duniaekspress.com, 14 Januari 2019. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kerjasama Turki dengan Qatar akan terus menguat di berbagai sektor termasuk pertahanan, perdagangan, pariwisata dan energi, di tengah embargo terhadap negara tersebut yang disponsori oleh koalisi arab.
“Kami tidak pernah melupakan dan tidak akan pernah lupa atas solidaritas yang ditunjukkan kepada negara kami oleh saudara-saudara Qatar kami dalam hampir semua masalah – mulai dari upaya kudeta 15 Juli (2016) hingga serangan pada Agustus atas nilai tukar kami [lira Turki],” kata Erdogan pada Minggu, berbicara pada pertemuan produsen otomotif BMC di provinsi barat laut Turki, Sakarya.

Erdogan menggarisbawahi bahwa Turki akan terus mengurangi ketergantungan asing pada industri pertahanannya, Dia mengatakan negaranya telah mengurangi separuh ketergantungan terhadap asing, dari 80 persen pada 2002 menjadi 35 persen saat ini.
“Kapasitas militer Turki dan kemampuan ekonomi, politik dan diplomatik harus kuat,” katanya, seraya menambahkan bahwa penekanan sektor pertahanannya “khususnya” harus tinggi.

Pada Agustus 2018, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani berjanji menginvestasikan $ 15 milyar di Turki, yang sedang berjuang dengan krisis mata uang dimana saat itu lira turun 45 persen terhadap dolar AS.
“Kami mendukung saudara-saudara di Turki yang mendukung isu-isu dunia Muslim dan dengan Qatar,” kata Sheikh Tamim dalam tweetnya pada saat itu.

Pada tahun 2017, Wakil Ketua Kamar Dagang Qatar Mohamed bin Twar mengatakan bahwa investasi Qatar di Turki melebihi $ 20 miliar, tertinggi kedua oleh negara mana pun.

CINA IZINKAN PBB KE XINJIANG DENGAN SYARAT

Dukungan selama krisis Teluk

Pada bulan Mei 2017, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan transportasi dengan Qatar, menuduhnya mensponsori “terorisme”, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Doha.
Sejak itu, blok yang dipimpin Saudi telah mengisolasi Doha secara diplomatis dan ekonomi.
Pada tanggal 7 Juni 2017, hanya dua hari setelah dimulainya krisis Teluk, parlemen Turki meratifikasi dua perjanjian sebelumnya yang memungkinkan pasukan Turki untuk dikerahkan di Qatar dan satu lagi, menyetujui kesepakatan antara kedua negara mengenai kerja sama pelatihan militer untuk menjaga keamanan dan stabilitas di Qatar.
Lima kendaraan lapis baja tiba di Doha pada 18 Juni dengan rencana untuk mempertahankan brigade di negara Teluk.
Negara-negara yang memblokade menetapkan penutupan pangkalan Turki di Qatar, yang dapat menampung hingga 5.000 tentara sebagai salah satu dari 13 syarat untuk memulihkan hubungan dengan Doha.
Ketika Arab Saudi menutup satu-satunya perbatasan darat Qatar, hal itu memblokir banyak impor penting menuju Qatar, termasuk pasokan makanan pokok. Untuk menghindari kekurangan makanan potensial, kurang dari 48 jam setelah dimulainya blokade, Turki mengirim pesawat kargo penuh susu, yoghurt, dan unggas.
Ekspor Turki ke Qatar meningkat sebesar 90 persen dalam empat bulan pertama blokade, menurut statistik yang dirilis oleh Asosiasi Eksportir Aegean Turki.

Mengakhiri Keretakan

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga memuji apa yang disebutnya sebagai “kemitraan strategis” antara AS dan Qatar.
Pada konferensi pers di Doha, dia meminta Qatar dan negara-negara Teluk lainnya untuk mengakhiri keretakan politik.

Pompeo berada di Qatar sebagai bagian dari perjalanan ke sembilan negara Timur Tengah yang bertujuan untuk menghilangkan kekhawatiran sekutu regional mereka tentang komitmen AS kepada mereka.
“Kemitraan strategis kami mencakup banyak bidang dan terus berkembang,” kata Pompeo di forum dialog strategis AS-Qatar di Doha.

Qatar adalah rumah bagi pangkalan udara Al Udeid, markas regional Komando Pusat AS. Pangkalan itu telah berfungsi sebagai landasan peluncuran bagi koalisi pimpinan-AS melawan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS).
Pompeo mendorong persatuan GCC, karena AS berupaya membangun aliansi yang solid melawan Iran.

“Perselisihan antara negara-negara yang memiliki tujuan bersama tidak pernah membantu,” katanya.

(AZ dari al-jazeera)

Baca juga,

AS DAN NATO HANCURKAN 4 DESA DI AFGHANISTAN BUKTI PERADABAN BARAT MERUSAK