duniaekspress.com, 21 Januari 2019. Al-Qaeda in Islamic Maghribi (AQIM)  menyerang markas pasukan perdamaian PBB di Aguelhok, Mali Utara, kemarin (Ahad 20/1). Serangan tersebut menyebabkan tewasnya 10 personil PBB dan melukai 25 lainnya, kesemua pasukan yang tewas dan luka-luka berasal dari Chad.

Mujahidin AQIM menyerang kamp pasukan PBB dengan menggunakan beberapa sepeda motor dan mobil. Sekjen PBB mengutuk serangan tersebut.

PUTUS ASA, PEMERINTAH BONEKA AFGHANISTAN DATANGKAN HEKMATYAR

KLAIM ISIS DIBANTAH RUSIA, LEDAKAN DI MAGNITOGORSK AKIBAT KEBOCORAN GAS

Serangan ini sebagai tanggapan atas keputusan Presiden Idriss Deby dari Chad yang menormalkan hubungan dengan Israel.

“Serangan ini datang sebagai tanggapan terhadap arahan komando Al Qaeda, yang dipimpin oleh Syekh Ayman al-Zawahri, semoga Allah melindunginya, untuk menggagalkan skema normalisasi yang dijalin oleh bangsa Arab dan non-Arab kepada zionis,” demikian tanggapan dari media mujahidin AQIM atas operasi ini.

Misi pasukan PBB di Mali adalah untuk menghancurkan milisi-milisi Islam yang beroperasi di Negara itu, kontingen yang dibentuk sejak 2013 tersebut sekarang berjumlah 15.000 personil, salah satu kontingen PBB terbesar di dunia, di samping itu ikut bekerja sama, pasukan Mali, pasukan operasi militer luar negeri Prancis, dan kekuatan kontrateror regional lima negara yang baru-baru ini dibentuk.

Pasukan PBB di Mali

Pasukan penjaga perdamaian dari Chad, adalah kontributor terbanyak bagi upaya keamanan regional ini. Dan mereka yang paling banyak menderita dari serangan berulang di Mali. Pada akhir 2018, 51 penjaga perdamaian Chad tewas saat melayani misi PBB.

Pada 2012 Mujahidin sempat menguasai wilayah yang luas di Mali sebelum pasukan Prancis melakukan operasi militer besar-besaran untuk menyingkirkan mereka. Meskipun demikian, sampai sekarang, banyak wilayah teritorial di Mali yang di luar kontrol pemerintah maupun pasukan PBB, artinya mujahidin masih eksis di wilayah ini.

(RF)