duniaekspress.com, 11 Januari 2019. Pertempuran sengit antara HTS (Hay’ah Tahrir Syaam)  dengan faksi-faksi pro Turki berakhir Rabu (9/1) kemarin dengan ditandatanganinya perjanjian damai antara HTS dengan NLF dan Suqour as-Syam di Sahl al Ghab dan Jabal Shashabu, dengan Idlib sepenuhnya dalam kontrol HTS. Sebelumnya faksi Nuruddin Zinki telah menyerah kalah duluan dan ratusan pejuangnya sepakat mundur dari Idlib dan Barat Aleppo ke wilayah pedesaan Afrin.

Isi perjanjian penghentian pertempuran itu berisikan tentang pertukaran tawanan, penggusuran berbagai barikade dan checkpoint, pembukaan jalan-jalan, dan pemerintahan  administratif dipegang sepenuhnya oleh SSG (syrian Salvation Government /Rescue Government) = Pemerintahan Penyelamatan Suriah, sebuah pemerintahan sipil yang disepakati HTS bagi Idlib. Dalam artian, Idlib sepenuhnya dalam kendali HTS. Dalam perjanjian tersebut HTS menambah kontrol wilayah sejumlah 23 wilayah, yaitu :
Jubb Sulaiman, Shahranaz, al-Bwayb, Shulin, al-Mestriha, Horta, al-Dahrujiyyeh, Sher Mghar, al-Sherkeh, al-Arima, Qarrat Jern, Deir Sunbul, al-Sahriyya, Kura, al-Badriyah, Mazra’aat al-Jasim, al-Tawba, al-Karkat, Tal Hawash, Sheikh Idris, al-Jabriya, al-Hmirat, and Maidan Ghazal, dan tentu saja, Jabal Shashabu. Dengan demikian kekuasaan pemerintahan penyelamatan telah melebihi 80% wilayah Idlib dan itu berarti seluas 9000 km persegi.

Pasukan pro Turki, NLF (national Liberation Front) sedang berjaga di parit pertahanan

pemerintah Penyelamatan Suriah

Syrian Salvation Government didirikan melalui sebuah konferensi umum yang diprakarsai oleh pemerintahan administratif lokal yang dibebaskan oleh HTS di Idlib pada Agustus 2017 dan berhasil mencapai kesepakatan pada 11 September 2017, dan merupakan pemerintahan alternatif pihak oposisi untuk Suriah. Hasil konferensi juga mengangkat seorang Perdana Menteri. Hasil kesepakatan ini ditentang oleh lembaga alternatif pemerintahan oposisi lainnya,  yaitu Syrian Interim Government (SIG)  yang merupakan kepanjangan tangan dari SNC (syrian National Council) dan merupakan kelompok sekuler yang hendak mendirikan Suriah yang demokratis.

Lambang Syrian Salvation Government (SSG)

Para peserta konferensi umum yang dihadiri 40 Peserta mewakili akademisi, organisasi, pribadi maupun kelompok  militer tersebut sepakat menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya sumber hukum, menggulingkan rezim suriah dengan semua simbol dan pilarnya dan meminta pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan, serta membebaskan wilayah Suriah dari semua kekuatan pendudukan, memperluas keamanan dan menyebarkan keadilan di daerah-daerah yang dibebaskan. 1)

Konferensi umum pembentukan SSG

Hadir dalam konferensi tersebut juga Kolonel Riyad al-As’aadi, eks kolonel angkatan udara rezim dan pendiri FSA, serta sempat menjadi top leader di FSA. Riyad dahulu sempat heboh di media dengan mengatakan bahwa Jabhah Nusrah (JN, afiliasi Al-Qaeda) adalah ikhwan kami fid dien dan merupakan pejuang Sunni serta memperlakukan masyarakat dengan baik. Setelah konferensi umum tersebut Al-As’aadi dipilih sebagai deputi perdana menteri untuk urusan militer. Selain dua deputi, dan perdana menteri, hasil konferensi juga menetapkan 11 menteri berbagai urusan.

HTS MEMPERLUAS WILAYAH DENGAN MEMERANGI ZINKI DAN NLF DI BARAT ALEPPO

Sementara HTS menyatakan bahwa mereka melebur dalam pemerintahan administratif  dan dengan tegas menggusur dan menutup  kantor-kantor SIG yang sekuler.

========

Setelah perdamaian, ratusan pejuang NLF mundur dari Idlib menuju Afrin (wilayah Operasi Olive Branch dan Perisai Eufrat)  yang merupakan rumah bagi FSA pro Turki, namun bagi yang ingin tetap tinggal untuk ribath dipersilahkan oleh HTS.

Namun beredar selebaran pernyataan dari sebuah lembaga yang disebut “Lembaga Syura Ulama-ulama di Syam” yang isinya mengutuk tindakan yang dilakukan oleh HTS terhadap Faksi-Faksi tersebut dan memerintahkan HTS untuk meletakkan senjata, hal senada juga muncul pernyataan dari sebuah lembaga yang menamakan diri “Lembaga Islam Suriah” agar semua faksi pembebasan Suriah bersatu melawan HTS dan agar masyarakat menentang otoritas HTS.

Namun HTS beralasan bahwa faksi-faksi tersebut berencana mengadakan rekonsiliasi dengan rezim Suriah dan Rusia dan melakukan kejahatan dengan memata-matai dan membocorkan posisi serta aktivitas mujahidin. Hal ini sempat dikabarkan oleh media resmi HTS: ebaa news dimana dokumen-dokumen pengkhianatan tersebut ditemukan HTS saat penggerebekan di kantor-kantor mereka.

REFERENSI :

1) https://english.enabbaladi.net/archives/2017/09/syrian-general-conference-faces-interim-government-idlib/

(AZ dari berbagai sumber)

Baca juga,

HUKUM MENEGAKAN SYARIAH DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA