Duniaekspress.com (13/2/2018)- Pihak Kepolisian dan pihak keluarga keluarga telah memastikan bahwa Muhammad Saifuddin, salah satu anggota ISIS asal Indonesia ini telah tewas di Suriah. Muhammad Saifuddin alias Abu Walid sebelumnya sempat muncul di video propaganda milik ISIS yang memperlihatkan eksekusi seorang sandera.

Muhammad Saifuddin, yang dikenal dengan berbagai alias, termasuk Abu Walid, tewas oleh pecahan peluru dari tank pada akhir Januari di provinsi Deir ez-Zor timur, kata juru bicara kepolisian nasional Dedi Prasetyo dalam sebuah pesan teks.

Prasetyo menggambarkannya Abu Walid sebagai “algojo dan prajurit” ISIS.

Baca Juga:

ISIS BERKEMBANG MENJADI JARINGAN RAHASIA

WANITA JERMAN INI INGIN BALIK KE NEGARANYA SETELAH MASUK ISIS PADA UMUR 15 TAHUN

Muinudinillah Basri, saudara laki-laki Saifuddin, melalui sambungan telepon, mengatakan dia mengetahui kematian saudaranya setelah menerima foto tubuhnya.

Dia belum melihat saudaranya sejak dia pergi ke Suriah bersama istri dan anak-anaknya, katanya.

Pemerintah AS telah menempatkan Saifuddin, bersama dua gerilyawan dari Malaysia dan Filipina, pada daftar khusus anti-terorisme global Agustus lalu.

Menurut situs web Departemen Keuangan AS, Saifuddin, juga dikenal sebagai Mohammed Karim Yusop Faiz, telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada tahun 2014 dan ikut serta dalam eksekusi seorang tahanan pada Juni 2016. Dia sebelumnya telah dipenjara di Filipina selama sembilan tahun dengan tuduhan memiliki bahan peledak dan senjata ilegal, katanya.

Sementara itu Sofyan Tsauri, mantan militan Indonesia, mengatakan Saifuddin adalah “tokoh penting” di Daesh yang mewakili kontingen Asia Tenggara dan telah dekat dengan pemimpin kelompok itu Abu Bakar al-Baghdadi.

Akhir pekan lalu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS memulai serangan yang berusaha untuk menghapus sisa-sisa terakhir dari “kekhalifahan” kelompok militan di wilayah operasi SDF di Suriah timur dan utara. Daerah kantong dekat dengan perbatasan Irak dan terdiri dari dua desa. Daesh masih mempertahankan wilayah di bagian Suriah yang sebagian besar di bawah kendali pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran.

Sumber: MEMO