duniaekspress.com, 20 Januari 2019. Proses demokrasi di Afghanistan yang kurang diapresiasi masyarakat Afghanistan kini coba diramaikan dengan menghadirkan Gulbudin Hekmatyar, eks panglima mujahidin saat perlawanan melawan Soviyet Union.

Hekmatyar akan menjadi pesaing presiden Ashraf Ghani pada pemilu mendatang di Afghanistan. Kehadiran Hekmatyar bagi rezim boneka diharapkan dapat meramaikan proses demokrasi di Afghanistan.

Perjalanan Gulbudin Hekmatyar

Gulbuddin Hekmatyar, berasal dari Baghlan, ia belajar di akademi militer; kemudian pada tahun 1968, ia beralih ke departemen teknik Universitas Kabul. Meskipun Hekmatyar kadang-kadang disebut sebagai “Insinyur Hekmatyar”, ia sebenarnya tidak pernah lulus dari Universitas Kabul dengan gelar sarjana teknik. Sebelum menjadi Muslim “taat” dan terjun ke politik Islam, Hekmatyar menghabiskan empat tahun di PDPA (Partai Demokrat Rakyat Afghanistan). PDPA adalah partai komunis Afghanistan yang terdiri dari kelompok Parchami dan Khalqi. Pada tahun 1972, Hekmatyar dipenjara karena membunuh seorang siswa Maois. Dia kemudian melarikan diri ke Pakistan dan mendirikan Hizb Islami.

Hekmatyar dituduh oleh hampir setiap partai politik lainnya sebagai boneka Pakistan dan Amerika Serikat. Yang benar adalah bahwa walaupun dia telah menerima banyak bantuan dari Pakistan dan Amerika, dia selalu bekerja untuk dirinya sendiri. Dia menggunakan orang-orang Pakistan dan Amerika sebagaimana mereka menggunakannya. Juga benar bahwa ia memiliki hubungan dekat dengan ISI Pakistan, dan bahwa ia dilatih secara ekstensif oleh mereka.
Hizb Islami menerima jutaan dolar bantuan militer dan keuangan dari Amerika Serikat.
Ketika rezim Komunis jatuh di Kabul, Hekmatyar dan partainya diundang oleh pemerintah Mujahidin baru untuk mengambil bagian dan membantu membangun pemerintahan Islam di Afghanistan. Hekmatyar ditawari posisi Perdana Menteri, namun dia menolaknya. Dia menyebut pemerintahan Mujahidin tersebut sebagai tidak islami, dan bukan yang diinginkan rakyat. Seperti prediksi kebanyakan analis politik, Hekmatyar muncul sebagai salah satu musuh paling tangguh pemerintah Islam yang diciptakan oleh para pemimpin Mujahidin seperti Burhanuddin Rabbani. Hekmatyar menolak untuk membahas pembagian kekuasaan dengan partai-partai politik lainnya dan meluncurkan beberapa upaya yang gagal untuk merebut kekuasaan secara paksa di Kabul.

Hekmatyar meluncurkan kampanye melawan pemerintah atas tuduhan mengusir “milisi komunis”, tetapi pada akhir 1992, dia tidak hanya malah membuat kesepakatan dengan Abdul Rashid Dostum (mantan komunis) dan Hezbi Wahdat untuk membentuk front bersama melawan pemerintah. Dostum dan Hezbi Wahdat adalah mantan musuh Hekmatyar. Serangan roket ke Kabul, dan aliansi dengan pasukan rezim lama (Khalqis dan Dostum) menurunkan Hekmatyar di mata masyarakat Afghanistan. Teriakan Hekmatyar untuk pembentukan pemerintah Islam murni menjadi buah ejekan.

Pada awal tahun 1993, Hekmatyar kembali ditawari kursi Perdana Menteri, dan kali ini ia menerimanya. Dia menjabat sebagai Perdana Menteri dari Maret 1993, hingga Januari 1994. Pada awal 1994, Hekmatyar, tidak puas dengan kekuasaannya dengan pemerintah, sekali lagi dia bersekutu dengan Dostum untuk menggulingkan pemerintahan Islam Rabbani; mereka gagal. Namun demikian, pemerintah Afghanistan mencoba lagi untuk menyelesaikan secara damai dengan Hekmatyar. Serangan roketnya hampir sepenuhnya menghancurkan Kabul, dan pemerintah benar-benar melemah akibat menahan agresi Hekmatyar. Akhirnya, pada Juni 1996, Hekmatyar sekali lagi menerima posisi Perdana Menteri.

Pada akhir 1996, Taliban menyerbu Kabul dan memaksa Rabbani dan Hekmatyar melarikan diri ke utara. Sebagian besar pasukan Hekmatyar membelot ke Taliban dan menjadi sangat lemah secara militer dan finansial, terutama karena Pakistan menarik dukungan mereka untuknya. Diberitakan juga bahwa Hekmatyar melarikan diri ke Iran utara, namun Iran tak mempercayainya dalam membantu atau menjadikannya proxy war.

