuh).

Secara Istilah, kata syariat bermakna 1) Agama yang Allah syariatkan kepada hamba-hambaNya, maksudnya hukum yang beragam. 2) Apa yang Allah tetapkan atas hamba-hambaNya berupa aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah dan nizhamul hayah (aturan kehidupan) dalam berbagai aspeknya yang bermacam-macam untuk merealisasikan kemaslahatan-kemaslahatan hamba-hamba Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga:

PENGUASA PENIPU RAKYAT

Dengan demikian, yang dimaksud dengan syariah Islam menurut pengertian syar’i adalah hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya, baik dengan Al Qur’an maupun dengan sunah Rasulullah. (Al Madkhal ilȃ Dirȃsati Syarî’ah Islamiyah hal. 34-35).

Aslinya, kaum muslimin terikat untuk melaksanakan syariat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek ibadah, muamalah, kehidupan rumah tangga, perekonomian, perpolitikan, hukum pidana dan perdata, bahkan dalam kehidupan bernegara. Bahkan Allah mengkaitkan iman dan berhukum dengan hukum Allah atau syariah. Orang yang tidak mau tunduk kepada syariah, atau memiliki rasa dongkol dengan keputusan Allah yang tertuang dalam syariahNya, maka orang tersebut bukanlah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman :

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An Nisȃ’/[4: 65).

Ayat di atas pada dasarnya adalah dalil untuk menetapkan kewajiban bersyariah dan kewajiban untuk menegakkan syariah itu sendiri. Pada ayat di atas, Allah mengkaitkan iman dengan ketundukkan kepada syariah yang Allah turunkan kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan pada ayat di atas, Alah bersumpah dengan namaNya untuk menyatakan ketidak berimanan orang-orang yang tidak mau tunduk kepada syariahNya, atau menampakkan rasa tunduk namun di dalam hati ada rasa dongkol dan tidak pasrah/berserah diri kepada syariahNya maka orang itu tidak beriman dengan iman yang benar.

Baca Juga:

GENGHIS KHAN, PELAJARAN UNTUK UMAT ISLAM

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala jelas dan tegas mewasiatkan keada para Nabi dan Rasul sebelum diutusnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa; agar mereka menegakkan agama Allah yakni tauhid dan syariatNya. Allah Ta’ala berfirman.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Q.S. Asy Syûrȃ/42: 13).

Imam Ar Rȃzi dalam tafsirnya menjealskan makna “din” pada ayat di atas adalah syariah. Yang dimaksud dengan firman Allah, “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” adalah syariah.

Kesimpulannya. Menegakkan syariah dalam kehidupan bernegara hukumnya wajib. [ayah_shalih]