Duniaekspress.com (7/1/2019)- Pemimpin oposisi Suriah Nasr al-Hariri meminta negara-negara Arab tidak membangun kembali hubungan dengan pemerintahan Bashar al-Assad. Menurutnya hal itu akan menempatkan rakyat Suriah dalam bahaya.

“Kami terkejut bahwa saudara-saudara kami menjangkau dan membangun hubungan dengan rezim ini (Assad),” kata al-Hariri kepada awak media di tempat pengasingannya di Riyadh, Arab Saudi, pada Ahad (6/1), seperti ysng dilnsir Al Araby.

Pernyataan al-Hariri mengacu pada keputusan Uni Emirat Arab (UEA) membuka kembali kedutaan besarnya di Damaskus. Bahrain dan negara-negara Teluk Arab lainnya dikabarkan akan segera mengikuti langkah UEA.

Baca Juga:

AMERIKA KLAIM TELAH BUNUH ARSITEK SERANGAN UUS COLE

TENTARA ARAKAN SERANG POS MILITER MYANMAR

Al-Hariri mengaku cukup menyesalkan langkah tersebut. “Kami berharap saudara-saudara kami, para pemimpin negara-negara Arab, tidak akan mencampakkan rakyat Suriah,” ujarnya.

Pada Desember tahun lalu, Presiden Sudan Omar al-Bashir telah mengunjungi Suriah dan bertemu dengan Assad. Dia menjadi pemimpin negara anggota Liga Arab pertama yang mengunjungi Damaskus sejak Suriah dilanda konflik sipil pada 2011.

Dalam kunjungan itu, al-Bashir mengungkapkan harapannya bahwa Suriah dapat segera memulihkan peran pentingnya di kawasan. Dia juga menegaskan kesiapan Sudan membantu semua hal yang dibutuhkan untuk mengembalikan integritas teritorial Suriah.

Selain al-Bashir, pemimpin negara anggota Liga Arab lainnya, yakni Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz, dijadwalkan mengunjungi Damaskus pekan ini. Dia dilaporkan akan membahas beberapa isu dengan Assad.

Sementara itu, Tunisia dan Mesir dilaporkan sedang mendiskusikan tentang kemungkinan diundangnya Assad dalam KTT Liga Arab ke-33 yang akan dihelat di Tunis pada Maret mendatang. Assad diperkirakan dapat hadir bila negara-negara anggota Liga Arab lainnya menyetujui.

Suriah dikeluarkan dari Liga Arab tak lama setelah konflik sipil membekap negara tersebut pada 2011. Negara anggota Liga Arab juga mengecam Assad karena gagal bernegosiasi dengan pihak oposisi dan menggunakan kekuatan militer berlebihan untuk membungkam mereka.

Selama hampir delapan tahun berlangsung, konflik Suriah telah menyebabkan lebih dari 360 ribu orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. (Rep)