Cabang Al-qaidah Afrika tingkatkan serangan pada penjajah dan Antek-anteknya di Mali

Duniaekspress.com. (4/2/2019). — Mali — Dalam beberapa hari terakhir, cabang al-Qaidah untuk Dukungan Islam dan Muslimin (JNIM), yang beroperasi di wilayah Afrika Barat dan Sahel, telah mengklaim beberapa serangan di Mali dan Burkina Faso. Dalam rentang waktu satu minggu, kelompok jihadis tersebut sudah mengklaim sebanyak tujuh serangan terhadap militer Mali, Burkinabe, serta kelompok-kelompok milisi lokal yang menjadi sasaran mereka.

Pada 21 Januari, JNIM mengklaim pasukannya telah menargetkan konvoy militer Mali yang diduga mengangkut milisi Dozo (pemburu tradisional) di dekat Toye di wilayah Segou. Media lokal melaporkan, setidaknya satu tentara Mali terbunuh, dan satu kendaraan diambil alih.

Ini bukan yang pertama kalinya JNIM mengklaim bahwa mereka menargetkan milisi Dozo, karena JNIM telah lama menduga bahwa pemerintah Mali lebih menyukai milisi Dozo daripada milsi Fulani di Mali Tengah.

Pada beberapa kesempatan, JNIM melakukan intervensi secara langsung kepada Fulani atas kekerasan komunal. Pada Juli 2018, PBB mendokumentasikan bahwa ada setidaknya lima kasus di mana JNIM ikut serta dalam beberapa bentrokan pada bulan itu. Hampir setahun sebelumnya, (tidak lama setelah didirikannya JNIM), mereka juga mengklaim telah mengambil peran dalam pertempuran antara milisi Fulani dan Bambara di Mali Tengah.

Mujahidin Al-qaidah cabang afrika

Selain itu, pada 21 Januari di Mali Tengah, kelompok jihadis tersebut juga menyatakan bahwa anggota mereka meledakkan ranjau darat pada konvoy militer Mali di dekat Kouakourou di wilayah Mopti Tengah. Dalam pernyataan yang sama, JNIM mengklaim telah meledakkan ranjau darat pada 22 Januari terhadap pasukan Burkinabe di dekat Djibo, yang berdekatan dengan perbatasan Burkina Faso dan Mali.

Dua hari kemudian, JNIM mengatakan bahwa anggota mereka menargetkan konvoy militer Mali di dekat Boni, Mali tengah. JNIM menargetkan konvoy tersebut dengan dua serangan IED secara terpisah pada 24 Januari. Kelompok jihad tersebut juga mengklaim telah melakukan penyerangan IED terhadap pasukan ‘penjaga perdamaian’ Sri Lanka di dekat Douentza di Mali Tengah pada 25 Januari. Setidaknya dua tentara Sri Lanka terbunuh dalam serangan tersebut.

Pada 27 Januari, JNIM juga menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan kompleks terhadap kantor polisi di Provinsi Yagha, Burkina Faso Timur.

Sementara pada 29 Januari, sebuah pangkalan militer Mali menjadi sasaran serangan kompleks di kota Tarkint di wilayah Gao, Mali Utara. Menurut media setempat, serangan tersebut menggunakan bom mobil. Serangan tersebut belum diklaim pada saat pernyataan tadi diterbitkan, tetapi kemungkinan besar serangan tersebut adalah perbuatan JNIM.

Serangan yang dilaporkan tersebut terjadi hanya sekitar seminggu setelah serangan serupa terjadi di pangkalan PBB di Aguelhok di wilayah Kidal Utara. Serangan tersebut kemudian dinyatakan oleh JNIM sebagai bagian dari pertempuran dengan Israel yang telah meluas.

JNIM mampu melanjutkan gelombang serangan mereka, dan bahkan memperluas jangkauan operasi mereka di Mali, karena serangan mereka sebagian besar telah bergeser ke daerah-daerah di pusat Mali. Pada saat yang sama, JNIM juga mempertahankan kemampuan mereka untuk menyerang wilayah utara negara tersebut.

Serangan di Burkina Faso, utamanya berpusat di wilayah utara dekat dengan perbatasan Mali. Serangan di wilayah tersebut juga telah meningkat secara eksponensial sejak akhir tahun 2016. Serangan tersebut juga telah diperbanyak oleh JNIM dan afiliasi lokalnya, Ansaroul Islam.

Pada saat yang sama, serangan para jihadis telah menyebar lebih jauh ke Burkina Faso Tenggara. Seperti yang dicatat oleh peneliti ACLED, Héni Nsaibia. Nsaibia mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut rata-rata disebabkan oleh dua kelompok jihadis (JNIM dan Ansaroul Islam), dan ISIS di wilayah Sahara.

Serangan-serangan tersebut menunjukkan bahwa JNIM dalam kondisi tangguh untuk menghadapi pasukan Mali, pasukan Burkinabe, misi kontraterorisme yang dipimpin Penjajah Perancis, pasukan ‘penjaga perdamaian’ PBB, dan pasukan dari G5 Sahel. (RR)

Sumber :  longwarjournal

 

Baca juga, SERANGAN TERKOORDINASI DI HOTEL NAIROBI OLEH SHABAAB TELAH BERAKHIR