Menakar kaidah Maslahat dalam jihad

oleh : Syaikh Abdullah Al-Muhaisini

Duniaekspress.com. (9/2/2019). Tulisan ini membahas beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh jama’ah-jama’ah jihad menurut Syaikh Dr. Abdullah al-Muhaisini.

Maslahat adalah salah satu landasan dalam menetapkan hukum syar’i. Tanpa terkecuali juga di medan-medan jihad. Tetapi fenomena yang ada saat ini menggugah Syaikh Abdullah al-Muhaisini untuk menyampaikan pendapat beliau, berkenaan dengan penerapan keputusan organisasi-organisasi jihad dengan alasan bahwa keputusan tersebut adalah ‘demi maslahat jihad’.

Syaikh Al-Muhaisini

Banyak dari organisasi-organisasi jihad yang salah dalam menerapkan bab ‘maslahat’. Sehingga banyak dari organisasi tersebut yang mendzalimi atau menaruh kecurigaan terhadap umat Islam itu sendiri, atas nama maslahat jihad. Ada juga beberapa organisasi yang mengambil pajak dari umat Islam atas nama maslahat jihad, atau memanfaatkan harta masyarakat umum untuk kepentingan kelompoknya sendiri, tetapi mereka mengatasnamakan maslahat jihad.

Sehingga jadilah nilai-nilai jihad sebagai bencana atau kerugian bagi para pemeluknya, maupun bagi para umat yang mengadopsinya. Sehingga orang-orang yang menerapkan nilai-nilai jihad itu menjadi terisolasi dari lingkungannya, atau bahkan nilai-nilai jihad itu sendiri akan padam. (Kesalahan seperti ini dapat menjauhkan suatu organisasi jihad dari umatnya sendiri, dan itu adalah kesalahan yang fatal -red).

Seandainya organisasi-organisasi jihad tersebut mau memperhatikan nilai-nilai jihad tersebut demi kepentingan jihad, maka apresiasi yang didapatkan juga akan sangat jauh berbeda…

Di antara dalil yang dapat dijadikan landasa untuk memperhatikan nilai-nilai jihad di masyarakat adalah hadits dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah melarang Umar bin Khatthab yang hendak memenggal kepala seorang munafik (Abdullah bin Ubay bin Salul), beliau bersabda:

لا يتحدث الناس أن محمدًا يقتل أصحابه

“Biarkanlah ia, sehingga orang-orang tidak mengatakan bahwa Muhammad ﷺ membunuh sahabatnya.”

 

Sumber : Telegram Syaikh Abdullah al-Mohaisini.

 

Baca juga, KEWAJIBAN DAKWAH DAN JIHAD KEWAJIBAN SIAPA?