Duniaekspress.com (8/1/2019)- Serangan udara Amerika Serikat dengan menggunakan drone telah menewaskan sedikitnya 4 warga sipil di Afghanistan pada hari Senin, kata seorang warga setempat.

Juru bicara resimen militer Mohamed Hanif Rezai mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa serangan pesawat tak berawak yang dipimpin NATO menargetkan kamp Thaliban di distrik Kurgan di provinsi Faryab utara.

Rezai mengklaim 14 gerilyawan tewas dalam serangan udara itu, dan menambahkan ia tidak memiliki informasi lebih lanjut tentang korban sipil.

Baca Juga:

AS AKAN MENARIK 7000 PASUKANNYA DARI AFGHANISTAN, MENHAN MATTIS AKAN MUNDUR

AMERIKA SERIKAT BERTEMU DENGAN IMARAH ISLAM AFGHANISTAN BAHAS PENARIKAN PASUKANNYA DARI AFGHANISTAN

Warga setempat Ihsan Makhdoum mengatakan bahwa ia kehilangan ayah dan tiga kerabatnya dalam serangan itu.

Thaliban belum membuat pernyataan tentang masalah ini.

AS adalah bagian dari Misi Dukungan Tegas NATO (RSM) – diluncurkan pada Januari 2015 – untuk melatih saran dan membantu pasukan dan lembaga keamanan Afghanistan.

Sebelumnya diberitakan, setelah mengumumkan penarikan semua pasukan AS dari Suriah, AS tampaknya akan melakukan penarikan pasukan besar-besaran dari Afghanistan. Rencana yang dilaporkan telah menimbulkan reaksi beragam dari pihak pejabat Afghanistan dan mitra Barat

Presiden AS Donald Trump akan menarik sejumlah besar pasukan AS dari Afghanistan, kata para pejabat AS kepada media, Kamis (20/12). Ada 14.000 tentara AS di Afghanistan, ribuan diantaranya akan ditarik, kata para pejabat kepada kantor berita AFP dan Reuters. Wall Street Journal melaporkan bahwa lebih dari 7.000 tentara akan ditarik.

Serangan berkelanjutan di Afghanistan selama beberapa bulan terakhir telah menewaskan dan melukai ratusan warga Afghanistan yang tidak bersalah, dan menunjukkan kepada dunia kondisi keamanan rapuh dan memburuk di negara yang dilanda konflik. Insiden-insiden itu telah membuat warga Afghanistan dan tentara Barat kelelahan dan putus asa karena perang. Mereka menyoroti ketidakmampuan pemerintah di Kabul dalam memastikan keamanan publik.