Duniaekspress.com (8/1/2019)- Warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, fasilitas penahanan, dan pusat-pusat interogasi sedang bersiap untuk melancarkan mogok makan massal begitu Israel menerapkan langkah-langkah baru yang akan memperburuk kondisi para tahanan.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para tahanan, termasuk tahanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan, mengatakan keputusan mereka sebagai tanggapan terhadap “tingkat penindasan baru”.

“Langkah-langkah ini adalah deklarasi perang yang menandai fase baru dari perjuangan kita,” bunyi pernyataan itu, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (7/1/2019).

Baca Juga:

HTS MEMPERLUAS WILAYAH DENGAN MEMERANGI ZINKI DAN NLF DI BARAT ALEPPO

NEGARA-NEGARA ARAB MERAPAT KE REZIM SURIAH

Mereka juga meminta faksi dan aktivis Palestina untuk berdiri dalam solidaritas dengan mereka dan menuntut aksi unjuk rasa nasional.

Israel menahan 5.500 tahanan Palestina, termasuk hampir 500 tahanan administratif, menurut kelompok hak asasi tahanan Palestina yang berbasis di Yerusalem, Addameer.

Seruan untuk bertindak adalah sebagai tanggapan atas rencana Israel untuk memperburuk kondisi yang sudah sangat buruk bagi rakyat Palestina yang ditahan di penjara-penjara itu. Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan mengumumkan rencana-rencana minggu lalu dan pemerintah Israel diharapkan untuk mengesahkan rencana-rencana tersebut dalam beberapa minggu mendatang.

Salah satu perubahan yang lebih “serius” menunggu persetujuan oleh kabinet Israel, adalah mengakhiri kebijakan memisahkan tahanan Hamas dari mereka yang berafiliasi dengan faksi Palestina Fatah, menurut Amjad al-Najjar, juru bicara Klub Penjara Palestina berbasis di Hebron.

“Ini yang paling mengkhawatirkan para tahanan,” kata al-Najjar kepada Al Jazeera dari kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki.

“Ini dapat menyebabkan perkelahian pecah yang bahkan dapat menyebabkan pembunuhan di dalam penjara terutama mengingat iklim politik saat ini,” katanya.

Langkah-langkah lain termasuk menjatah pasokan air, memblokir dana untuk Otoritas Palestina, mengurangi jumlah kunjungan keluarga, dan mencegah akses ke kantin penjara.

Selama 12 tahun terakhir, sebagian besar tahanan hidup dari makanan yang mereka bayar dari kantin penjara.

Di sana, mereka akan membeli barang-barang seperti ayam, daging, dan makanan kalengan sebagai alternatif dari makanan penjara yang tidak cukup untuk “mempertahankan tahanan sepanjang hari”, al-Najjar menjelaskan.