Sampai kemudian pasukan amerika menyerbu secara massiv pemerintahan thaliban, dan mendesak Thaliban.
Namun Hekmatyar yang pernah kenal dekat dengan Syaikh Usamah bin Ladin kembali lagi kali ini untuk memerangi pasukan AS, dan bersumpah untuk menolak apa yang disebutnya sebagai ‘pendudukan asing’.

Pada September 2002, Hekmatyar merilis pesan yang direkam yang menyerukan jihad melawan Amerika Serikat. Pada 25 Desember 2002, muncul kabar bahwa organisasi mata-mata Amerika telah menemukan Hekmatyar berusaha bergabung dengan al-Qaeda. Menurut berita itu, dia mengatakan bahwa dia tersedia untuk membantu mereka. Pada Februari 2003 pemerintah amerika mendaftarkannya sebagai tokoh teroris.
Namun, dalam sebuah video yang dirilis oleh Hekmatyar pada 1 September 2003, ia membantah membentuk aliansi dengan Taliban atau al-Qaeda, tetapi memuji serangan terhadap AS dan pasukan internasional. Tahun-tahun berikutnya dia mengeluarkan rilisan-rilisan yang menyerang penjajah amerika dan mengklaim menolong Syaikh Usamah dan Syaikh Aiman lolos dari tora bora. Dia melakukan upaya-upaya pembunuhan terhadap presiden boneka, Hamid Karzai dan melakukan serangan gerilya terhadap posisi-posisi pasukan Amerika.

Tahun 2008 ia diketahui bersembunyi di Tenggara Afghanistan berbatasan dengan Pakistan. Pada tahun 2010 ia masih dianggap sebagai salah satu kelompok perlawanan namun lebih moderat dibanding lainnya karena ia masih terbuka untuk melakukan pembicaraan damai dengan Karzai.

Seberapa besar kekuatan kelompok Hekmatyar sulit diukur. Serangan terakhirnya diketahui dilakukan pada 2013, ketika 15 orang–termasuk 6 tentara AS–tewas di Kabul Tengah, Afganistan.

Hekmatyar kembali muncul ke publik, pada akhir April tahun 2017, setelah hampir dua dasawarsa berada dalam pengasingan.

Tempat persembunyian Hekmatyar selama bertahun-tahun itu tidak diketahui. Diduga, ia berada di suatu tempat di provinsi Kunar Timur, Afganistan. Di tempat itu dirinya mendapat dukungan rakyat, dan sesekali pula melakukan perjalanan ke Pakistan.

Pemimpin kelompok mujahidin Hezb-i-Islami itu hadir dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan pemerintah provinsi Laghman, Afganistan dan menyerukan perdamaian, dalam sambutan kembalinya, Hekmatyar mengatakan,
“Saya mengajak Anda untuk bergabung dengan kafilah perdamaian dan menghentikan perang tanpa arti, tanpa makna dan bukan perang suci.”

“Saya ingin Afganistan yang merdeka, bangga, mandiri dan Islami,” ujarnya.

Pada September 2016, Presiden Ghani menandatangani sebuah perjanjian damai dengan Hekmatyar. Saat itu, Ghani berjanji untuk melobi Amerika Serikat dan PBB untuk mengeluarkan Hekmatyar dan partainya dari daftar hitam teroris.

PBB telah menghapus nama Hekmatyar dari kelompok teroris dan daftar sanksi organisasi teoris pada Februari 2017. Selain itu, berbagai asetnya juga telah dicairkan dan tidak lagi menjadi subjek larangan bepergian atau embargo senjata.

=============

KLAIM ISIS DIBANTAH RUSIA, LEDAKAN DI MAGNITOGORSK AKIBAT KEBOCORAN GAS

Demikianlah kehadiran tokoh ini bagi pemerintah boneka diharapkan  dapat menciptakan perdamaian dan menjembatani  terhadap pemerintahan Islam Thaliban yang saat ini menguasai mayoritas wilayah Afghanistan dan mengancam proses pemilihan umum yang akan berlangsung di Afghanistan.

Mengumumkan pencalonannya, Hekmatyar berjanji untuk memulihkan perdamaian dan keamanan dan mengatakan pemerintah saat ini telah gagal mengakhiri perang dengan Taliban.
“Situasi negara kita membutuhkan pemerintahan pusat yang kuat yang dipimpin oleh presiden terpilih yang didukung oleh mayoritas orang,” katanya dalam konferensi pers di Kabul.

Namun pemerintah Islam Afghanistan (Thaliban)  berulangkali menyatakan tidak akan menganggap pemerintahan boneka sebagai entitas yang dianggap keberadaannya.

(AZ dari berbagai sumber)

Baca juga,

LEDAKAN MEMATIKAN HANTAM IBU KOTA AFGHANISTAN