duniaekspress.com, 29 Januari 2019. Dua pembom bunuh diri menghantam gereja Katedral Our “Lady of Mount Carmel” di Jolo, Sulu pada minggu pagi (27 Januari 2019). Pemboman ganda tersebut dengan cepat diklaim oleh daulah IS /ISIS, yang telah lama berupaya meneror tempat ibadah Kristen di Filipina.

ISIS menyebut sasaran tersebut sebagai “kuil Kristen,” mengatakan bahwa tempat itu dibom saat “pertemuan Tentara Salib untuk melakukan ritual syirik mereka.” Pembom bunuh diri pertama disebutkan “meledakkan sabuk peledaknya di gerbang,” sementara yang kedua meledakkan dirinya di atau dekat “garasi parkir.” media ISIS mengklaim bahwa “40 Tentara Salib,” termasuk 7 “penjaga keamanan” tewas, dan sekitar 80 lainnya terluka.
Laporan singkat media ISIS tentang serangan itu secara umum sesuai dengan pelaporan independen. Kolonel Gerry Besana, seorang juru bicara militer, mengatakan kedua pemboman itu terjadi pertama kali di dalam dan kemudian di luar gereja katedral. Yang kedua “meledak di tempat parkir terdekat ketika para jemaat panik dan bergegas keluar,” menurut The New York Times, yang merangkum pernyataan Besana.
Hitungan korban masih belum final, tetapi terus bertambah sepanjang hari, karena lusinan di antara orang yang mati berasal dari yang terluka.

Pernyataan media ISIS tentang bom gereja di Jolo

Direktur di Direktorat Jenderal Kepolisian Nasional Filipina masih menyelidiki identitas pelaku. Polisi juga sedang mneyelidiki dugaan kasus ini terkait dengan pemungutan suara yang baru selesai digelar di selatan untuk pembentukan otonomi Bangsamoro.

DEMI MENIKAH DENGAN AHOK BRIPDA PUPUT PINDAH AGAMA

Baru-baru ini penduduk di Moro selatan melakukan referendum yang setuju menginginkan otonomi yang lebih luas dan wilayah yang lebih luas. Di Mindanao dan kepulauan barat dayanya. Hasilnya adalah otonomi lebih luas dan sebenar-benarnya yang selama ini kurang memuaskan masyarakat yang mayoritas muslim tersebut. Jika disepakati, gerilyawan MILF juga bersedia untuk meletakkan senjata.

ISIS mengklaim bahwa pemboman hari ini dilakukan oleh “provinsi” mereka di Asia Timur, yang mencakup faksi-faksi Abu Sayyaf. ISIS /daesh telah mendorong para loyalisnya untuk menyerang gereja dan umat Kristen di seluruh dunia.

Alloh SWT sebenarnya melarang umat Islam menghancurkan atau membom gereja, dalam surat Al Hajj ayat 40:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,”

(AZ dari berbagai sumber)